Contact Us

Contact Us

Tamama Rofiqah
Dosen Tetap Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Riau Kepulauan Batam
Problems of students at the school increasingly complex problems with the rapid development of world education. This requires counselor in the school have the skills and abilities in performing services Guidance and Counseling for students in schools. Ability and skill is evident from the competency of counselor. Thus, to achieve the necessary development and improvement of their competence. This study were aims at: (1) current counselor competence, (2) development efforts undertaken with respect to the principal counselor competence, (3) differences in counselor competence based accreditation of schools and (4) differences in counselor competence based on the length of service.This research used descriptive approach. The population of this research was the counselor in Senior High School at Rejang Lebong, amounting to 16 people. All counselor as sample. The instrument that had been used was close quesstionnaire by Likert scale model. Percentage technique was used to analized the first. Narative technique was used to analyzed the second research intended. t-test technique was used to analyzed the third and fourth research intended.The results of research are: (1) the general competence of counselor is currently quite good, (2) construction effort undertaken is of a general nature intended for all teachers in schools, (3) there are differences in counselor competence on school accreditation, although not significant, and (4) there are differences in counselor competence based on length of service, although not significantly. Given the results of this study are expected to carry out the duties counselor professionalism in schools refers to a predetermined standard of competence and to increase the principal’s role in the provision of services on Guidance and Counseling in school.
Key Word : Competence, Counselor
PENDAHULUAN
Kondisi perubahan sosial yang amat cepat dan makin kompleksnya keadaan masyarakat di era globalisasi dewasa ini, telah mengubah kondisi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan aspek psikologis manusia. Dampak tersebut sudah pula menembus dunia pendidikan, meliputi segala unsur didalamnya, yakni siswa, guru, manajemen dan masyarakat terkait. Kompleksitas yang diakibatkan oleh perubahan tersebut membawa berbagai implikasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Orang mengharapkan pendidikan kita hendaknya dapat memberikan sesuatu yang sempurna. Berbagai tuntutan kualifikasi personel sekolah, termasuk guru Bimbingan Konseling (selanjutnya disingkat BK) sebagai suatu profesi harus dipenuhi dalam upaya membekali siswa agar mencapai perkembangan diri yang optimal.
Sentral pengembangan BK, secara spesifik difokuskan kepada kompetensi guru BK dalam menampilkan kinerja tertinggi yang ditujukan kepada sasaran pelayanan. Kompetensi guru BK tersebut dikembangkan dengan mengacu pada pandangan hakikat manusia. Keterandalan guru BK dalam menampilkan kinerja dapat menumbuhkan kepercayaan publik maupun akuntabilitas, sehingga profesi ini semakin diakui dan dimanfaatkan keberadaannya. Kompetensi itu perlu dibakukan, dicapai sesuai harapan tiap guru BK di sekolah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab IV pasal 28 ayat 3, menyatakan bahwa kompetensi guru sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Pernyataan di atas, dipertegas dalam Undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat 1 yang menyebutkan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.
Oleh karena itu, guru BK seperti juga guru pada umumnya dituntut untuk memiliki keempat kompetensi seperti tersebut di atas, karena untuk mencapai pelayanan yang bermutu dalam mengembangkan siswa secara optimal, dibutuhkan guru BK yang berkompeten dalam memberikan pelayanan melalui kinerja yang berkualitas.
Pada kenyataannya di sekolah, berdasarkan hasil observasi pada bulan Maret-Juni 2012 masih ditemukannya guru BK yang belum optimal dalam menunjukkan kinerjanya. Hal ini ditandai dengan perbandingan rasio guru BK dengan siswa yang belum ideal, masih adanya guru BK yang bingung terhadap kegiatan pelayanan yang harus diberikan setiap minggunya, memberikan pelayanan tanpa program kerja yang jelas dan tanpa assessment.Selain itu, guru BK juga kesulitan dalam membuat satuan layanan, masih adanya guru BK yang mengajar mata pelajaran tertentu, menjaga meja piket, mengecek absen siswa, mengikuti razia sekolah, menghukum siswa yang terlambat, kurang ramah terhadap siswa, tidak menampilkan sosok pendidik yang berwibawa, kurang mampu menjalin kerjasama dengan guru lain dan mengkredit-poinkan kesalahan siswa. Di samping itu, dukungan dari pihak sekolah terutama kepala sekolah juga masih kurang.
