Contact Us

Contact Us

Desma Yulia
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Perbedaan kemampuan siswa yang diajar menggunakana media interaktif dengan siswa yang mendapat pembelajaran dengan tanpa media interaktif terhadap hasil belajar sejarah; (2) perbedaan hasil belajar siswa dengan motivasi tinggi yang diajar dengan menggunakan media interaktif dan media noninteraktif; (3) perbedaan hasil belajar siswa dengan motivasi rendah yang diajar dengan menggunakan media interaktif dan noninteraktif; (4) Interaksi antara media pembelajaran dengan motivasi belajar sejarahsiswa pada materi pokok Perkembangan Negara-Negara Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia siswa SMA Negeri I Gunung Talang Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa IPS kelas XI SMA Negeri I Gunung Talang. Pengambilan sampel dilakukan dengan model random kelompok, dan didapatkan kelas XI IPS III sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 1 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes untuk variabel hasil belajar sejarah dan angket motivasi untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa. Teknik analisis data menggunakan anova dua arah. Berdasarkan hasil analisis data di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan media interaktif efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Sejarah.
Kata kunci: media interaktif, motivasi, hasil belajar, sejarah.
PENDAHULUAN
Perkembangan dunia pendidikan secara langsung maupun tidak langsung saat ini dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akhir-akhir ini telah bermunculan berbagai produk teknologi yang dapat dipergunakan dalam dunia pendidikan untuk memberikan peluang kepada para pendidik dan praktisi pendidikan untuk berusaha meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan proses belajar mengajar serta penemuan metode yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Guru merupakan ujung tombak dan titik sentral untuk mewujudkan kemajuan pendidikan di sekolah. Betapapun baik dan lengkapnya kurikulum, metoda, media atau sumber belajar, sarana dan prasarana lainnya tanpa adanya guru profesional mustahil tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah adalah sejarah. Mata pelajaran sejarah menuntut siswa untuk mampu menguasai konsep dan mampu untuk menganalisisnya. Oleh karena itu, diperlukan media untuk mempermudah siswa menguasai materi pelajaran dengan tujuan menimbulkan minat, motivasi, kreativitas, meningkatkan aktivitas siswa, dan membuat pembelajaran menjadi bermakna yang akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa.
Agar pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemilihan media pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan kemampuan siswa. Menurut Arsyad (2002: 20) “pemakaian media pembelajaran dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan minat yang baru, membangkitkan motivasi/rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik”. Dengan menggunakan media guru dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian siswa sehingga menimbulkan motivasi, dan dapat mengatasi keterbatasan indra, ruang dan waktu, serta dapat memberikan keseragaman pengamatan dan persepsi, juga dapat dijadikan sebagai pengontrol arah dan kecepatan belajar. Di sinilah letak pentingnya media sebagai perantara atau saluran yang membawa informasi atau materi dari sumber belajar pada penerima. Jika media atau saluran itu baik dan tepat sesuai dengan muatan yang dibawa, maka informasi akan diterima baik oleh siswa. Demikian sebaliknya, jika media tidak tepat akan mengalami gangguan, maka informasi yang akan disampaikan tidak dapat diterima dengan baik oleh siswa. Jadi penggunaan media sangat penting dalam proses pembelajaran.
Sesuai dengan kurikulum SMA kelas XI, materi sejarah pada semester I, terdapat beberapa standar kompetensi yang dirasa sulit bagi siswa dan tingkat ketuntasan yang dicapai siswa rata-rata masih dibawah KKM yaitu “Menganalisis Perjalanan Bangsa Indonesia Pada Masa Negara-Negara Tradisional”. Pada Standar Kompetensi ini dibahas mengenai Perkembangan Kehidupan Negara Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Disini siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep-konsepnya. Oleh karena itu, peneliti mencarikan solusi untuk mengatasi permasalahan siswa dengan merancang media yang dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Siswa tersebut juga bisa mengulang-ulang kembali pelajaran di rumah dengan mengerjakan latihan-latihan yang disiapkan dalam media interaktif.