Keadaan di atas tentunya tidak dapat dibiarkan terus menerus terjadi di sekolah, hal ini lambat laun akan berdampak kurang baik pada dunia pendidikan khususnya eksistensi BK di sekolah. Karena kinerja yang ditunjukkan oleh guru BK belum sesuai dengan tuntutan profesi BK. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu upaya dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya adalah dengan melakukan peningkatan dan pengembangan kompetensi guru BK melalui berbagai kegiatan pembinaan dan pelatihan.
Ahmad Yanizon
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Bimbingan Konseling FKIP UNRIKA Batam
Low social adjustment of students who can hinder the development of adolescents, including social relationships with peers. Group counseling can be used to improve the social adjustment of students. This study aimed to reveal students’ social adjustment through group counseling services. An experimental pretest and posttest control group design was used to test whether the guidance of a group can better improve the social adjustment of students. Two groups of students selected from a purposive sample of MAN 1 Curup and MAN 1 Kepahiang. Each group consisted of 10 students. Guidance for the experimental group performed in six sessions. Data the social adjustment of pretest-posttest gathered through. The findings of this study were: (1) there are significant differences between pre-test and post test experimental group on social adjustment. (2) there was no difference in pre-and post-test control group students on social adjustment. (3) there are significant differences in social adjustment between the experimental and control groups. Based on these findings, it can be concluded that students’ social adjustment can be enhanced through the guidance of the group.
Kata kunci: Penyesuaian Sosial Siswa, Layanan Bimbingan Kelompok
PENDAHULUAN
Satu hal yang menjadi perhatian para siswa ketika memasuki lingkungan sekolah baru adalah beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Adaptasi ini merupakan cara siswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang baru dimasukinya terutama dalam hal penyesuaian sosial dengan teman sebaya. Melalui penyesuaian sosial, para siswa memperoleh pemuasan akan kebutuhan-kebutuhannya.
Masa remaja merupakan masa yang singkat dan sulit dalam perkembangan kehidupan manusia. Menurut Chaplin (2004:12), adolescence adalah periode antara pubertas dan kedewasaan, usia yang diperkirakan 12 sampai 21 tahun bagi anak perempuan yang lebih cepat matang dibandingkan anak laki-laki, dan antara 13 hingga 22 tahun bagi anak laki-laki.
Salah satu tugas perkembangan remaja yang harus dicapai adalah berkaitan dengan hubungan sosial. Havighurst (dalam Syamsu Yusuf, 2006:74). mengemukakan tugas-tugas perkembangan sosial pada masa remaja yaitu:
Keberhasilan remaja dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan di atas mengantarkannya ke dalam suatu kondisi penyesuaian sosial yang baik sehingga remaja yang bersangkutan dapat merasa bahagia, harmonis dan dapat menjadi orang yang produktif, namun sebaiknya apabila gagal, maka remaja akan mengalami ketidak bahagian atau kesulitan dalam kehidupannya. Sedangkan Hurlock (2004:287) mendefinisikan penyesuaian sosial sebagai keberhasilan seseorang untuk menyesuaikan diri pada orang lain pada umumnya dan terhadap kelompok khususnya. Penyesuaian sosial sebagai proses dari penyesuaian diri berlangsung secara kontinue, di mana dalam kehidupannya, seseorang akan dihadapkan pada dua realitas, yaitu diri dan lingkungan sekitarnya. Hampir sepanjang kehidupannya seseorang selalu membutuhkan orang lain untuk dapat berinteraksi satu sama lain. Menurut Kartono (2000:259) penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan emosi negatif lainnya sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis. Istilah penyesuaian mengacu kepada seberapa jauhnya kepribadian seseorang mempunyai manfaat secara baik dan efisien dalam masyarakat.
Proses penyesuaian sosial yang dilakukan remaja berbeda-beda dalam arti bersifat unik. Keunikan tersebut bermula pada hakekat kepribadian itu sendiri yang merupakan pembentukan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu remaja dan faktor dari luar yaitu lingkungan. Ketidakmampuan remaja dalam melakukan pilihan, yang juga berarti tidak mampu mengambil keputusan, merupakan indikator ketidakmampuan menyesuaikan diri.
Menurut Schneiders (dalam Moh. Ali dan Moh. Asrori, 2005:181), setidaknya ada lima faktor yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian sosial individu, yaitu:
Remaja dianggap memiliki penyesuaian sosial yang baik, jika perilaku remaja tersebut mencerminkan keberhasilan dalam proses sosialisasi sehingga cocok dengan tempat mereka menggabungkan diri dan diterima sebagai anggota kelompok maupun anggota masyarakat. Jika dikaitkan dengan lingkungan sekolah, penyesuaian sosial siswa yang efektif akan tercermin dalam sikap atau perilaku saling menghargai dan menerima hubungan interpersonal dengan guru, pembimbing, teman sebaya, mentaati peraturan sekolah dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar dan kegiatan lainnya di sekolah. Penyesuaian sosial siswa yang efektif akan memberikan dampak positif terhadap penerimaan siswa dalam kelompoknya.
Hurlock (1997:287) menyebutkan terdapat empat kriteria dalam menentukan sejauh mana penyesuaian sosial seseorang mencapai ukuran baik, yaitu sebagai berikut:
Perilaku sosial individu sesuai dengan standar kelompok atau memenuhi harapan kelompok maka individu akan diterima sebagai anggota kelompok. Bentuk dari penampilan nyata adalah a) aktualisasi diri yaitu proses menjadi diri sendiri, mengembangkan sifat-sifat dan potensi diri, b) keterampilan menjalin hubungan antar manusia yaitu kemampuan berkomunikasi, kemampuan berorganisasi, dan c) kesediaan untuk terbuka pada orang lain, yang mana sikap terbuka adalah sikap untuk bersedia memberikan dan sikap untuk bersedia menerima pengetahuan atau informasi dari pihak lain.
Individu dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap berbagai kelompok, baik kelompok teman sebaya maupun kelompok orang dewasa. Bentuk dari penyesuaian diri adalah a) kerja sama dengan kelompok yaitu proses beregu (berkelompok) yang mana anggota-anggotanya mendukung dan saling mengandalkan untuk mencapai suatu hasil mufakat, b) tanggung jawab yaitu sesuatu yang harus kita lakukan agar kita menerima sesuatu yang dinamakan hak, dan c) setia kawan yaitu saling berbagi, saling memotivasi dalam kebaikan.
Individu dapat menunjukan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, terhadap partisipasi sosial, serta terhadap perannya dalam kelompok maka individu akan menyesuaikan diri dengan baik secara sosial. Bentuk dari sikap sosial adalah ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial di masyarakat, berempati, dapat menghormati dan menghargai pendapat orang lain.
Individu harus dapat menyesuaikan diri dengan baik secara sosial, anak harus merasa puas terhadap kontak sosialnya dan terhadap peran yang dimainkannya dalam situasi sosial. Bentuk dari kepuasan pribadi adalah kepercayaan diri, disiplin diri dan kehidupan yang bermakna dan terarah.