Program pembelajaran media interaktif merupakan paket program yang memberikan informasi atau materi tentang pengenalan, penggunaan, serta penerapan pembelajaran software atau perangkat lunak tertentu menggabungkan unsur audio visual, yang disertai menu-menu pilihan tentang isi materi yang disajikan sehingga menawarkan keunggulan dalam pemanfaatan bidang pembelajaran khususnya mata pelajaran sejarah yang saat ini dirasakan sangat dibutuhkan keberadaannya dalam membantu memperkaya pengetahuan siswa dan mengatasi permasalahan sumber daya manusia pengajar di sekolah.
Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan membentuk arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar. Di sekolah ada juga siswa yang bermotivasi tinggi seperti belajar dengan penuh hati-hati, memiliki kemauan yang tinggi, mengerjakan tugas dengan baik, dan siswa yang bermotivasi rendah seperti siswa malas, tidak menyenangkan, suka membolos, jenuh, tidak respek dan lain-lain. Dalam hal demikian berarti siswa kurang termotivasi dalam belajar.
Pheres Sunu Widjayengrono
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam
This article attempt to show importance of a theoreticalframework. Surakarta’skingdomdownfall phenomenaand strategic group concept is usedas case study.It applies history method with comparative analysis,political, and descriptive approach. Complexity of political phenomena is determined by temporary and situational purpose which aproriates to individual or strategic group interest.It could be made a point to explain inconsistence and unapproriate of political attitude and behavior in a case of political group in Surakarta’s kingdom downfall. Nevertheles,application of strategic group concept for political history could interpret all political phenomenaas impact of flexibility and elasticity of strategic groups. This concept facilitates researchers or readers to achieve historicalobjective and prevent superficially politicgeneralization.
Keywords: strategic group, kingdom, Surakarta, independence period
PENDAHULUAN
Pemahaman kerangka teoritis pada suatu penelitian sejarah tidak terlepas dari penggunaan suatu teori sebagai kerangka pikir dan analisa guna membedah fenomena di dalamnya.Hal ini bermaksud agar suatu kerangka teoritis dapat menjadi panduan atau rambu agar dan pemikiran yang dicurahkan dalam suatu penelitian sejarah politik memiliki tujuan yang jelas dan terarah, serta tidak menyimpang dan melebar ke dalam ranah abstrak dan tidak jelas. Tulisan ini bermaksud untuk menyampaikan pentingnya pemahaman kerangka teoritissertamemberi sumbangan ide guna merefleksikan kerangka teoritis dalam penelitian dan fenomena kesejarahan bagi mahasiswa sejarah atau pembaca pemula.Pemilihan topik politik dikarenakan oleh besarnya minat pembaca terhadap fenomena perpolitikan baik dalam kerangka akademis maupun praktis.Perbedaan di antara keduanya cukup besar, dan artikel ini sendiri berada di dalambidang sejarah politik dalam sudut pandang akademis.Hal ini tentunya memiliki konsekuensi bahwa pemilihan topik sejarah politik disesuaikan dengan kerangka metodologis dan teoritis terkait ilmu politik, meskipun dalam banyak hal bidang perpolitikan itu sendiri tidak terlepas dari fenomena lainnya seperti sosial, ekonomi, dan budaya.