VIRA AFRIYATI
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Bimbingan dan Konseling FKIP UNRIKA Batam
This article aims to describe:1) contribution self-esteem to the choice of career maturity of high school students, 2) contribution parents treatment to the choice of career maturityof high school students. 3) contribution of self esteem and parents treatment for the choice of career maturity in high school students.The results of researchare: 1) in general career direction level ofachievement of the students ‘career choices are in middle category, 2) the general level of achievement of self-esteem of students are in high category, 3) in general, parents treatment level of achievement of the fate of the students are in high category, 4 ) there is a contribution to the maturity of the self esteem of students with career choices as big as 6,6%, 5) there is a contribution to the maturation treatment of parents of students toward career options as big as 13,1%, 6) there is a contribution of self-esteem and parental treatment of the maturity of the students’ career choices as big as 18,4%
Keywords: self-esteem, parental treatment, career direction
PENDAHULUAN
Pekerjaan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia dewasa yang sehat,. Orang akan merasa sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi kalau sampai menjadi pengangguran. Demikian pula banyak orang yang mengalami stres dan frustrasi dalam hidup ini karena masalah pekerjaan. Penelitian Levinson menunjukkan bahwa komponen terpenting dari kehidupan manusia dewasa adalah: (1) keluarga, dan (2) pekerjaan. Dua komponen tersebut sangat menentukan kebahagian hidup manusia, sehingga tidak mengherankan jika masalah pekerjaan dan keluarga praktis menyita seluruh perhatian, energi, dan waktu orangdewasa. (Isaacson, 1985)
|
[1] Diangkat dari hasil penelitian dalam Tesis yang berjudul “Kontribusi Self Esteem dan Perlakuan OrangtuaterhadapKematangan Arah Pilihan Karier Siswa SMA (Studi Deskriptif terhadap siswa SMA Adabiyah Padang)” Tahun 2012. Pembimbing : Dr. Daharnis, M.Pd., Kons. dan Dr. Syahniar, M.Pd., Kons. 2 Vira Afriyati (19134), Program Studi Bimbingan dan Konseling. Program Pascasarjana (S2) Universitas Negeri Padang, e-mail: afriyati@gmail.com
|
Pekerjaan memiliki peran yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, terutama kebutuhan ekonomis, sosial, dan psikologis. Herr dan Cramer (dalam Isaacson, 1985) Secara ekonomis orang yang bekerja akan memperoleh penghasilan yang bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Secara sosial orang yang memiliki pekerjaan akan lebih dihargai oleh masyarakat daripada orang yang menganggur.
Pekerjaan tidak serta merta merupakan karier. Kata pekerjaan (work, job, employment) menunjuk pada setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa (Isaacson, 1985); sedangkan kata karier (career) lebih menunjuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidupnya (Winkel, 1991). Maka dari itu pemilihan karier lebih memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang daripada kalau sekedar mendapat pekerjaan yang sifatnya sementara waktu.
Mengingat betapa pentingnya masalah karier dalam kehidupan manusia, maka sejak dini anak perlu dipersiapkan dan dibantu untuk merencanakan hari depan yang lebih cerah, untuk dapat memilih dan merencanakan karier secara tepat, dibutuhkan kematangan arah pilihan karier. Kematangan arah pilihan karier meliputi pengetahuan akan diri, pengetahuan tentang pekerjaan, kemampuan memilih suatu pekerjaan, dan kemampuan untuk merencanakan langkah-langkah menuju karier yang diharapkan. Kematangan arah pilihan karier diartikan sebagai keberhasilan seseorang menyelesaikan tugas-tugas perkembangan karier yang khas pada tahap perkembangan tertentu. Definisi ini menunjukkan bahwa kematangan arah pilihan karier berkaitan dengan tugas perkembangan karier pada tiap-tiap tahap perkembangan karier.
Dalam perencanaan karier, siswa sering mengalami hambatan, baik yang berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri siswa, oleh karena itu diperlukan upaya agar siswa memahami potensi dirinya dan percaya diri merencanakan masa depannya, yaitu dengan membantu siswa untuk memiliki arah pilihan karier yang jelas sebagai bentuk gambaran dari self esteemyang mereka miliki. Self esteem adalah evaluasi yang dibuat oleh individu dan dipertahankan, mengungkapkan suatu persetujuan atau ketidaksetujuan, dan mengindikasikan sejauh mana seorang individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, sukses, dan layak. (Branden, 2005:17) Singkatnya, self esteem adalah penilaian pribadi tentang kelayakan yang dinyatakan di dalam sikap individu terhadap dirinya.
Tri Tarwiyani
Dosen Prodi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Riau Kepulauan Batam
Penelitian ini merupakan sebuah pemnelitian yang menggunakan metode studi pustaka. Penelitian ini mengungkap tentang tiga persoalan yang terkait dengan judul di atas, yaitu pertama bagaimana wanita tuna susila di dalam Kama Sutra, ke dua persoalan tentang bagaimana konsep manusia dalam Hinduisme, dan yang terakhir, berdasarkan kedua persolan sebelumnya maka dibuat sebuah refleksi tentang bagaimana Hinduisme memandang wanita tuna susila.
Kama Sutra merupakan salah satu kitab agama Hindu yang mengajarkan tentang seksualitas manusia. Seksualitas merupakan sebuah hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena di dalam eksistensinya terdapat tiga hal yang dituntut dari manusia yaitu Dharma, Artha, dan Kama. Manusia harus dapat menyeimbangkan ketiga hal itu selain itu, manusia dapat mempraktekkan ketiga hal tersebut jika memang diharuskan untuk menjalani kehidupan ini. Laki-laki lebih dititkberatkan untuk mencari Artha terlebih dahulu sebelum Dharma dan Kama sedangkan perempuan dianjurkan untuk menitikberatkan pada aspek Kama dibandingkan dengan Dharma dan Artha. Wanita tuna susila atau perempuan tuna susila dipandang sebagai golongan yang cukup terhormat di dalam masyarakat India karena mereka mempunyai pendidikan yang cukup tinggi dibandingkan perempuan pada umumnya. Selain itu mereka juga harus menguasai berbagai bidang yang pada waktu itu biasanya hanya dikuasai oleh laki-laki seperti bidang politik, seni, dan bidang-bidang lainnya.Hinduisme memandang bahwa kerja merupakan hakikat dari hidup sehingga tanpa bekerja maka manusia tidak dapat dikatakan ”hidup”. Hinduisme juga memandang bahwa segala sesuatu ada manfaatnya dan termasuk perempuan tuna susila. Perempuan tuna susila pada waktu itu di sukai karena pandangannya yang luas dengan pendidikan yang cukup tinggi. Mereka hanya mau berhubungan dengan laki-laki yang menurut mereka pantas, jadi tidak semua laki-laki dapat berhubungan dengan mereka. Hinduisme berpandangan bahwa hubungan seksual merupakan salah satu sarana untuk mengobati penyakit. Selain dari itu, mereka berpandangan bahwa Tuhan memanifestasikan diri-Nya di dalam segala sesuatu yang ada di dunia. Hinduisme memang merupakan salah satu paham yang beraliran Panteistik. Tuhan memanifestasikan diri-Nya juga dalam sperma atau air mani sehingga dalam hubungan seksual manusia terdapat manifestasi Tuhan. Oleh karena itu terdapat nilai penciptaan di dalam hubungan seksual. Di dalam aspek ini jelas terlihat bagaimana manusia dan Tuhan bekerja sama menciptakan makhluk baru yang diberi nama manusia.
Kata kunci: Kama Sutra, Hinduisme, Filsafat Manusia, Dharma, Artha, Kama.
ri Tarwiyani
Staff Pengajar Prodi Teknik Industri FT UNRIKA Batam
Tulisan ini adalah sebuah tulisan yang menggunakan metode studi pustaka. Persoalan yang dibahas dalam tulisan ini antara lain apakah yang dimaksud dengan kloning, bagaimana pandangan Don Ihde tentang hubungan kebertubuhan teknologi, serta bagaimana pandangan Don Ihde tentang teknologi yang tertanam (embedded) dalam budaya terkait dengan relevansi kloning di Indonesia?