Kasus yang diangkat dalam makalah ini ialah dinamika sosio politik berkenaan dengan keruntuhan kerajaan tradisional Surakarta di tahun 1946 atau sering disebut sebagai masa kemerdekaan atau revolusi fisik.Kegaduhan politik di masa ini juga diiringi dengan revolusi sosial yang menghancurkan dan membongkar sistem birokrasi tradisional dalam posisi kontra progresif.Semangat nasionalisme, dengan ideologi komunisme dan sosialisme yang populer di kalangan rakyat di masa tersebut, memberi harapan akan terbentuknya tatanan dunia baru. Hal ini pula yang mendorong kejatuhan kerajaan tradisional Surakarta di tengah arus nasionalisme karena Surakarta di masa tersebut Surakarta digunakan sebagai pusat pemerintahan PM(Perdana Menteri) Sutan Syahrir dan tempat dimana komunisme dari berbagai aliran berkompetisiseiring kepentingan politik parlemen dan perebutan sumber dukungan rakyat.[1]
Berdasarkan tema tersebut tulisan ini sendiri hanya merupakan suatu refleksi dimana peninjauan politik dalam sejarah Indonesia harus dilihat secermat mungkin guna menghindari kesalahan interpretasi ataupun ‘pemihakan’ yang tak seharusnya, sebagaimana umum terjadi di kalangan pembaca dan sejarawan jika mengkaji periode ini.Penggunaan suatu kerangka teori akan sangat berpengaruh terhadap analisa dan pemahaman historis berkenaan dengan tema politik, dan makalah ini akan mencoba menggunakan suatu kerangka teori dalam memandang revolusi sosial di Surakarta dari sudut pandang berbeda. Guna mempermudah penelaahan dan analisa data, instrumen penelitian dalam makalah ini didasarkan atas metode penelitian historis melalui pendekatan sosial politik.
KELOMPOK STRATEGIS SEBAGAI KONSEP ALTERNATIF SEJARAH SOSIO POLITIK INDONESIAPADA PERIODE KEMERDEKAAN
Pemahaman atas keruntuhan kerajaan tradisional,umumnya senantiasa dikaitkan dengan konsep revolusi sosial yang diartikan sebagai perubahan radikal dan cepat atas suatu tatanan sosial dari lama menuju baru.Suasana egalitarian dan semangat nasionalisme dalam sumber dan referensi berkenaan dengan masa kemerdekaan justru seringkali membawa pembaca larut dan terpengaruhalur teks.Padahal, teks yang diberikan juga merupakan produk subyektif terutama berkenaan dengan kerangka dan hasil analisis.Seringkali kondisi ini membawa pembaca yang tidak jeliturut larut dan mengamini kerangka pikir yang ditawarkan.
Akan tetapi jika dikaji lebih lanjut, suatu fenomena politik terkait revolusi sosial memiliki cita rasa berbeda jika dipandang dalam analisa kelompok politik dan justru memperlihatkan sifat tumpang tindih.Sebagaimana umum dikenal,revolusi sosial seringkali ditinjau sebagai sebuah perwujudan konflik kelas antara penguasa dan rakyat.Bagi pemahaman sejarah politik Indonesia kontemporer,konseptualisasi ini membawa konsekuensi pengabaian kelas menengah yang justru di masa pendudukan Jepang merupakan kelas paling berpengaruh serta memiliki mobilitas sosial tertinggi.Kelas menengah merupakan roh penggerak revolusi nasional Indonesia.Pengabaian atas kelas menengah di masa kemerdekaan berarti memunculkanpembatasan pemahaman sejarah sosio politik Indonesia.
Di dalam analisa kelompok politik juga dapat menunjukan sisi lain dari jalannya ‘alur besar’ revolusi sosial atau fenomena politik lainnya. Pada hakikatnya kompetisi politik diidentikkan dengan kompetisi kekuasaan baik secara kelompok maupun individu dengan berbagai macam alasan dan tujuan.[2]Seringkali tujuan-tujuan tersebut bersifat individual dan sangat bergantung atas kemampuan individu dalam melebur ke dalam kelompok-kelompok politik dalam ikatan longgar.Suatu kelompok politik tidak terbukti memiliki pola statis sehingga dapat menggambarkan realitas sesungguhnya dari dinamika politik yang terjadi.Tentunya hal ini membutuhkan kejelian guna melihat secara diakronis pengelompokan dan individu politik yang terlibat.[3]
Guna memudahkan analisa tersebut maka makalah ini menawarkan konsep kelompok strategis.Kelompok strategis adalah sebuah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang terikat oleh suatu kepentingan, yakni melindungi atau memperluas hasil yang diambil alih bersama. Hal-hal yang berkenaan dengan perluasan dan pengambilalihan akses tidak hanya berbentuk harta benda tetapi juga berupa kekuasaan, prestise, ilmu pengetahuan dan tujuan keagamaan.[4]Kelompok strategis terbentuk secara khas di daerah terbuka dimana terdapat kesempatan guna perolehan baru. Hal ini dapat terjadi dengan dimasukkannya ideologi baru, teknologi modern, model legitimasi teologis, dll. Konsep tersebut dapat dibedakan menurut metode okupasinyabaik secara individual, kolektif atau kooperatif sehingga mereka giat secara politis dan menggalakkan perbaikan dan perubahan sistem politik yang berlaku.
Yarsi Efendi
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau Kepulauan
Mangrove forest in the township of mangrove charcoal Kampung Bagan, Tanjung Piayu Batam, on the condition quantity and quality degradation . The existence of these ecosystems are increasingly threatened by the presence of a variety of human activities especially trees cutting to be burn to made charcoal .
The purpose of this study to aim the level of destruction of mangrove ecosystems based on standard criteria and guidelines for the determination of damage to mangroves on the terms of the Decree of the Minister of Environment of the Republic of Indonesia No. . 201/ 2004 .
Field survey methods used to identify mangrove vegetation with using transects technique with a square plot , placed on 2 station. Station 1 Sungai Bongkok dan Station2 Teraling Island. We also use questioner to get some information from this communities. Selected respomden are consisting of persons who’s activities on mangrove charcoal conventional industry . Data analysis was performed using the method of vegetation analysis ( density , dominance , frequency , and the index of Important value ) .
Composition of vegetation formations in the study site consists of several species , namely: Avicennia marina , Rhizophora stylosa , Rhizophora apiculata , Avicennia officinalis , Lumnitzera littorea , Ceriops decandra , Bruguera gymnorrhioza , Xylocarpus granatum and Hibiscus tiliaceus . The higher of Indeks Important Value is Rhizophora apiculata on every growth level. Density of trees per hectare in the study site consisting of two stations are 107 trees per hectare in Sungai Bongkok station , and 540 trees in Teraling Island.
Keywords : Mangrove forest , level of damage , the composition and structure of vegetation, degradation
PENDAHULUAN
Perkampungan pesisir Kampung Bagan yang termasuk kedalam kelurahan Tanjung Piayu Kecamatan Sungai Beduk Kota Batam, merupakan salah satu daerah yang ditetapkan sebagai kampung tua di Kota Batam. Berdasarkan Surat keputusan Walikota Batam, Nomor 105/HK/IV/2004 Dan dari beberapa sumber dikatakan bahwa Kampung Bagan merupakan perkampungan nelayan (perkampungan suku melayu) paling tua di Kota Batam, dimana umumnya masyarakat adalah nelayan yang menggantungkan mata pencaharian dari hasil biota laut, seperti ikan, kepiting, udang, dan lain-lain. Namun sebagian masyarakat ada yang berprofesi sebagai pengrajin arang bakau. (arang karbon yang bahan bakunya dari batang kayu beberapa jenis kayu bakau/ Rhizophora spp).
Industri arang bakau ini tumbuh dan berkembang dengan pesat karena tingginya permintaan terhadap komoditi ini oleh Negara tetangga Singapura dan Malaysia, yang secara geografis berdekatan dengan wilayah kota Batam.
Pesatnya pertumbuhan dan perkemban gan industri konvensional arang bakau di Kampung Bagan di dukung oleh ketersediaan bahan baku (kayu bakau) yang cukup banyak. Karena wilayah ini merupakan habitat alami dari beberapa jenis kayu bakau potensial untuk dijadikan arang karbon, beberapa jenis tersebut antara lain Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Bruguera gymnorrhiza, dan jenis kayu bakau lainnya.