Don Ihde adalah salah seorang tokoh dalam bidang Filsafat Teknologi, sebuah cabang filsafat khusus yang mempersoalkan antara lain tentang hubungan manusia dengan teknologi. Don Ihde menggambarkan fenomen hubungan yang terjadi antara manusia dengan teknologi yaitu pertama hubungan kebertubuhan di mana pada hubungan kebertubuhan, alat digunakan sebagai perpanjangan dari tubuh manusia, menjadi sebagian dari tubuh manusia dalam relasinya dengan dunia sekitar sehingga dikatakan bahwa manusia “menubuh” dengan alat, kedua hubungan hermeneutis, dimana alat teknologi dibaca sebagai teks yang perlu ditafsirkan, dan ketiga hubungan keberlainan di mana antara manusia dan teknologi dipandang sebagai dua hal yang berbeda dan berdiri sendiri-sendiri. Don Ihde sendiri memiliki konsep bahwa teknologi embedded (tertananm) dalam budaya. Hal ini artinya bahwa sebuah alat teknologi akan dipandang berbeda jika diterapkan pada kebudayaan yang berbeda. Pandangan inilah yang kemudian digunakan untuk melihat teknologi klonase atau teknologi kloning di Indonesia. Teknologi klonase akan dapat diterima di Indonesia tetapi jika teknologi ini dapat mengankat harkat dan martabat manusia. Hal ini juga berarti bahwa kloning yang bertujuan untuk membuat klonase manusia belum dapat diterima di Indonesia apalagi jika melihat dampak negatif dari teknologi ini.
Kata Kunci: Don Ihde, Kloning, Filsafat Teknologi, Embedded.
A. Latar Belakang Masalah
Evolusi manusia merupakan sebuah perjalanan yang panjang. Manusia untuk sampai pada bentuk fisik dan kemampuan yang dimilikinya saat sekarang, menurut kaum Evolusionis, memerlukan waktu yang tidak sebentar. Theilhard de Chardine menyatakan bahwa evolusi tidak maju secara mekanistis, tidak hanya sekedar seleksi dan mutasi tetapi atas dasar kesadaran yang semakin berkembang. Kesadaran yang paling jelas terlihat pada manusia (Dahler, 2000:1001-102). Setelah manusia muncul ke dunia maka evolusi tidak berada pada perubahan fisik lagi tetapi berjalan ditingkat kesadaran atau pikiran sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hasil dari evolusi kesadaran manusia.
Pheres Sunu Widjayengrono
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam
This article attempts to show the meaning of Malay in historical perspective with zeitgeist theoretical framework divided in three periods (contemporary, Islamic, and Buddhist periods). It’s study of intellectual history methodology and applies history method with using of related secondary sources. Comparative analysis and cultural approach’s applied to data interpretation so that useful for historical analysis. Each period has characteristic meaning depended on mentality situation and bias of ideas from previous period. This article assumes that each dominantly formal or governing power in each period is primary element and cause for cultural meaning and people’s acceptance of Malay definition.
Keywords: Malay, ethnic, society, cultural, identification.
Pendahuluan
Penggunaan kata atau istilah Melayu di masa kini telah dianggap sebagai suatu hal umum. Melayu dimaknai sebagai suatu identitas berkenaan dengan kelompok etnis serta identik dengan penggunaan unsur-unsur kebudayaan khas dalam wujud bahasa, kebiasaan, tradisi, dan pola hidup yang membedakan dengan suku-suku bangsa di Indonesia atau Asia Tenggara lainnya. Bahkan penggunaan makna Melayu diperluas dimana identitas Melayu tidak hanya dijadikan akar bagi identifikasi suatu komunitas sosio kultural tetapi juga hingga penamaan identifikasi geografis dan negara nasional modern. Dengan kata lain, dalam sudut pandang masyarakat masa kini, identifikasi Melayu dibatasi oleh suatu identitas dalam entitas geografis, sosial, dan kultural tertentu. Akan tetapi apakah makna sesungguhnya dan sejak kapan penggunaan kata Melayu mulai digunakan sebagai suatu identitas sosio kultural tentu menimbulkan tanda tanya besar bagi kita yang berdiam di Provinsi Kepulauan Riau dimana kata atau istilah Melayu merupakan realitas yang dijumpai dalam kehidupan keseharian. Kedudukan dan peran penting etimologi Melayu dalam pemaknaan suatu komunitas juga memiliki kesejajaran dengan proses etimologi identifikasi sosio kultural lainnya di Indonesia. Guna menjawab pertanyaan tersebut tentu harus dilakukan peninjauan historis dan kultural, serta komparasi etimologi dan identifikasi sosio kultural suku bangsa lainnya dengan fenomena dan eksplanasi diakronis.