Tegakan jenis-jenis kayu bakau ini merupakan spesies dominan di kampung Bagan, tersebar dari zona terluar muka laut sampai ke zona daratan. Dan merupakan daerah penyangga ekosistem pesisir Kampung Bagan dan sekitarnya.
Seiring dengan pesatnya aktivitas dapur arang yang mengeksploitasi kayu bakau dari ekosistem mangrove di daerah ini, memberikan implikasi terhadap menurunnya kualitas dan kuantitas tegakan vegetasi mangrove di Kampung Bagan dan sekitarnya. Tegakan mangrove yang dahulunya rapat saat ini sudah terlihat jarang, dan banyak ruang terbuka pada lantai tegakan hutan.
Kondisi yang sama terlihat di setiap perkampungan dapur arang yang lainnya di Kota Batam. Dimana di beberapa wilayah perkampungan arang bakau seperti Rempang Cate, Dapur 6, Dapur 12 dan daerah lainnya.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan kondisi vegetasi berdasarkan tingkat kerusakan yang mengacu kepada Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik yang tertuang dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 201 Tahun 2004 Tanggal : 13 Oktober 2004.
Nurhaty Purnama Sari
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam
A descriptive research that aims to describe: (1) the level of teacher questions based on gender and teaching experience; (2) students’ response to the level of teacher question; (3) teacher’s ability to apply basic and advance questioning skills based on gender and teaching experience has been implemented in Junior High School. About 20 science teachers who teach in 8th grade of Junior High School come from 9 schools have been involved this study. Data were collected through observation and questionnary. The results showed that Junior High School science teacher mostly used low-level cognitive questions (85,8%). A few of other used high-level cognitive questions (14,2%). There was no difference even gender and teaching experience. In level questions, teacher mostly asked about structure (42,80%) and organ (34,20%). A few of other asked about mechanism (18,40%) and desease (18,40%) in circulatory system chapter. Mostly students’ response to the level of teacher questions were simultaneous (93.88%), with scientific answer was very low category (39,80%). In basic skills components, teacher mostly used spread with very low category (10%). In advanced questioning skills components have changed the level of cognitive demand (35%), usage tracking questions with various techniques (15%), and improving the interaction (50%) were very low category. There were no differences basic and advanced asking skills even gender and teaching experience.
Keywords: Science teacher, questioning, skills
1. Pendahuluan
Mustikasari (2008:5) di SMA Negeri Kota Pontianak kelas X menemukan bahwa sebagian besar guru sudah menyusun persiapan pertanyaan yang ditulis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tetapi jenis pertanyaan masih dalam tingkat rendah. Jenis pertanyaan yang disusun oleh guru mata pelajaran Biologi Kelas X di SMA Negeri Kota Pontianak masih digolongkan tingkat rendah didasarkan atas taksonomi Bloom dan teknik bertanya guru mata pelajaran Biologi Kelas X di SMA Negeri Kota Pontianak masih belum benar. Pertanyaan memiliki peranan penting untuk menjalin komunikasi guru dengan murid. Dengan bertanya guru mampu menganalisa seberapa jauh siswa memahami materi yang disampaikan oleh guru. Cunningham (1971:88) menyatakan bahwa pertanyaan guru adalah variabel yang sangat berperan dapat mempengaruhi perolehan pembelajar. Berhasil tidaknya guru memfungsikan pertanyaan dalam proses belajar mengajar akan sangat tergantung pada kualitas keterampilan bertanya. Samwali (2008:20) menyatakan bahwa keterampilan bertanya diperlukan dalam rangka mengumpulkan, menggali, menginformasikan, dan menyimpulkan informasi bagi kepentingan tertentu yang biasanya sudah direncanakan. Penelitian Keterampilan Bertanya Guru IPA SMP Negeri Kabupaten Deliserdang ini bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat pertanyaan dan guru IPA dalam tingkatan Taksonomi Bloom yang disampaikan secara lisan melalui proses pembelajaran mengenai pokok bahasan Sistem Peredaran Darah Manusia yang dikaitkan dengan jenis kelamin dan pengalaman mengajar guru; (2) respon siswa terhadap tingkat pertanyaan di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Deliserdang Tahun Pelajaran 2010/2011; dan (3) mengetahui penggunaan komponen keterampilan bertanya guru IPA pada pokok bahasan Sistem Peredaran Darah saat kegiatan belajar mengajar berlangsung yang dikaitkan dengan jenis kelamin dan pengalaman mengajar guru di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Deliserdang Tahun Pelajaran 2010/2011.
2. Tinjauan Teoritis
Pertanyaan sudah ada sejak jaman Socrates (abad ke-5 sebelum Masehi). Rahman (2010:10-19) menyimpulkan bahwa pemberian pertanyaan dalam pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Guru hendaknya dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan tajam yang mengarahkan siswa dapat memahami konsep. Hal ini dapat berdampak pada tingginya penguasaan konsep pada siswa. Guru harus banyak membuat pertanyaan yang progresif yang dapat dibuat melalui tingkatan-tingkatan taksonomi Bloom, agar guru juga dapat mengevaluasi seberapa efektif kegiatan belajar mengajar di kelas dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Pertanyaan, taksonomi Bloom dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengklasifikasikan pertanyaan. Taksonomi Bloom yang terdiri dari pertanyaan kognisi tingkat rendah (mengingat dan memahami) dan tingkat tinggi (aplikasi, menganalisis, evaluasi, dan kreasi) merupakan salah satu cara yang dipakai dalam merumuskan tujuan pengajaran (Forehand, 2005:03). Taksonomi ini dapat juga diterapkan untuk mengklasifikasikan pertanyaan yang diajukan guru di kelas.
Dalam memberikan pertanyaan kepada siswa juga diperlukan keterampilan yaitu keterampilan bertanya. Allen et al (1969:72) berpendapat bahwa sebelum dapat memanfaatkan pertanyaan untuk merangsang siswa belajar, seorang guru perlu memiliki kelancaran dalam bertanya (fluency in asking questions). Baru setelah itu dia dapat meningkatkan keterampilan bertanyanya untuk menggali dan melacak, mengajukan pertanyaan tingkat tinggi, dan pertanyaan divergen. Samwali (2008:20) menyatakan bahwa keterampilan bertanya diperlukan dalam rangka mengumpulkan, menggali, menginformasikan, dan menyimpulkan informasi bagi kepentingan tertentu yang biasanya sudah direncanakan.
Turney (1981) menyatakan ada 8 unsur yang perlu diperhatikan dan 4 unsur dalam cara guru bertanya. Delapan unsur tersebut yaitu: (1) pengungkapan secara jelas dan singkat, (2) pemberian acuan; (3) pemusatan; (4) pemberian waktu berpikir; (5) pemindahan giliran; (6) penyebaran; (7) kehangatan dan keantusiasan; dan (8) pemberian tuntunan. Sedangkan 4 unsur yang perlu dihindari adalah: (1) mengulang pertanyaan; (2) mengulang jawaban siswa; (3) menjawab pertanyaan sendiri; dan (4) mengundang jawaban serentak.