KOMPARASI ETIMOLOGI CINA DAN SUNDA
Berbeda dengan etimologi kata Melayu yang masih samar, asal mula penggunaan dan pemaknaan kata atau istilah Cina dan Sunda telah tersedia di dalam catatan kesejarahan. Hal ini dikarenakan proses diferensiasi sosial berkenaan dengan dinamika sosio politik dan historis di kedua etnis ini masih belum lama berselang dan bahkan masih tercatat dalam sumber-sumber tertulis bangsa Eropa. Tinjauan ringkas atas asal mula identifikasi ini berguna sebagai komparasi dalam penelusuran etimologi Melayu.
Fokus komparasi pertama adalah etimologi Cina berkenaan dengan identifikasinya di antara penduduk Nusantara sehingga memunculkan pertanyaan sejak kapan penggunaan identifikasi Cina dimulai dan dikenal oleh penduduk Nusantara. Sebagaimana diketahui, hubungan perdagangan, politik, sosial, dan budaya antara bangsa-bangsa di negeri Nusantara dan bangsa-bangsa di negeri Cina telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, namun ada perbedaan penyebutan identifikasi atas bangsa-bangsa dari negeri Cina. Rupanya, identifikasi sosio kultural berkorelasi dengan kekuasaan politik dan hal serupa juga terjadi dalam penyebutan istilah Cina. Pada masa kekuasaan Dinasti Ming di abad ke-14 hingga 17, bangsa-bangsa dari negeri Cina yang berkunjung ke selatan, atau kawasan Asia Tenggara diidentikan dengan Orang Taibenchu. Catatan kesejarahan tradisional dari kronik kerajaan Thailand, Melayu, Melaka, Jawa, dll. memberi pembuktian atas fakta historis ini. Penyebutan identifikasi sosial melalui penggunaan dan pemaknaan kata Cina justru baru terjadi di masa Dinasti Chin (Bangsa Manchu) yang berkuasa di abad 17-20. Dengan kata lain pemaknaan istilah Orang Cina baru terjadi di abad ke-17 dalam korelasi penduduk dari Negeri Chin atau rakyat Kerajaan Chin. Meskipun konsolidasi dan legitimasi kekuasaan politik rezim Chin masih membutuhkan proses dan waktu hingga seabad kemudian, generalisasi identifikasi sosial oleh bangsa non-Cina melakukan proses simplikasi atas landasan kekuasaan rezim politik Chin. Perubahan pemaknaan terjadi di masa Revolusi Nasional Cina di awal abad ke-20 dengan mengintrodusir kepada penduduk non-Cina atas identitas Tiong Hwa. Akan tetapi upaya membangun identitas baru ini tidak mampu mencapai tujuannya. Ketika bangsa non-Cina di dunia masih terbiasa menggunakan istilah Cina sebagai identifikasi sosial bangsa-bangsa atau ras dari negeri Cina, Revolusi Merah pimpinan Mao Tse Tung di tahun 1949 mengembalikan identitas sosio kultural masyarakatnya sejajar dengan penggunaan nama negaranya yaitu People’s Republic of China atau negeri Cina. (Leo Suryadinata, 1997: 9-11) Hal inilah yang kemudian terjadi di masa kini dimana penduduk Indonesia telah umum mengidentifikasikan suatu kelompok masyarakat atau ras tertentu dengan identitas Orang Cina.