Rahmi
Dosen Tetap Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam
Penelitian yang menggunakan metode Quasi Eksperimen ini bertujuan untuk perbedaan kemampuan berpikir kritis mahasiswa padapokok bahasan dinamika populasi pada hewan antara kelas PBL (Problem Based Learning) dengan kelas konvensional, dan mengatahui deskripsi indikator dari kemampuan berpikir kritis mahasiswa padapokok bahasan dinamika populasi pada hewan di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMB. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi semester VI pada tahun akademik 2011/2012. Penguasaan kemampuan berpikir kritis diukur dengan menggunakan tes uraian materi dinamika populasi pada hewan sebanyak lima soal, masing-masing mengukur ketercapaian lima indikator kemampuan berpikir kritis.Analisis data menggunaka uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas PBL berbeda signifikan pada kemampuan berpikir kritis di bandingkan dengan kelas konvensional dan menggunakan uji-t juga penelitian menunjukkan bahwa dari lima indikator kemampuan berpikir kritis pada indikator melakukan deduksi dan induksi dan melakukan evaluasi tersebut berbeda signifikan dibandingkan dengan indikator yang lain. Kemampuan berpikir kritis yang berbeda signifikan pemilikannya pada mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model PBL adalah kemampuan melakukan deduksi dan induksi, serta melakukan evaluasi.Model pembelajaran PBLlebih cocok digunakan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa dan model PBL juga cocok digunakan pada matakuliah yang mempunyai karakteristik yang sama denganpokok bahasan dinamika populasi pada hewan.
Kata kunci : PBLdan Kritis
Kemampuan belajar, berpikir kreatif, membuat keputusan, dan memecahkan masalah akan banyak dibutuhkan dalam mencari pekerjaan. Permasalahan yang timbul adalah pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal.Termasuk mata pelajaran biologi. Disisi lain adanya banyak fakta bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa rendah(Salpeter dalam Anggraeni, 2006).
Menurut Henik (dalam Suryadi, 2011) mengatakan guru selama ini lebih banyak memberikan ceramah dan latihan mengerjakan soal-soal dengan cepat tanpa memahami konsep secara mendalam. Hal ini menyebabkan siswa kurang terlatih untuk mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang dapat berkembang dengan baik.
Faktor – faktor yang diprediksi mempengaruhi rendahnya prestasi siswa adalah : bahan ajar, media pembelajaran, kemampuan siswa, semangat dan motivasi siswa, kemampuan guru, dan strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. (Sardjono, dalam Hermelly, 2011)
Studi pendahuluan dilakukan terhadap mata kuliah ekologi hewan menunjukan bahwa nilai rata-rata pada tahun 2011-2012 dari seluruhmahasiswa diperoleh nilai 6,53. Hal ini perlu ditingkatkan menjadi sebaliknya, Adapun faktor yang diduga menjadi penyebabnya adalah 1) pembelajaran lebih ditekankan pada pengumpulan pengetahuan tanpamempertimbangkan keterampilan proses dan pembentukan sikap dalam pembelajaran, 2) kurangnya kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan bernalarnya melalui diskusi kelompok, 3) Sasaran belajar ditentukan oleh dosen sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi mahasiswa (Hasil Evaluasi Semester Ekologi Hewan, 2011/2012).
Penelitian ini bertujuan untuk membedakankemampuan berpikir kritis mahasiswa yang memperoleh pembelajaran antara PBL dengan kelas konvensionalpada pokok bahasan dinamika populasi pada hewan.Selain itu juga membedakan penguasaan indikator kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara PBL dengan konvensional.
Ramses
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Biologi UNRIKA Batam
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antagonism bakteri Bacillus sp dan Pseudomonas sp terhadap Vibrio Parahaemolyticus secara in vitro. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Uji antagonism dilakukan dengan dua metode yaitu uji gores silang (streaking method) dan uji dalam mikrokosom.
Bakteri Bacillus sp dan Pseudomonas sp diisolasi dari produk Super NB (produksi Marindo Lab, Surabaya) sedangkan Vibrio Parahaemolyticus diperoleh dalam bentuk isolate murni yang didatangkan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara yang diisolasi dari udang windu yang terserang penyakit vibriosis. Perlakuan yang diberikan dalam mikrokosom adalah Bacillus sp (kontrol), sedangkan konsentrasi awal V. Parahaemolyticus pada masing-masing perlakuan adalah 104 sel/ml. hal yang sama juga dilakukan pada Pseudomonas sp.
Hasil uji antagonis Bacillus sp dan Pseudomonas sp pada gores silang tidak memberikan hambatan yang berarti terhadap pertumbuhan V. Parahaemolyticus (tidak terlihat zona hambat yang jelas). Pada antagonism dalam mikrokosom Bacillus sp dan Pseudomonas sp mampu menghambat V. Parahaemolyticus secara nyata. Dari hasil uji signifikan (uji-t) semua perlakuan pada antagonism Bacillus sp dan Pseudomonas sp terhadap V. Parahaemolyticus menunjukkan hasil yang berbeda nyata dengan control. Pada penelitian ini perlakuan Bacillus sp dan Pseudomonas sp 106 sel/ml memberikan daya hambat paling besar terhadap V.parahaemolyticus (berbeda sangat nyata dengan Bacillus sp dan Pseudomonas sp 102 dan 104 sel/ml) pada tingkat kepercayaan 99% (? = 0,01).
Kata kunci: Antagonisme, Bakteri, Patogen, Mikrokosom
1. Pendahuluan
Penyakit vibriosis pada udang sering menyebabkan mortalitas massal dan kegagalan panen pada pertambangan udang di Indonesia dan negara penghasil udang lainya.
Penyakit vibriosis yang sering menyerang udang pada stadia larva, pasca larva dan udang muda disebabkan oleh beberapa spesies bakteri Vibrio antara lain: Vibrio parahaemolyticus, V. alginolyticus V. angguillaru, V. vulnivicus dan V. flupialis (LIGHTNER, 1988). Bakteri Vibrio Parahaemolyticus adalah bakteri gram negative yang dikenal sebagai penyakit yang sangat akut dan ganas. Bakteri Vibrio Parahaemolyticus merupakan bakteri laut asli yang dapat diisolasi dari biota laut, rumput laut, air laut dan air payau.
Penerapan teknologi dalam upaya penanggulangan penyakit bacterial telah banyak dilakukan, mulai dari pencegahan sampai tindakan pengobatan dengan menggunakan berbagai antibiotic. Kebiasaan menggunakan antibiotic ini menimbulkan dampak negative, tidak hanya mengakibatkan bakteri pathogen menjadi resisten, tetapi juga berdampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Pengendalian secara biologis merupakan teknik alternative untuk mengendalikan serangan penyakit bakteri pada udang. Penggunaan bakteri seperti super NB sebagai pengendalian secara biologis dalam budidaya udang. Seperti yang telah banyak digunakan pada tambak-tambak pembesaran dengan fungsi lain menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan, dan mengurangi resiko timbulnya penyakit. Disamping itu bakteri Bacillus sp dan Pseudomonas sp sebagai bakteri yang mempunyai kemampuan untuk menghambat dan memproduksi antibiotik terhadap Vibrio cholera. Adanya sifat antagonisme dari suatu bakteri terhadap bakteri lain dapat dikembangkan menjadi suatu teknologi di dalam penganggulangan penyakit vibriosis pada udang. Dalam penelitian ini, peneliti coba menguji kemampuan Bacillus sp dan Pseudomonas sp menghambat bakteri pathogen khususnya Vibrio Parahaemolyticus secara in vitro.
Untuk mengetahui adanya respon antagonisme bakteri Bacillus sp dan Pseudomonas sp terhadap bakteri patogen Vibrio Parahaemolyticus secara in vitro.
Hipotesis
Untuk menduga adanya respon antagonisme pada penelitian ini dinyatakan dengan adanya penekanan pertumbuhan Vibrio Parahaemolyticus pada biakan campuran yang diinokulasikan bakteri penghambat (Bacillus sp dan Pseudomonas sp) dibanding dengan control yang dinyatakan dengan hipotesis: tidak adanya efek antagonisme dengan pemanbahan bakteri Bacillus sp dan Pseudomonas sp pada konsentrasi 102, 104 dan 106 sel/ml terhadap Vibrio parahaemolyticus.
You must be logged in to post a comment.