Berbeda dengan identifikasi sosial Cina, dinamika identifikasi nama Sunda memiliki kurun waktu yang relatif terbatas. Hal ini dikarenakan dinamika sosio politik di tanah Sunda dan Indonesia umumnya di periode akhir lebih didominasi oleh penjajah Belanda sehingga berimplikasi terhadap stagnasi dinamika sosio kultural dan identifikasinya. Kini, istilah Orang Sunda dikenal sebagai suatu suku bangsa sebagai penduduk ‘asli’ atau pertama yang mendiami daerah Provinsi Jawa Barat dan Banten dengan karakteristik bahasa, kebiasaan, dan tradisi berbeda dengan kelompok sosial atau suku bangsa Indonesia lainnya. Akan tetapi apakah identitas Orang Sunda merupakan hal ajeg dan tidak mengalami dinamikanya tersendiri sebagai dampak bias historisnya. Tentu saja hal ini harus ditinjau jauh ke belakang dimana identitas Sunda itu terbentuk. Serupa dengan identitas Cina, identitas Sunda juga memiliki kesejajaran dengan proses kekuasaan, dalam hal ini Kerajaan Sunda. Melemahnya kekuasaan dan kontrol Sriwijaya sejak abad ke-11 atas negeri-negeri taklukannya, menyebabkan berbagai pusat-pusat pemukiman di wilayah Jawa bagian barat mulai mengkonsolidasikan kekuatan sosio politiknya sebagai kesatuan politik atau kerajaan merdeka. Salah satunya ialah pemukiman padat penduduk di daerah hulu sungai Ciliwung, serta menamakan kerajaannya dengan bahasa suci keagamaan di masa tersebut yang berasal dari India yaitu Sunda. Dalam perjalanan sejarahnya di abad 12-16, kerajaan Sunda menjadi kerajaan terbesar dan paling berkuasa di wilayah Pulau Jawa bagian barat dengan menaklukan atau membawahi berbagai kerajaan vasal. Dengan wilayah inti Sungai Ciliwung yang bermuara di Kelapa (kini Jakarta) sebagai pusat, serta berbataskan Sungai Cisadane (kini Kota Tanggerang) di barat dan Sungai Citarum (kini Kabupaten Karawang) di timur, Kerajaan Sunda memiliki berbagai pengaruh politik baik taklukan ataupun di antara kerajaan-kerajaan besar di Jawa bagian barat, khususnya Kerajaan Galuh dimana mendominasi wilayah yang kini menjadi Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, dan Cirebon, serta Kerajaan Banten dimana mendominasi dataran rendah daerah Provinsi Banten kini. Generalisasi identifikasi sosial masyarakat non-Jawa Barat atas penduduk berbahasa rumpun Jawa Barat sebagai Orang Sunda memberi identitas atas penduduk negeri Sunda atau Kerajaan Sunda. (Zahorka Herwig, 2007: 28) Akan tetapi di masa lalu, identitas Sunda tidak serta merta diterima begitu saja oleh penduduk berbahasa rumpun Jawa Barat ini. Penduduk kerajaan Banten yang subordinat dan beroposisi terhadap Kerajaan Sunda terus berupaya menentang kekuasaan Kerajaan Sunda dengan mengindentifikasikan diri sebagai Orang Banten. Hal ini diduga diakibatkan oleh kisah panjang pertentangan kedua wilayah sejak masa kekuasan Tarumanegara dan Bantam di abad ke-5 sebagaimana dilaporkan dalam sumber Cina. (N. Daldjoeni, 1987: 17) Upaya Banten dalam mempertahankan eksistensi identitasnya dan melepaskan diri dari identitas Sunda kian melemah dengan dihapuskannya Kesultanan Banten di awal abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda, dan berkembangnya ilmu pengetahuan barat yang melakukan generalisasi dan kategorisasi terhadap penduduk berbahasa rumpun Jawa bagian barat dengan melekatkan nama Sunda sebagai identitas suatu suku bangsa. Kian menguatnya kedudukan generalisasi etnis Sunda dalam ilmu pengetahuan modern dan pengakuannya oleh Negara Indonesia menyebabkan pengakuan setengah hati masyarakat pesisir Banten kontemporer dengan senantiasa meletakkan unsur diferensiasi dalam kesatuan etnis Sunda. (Robert Hefner, 1997: 58–61)
You must be logged in to post a comment.