Skip to content

FKIP UNRIKA BATAM

  • Home
  • Tentang Kami
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Sejarah
    • Dosen
  • Program Studi
    • Pendidikan Bahasa Inggris
    • Pendidikan Biologi
    • Pendidikan Matematika
    • Pendidikan Sejarah
    • Bimbingan Konseling
    • Pendidikan Profesi Guru (PPG)
  • Akreditasi Prodi
  • Kurikulum
  • News
  • Contact Us
  • Toggle search form

Beranda

STUDI TINGKAT KERUSAKAN VEGETASI MANGROVE DI PERKAMPUNGAN DAPUR ARANG KAMPUNG BAGAN TANJUNG PIAYU KOTA BATAM (The Study of Mangrove Vegetation...
Yarsi Efendi Dosen Tetap Prodi  Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau Kepulauan   ABSTRACT                 Mangrove forest in the township of
THE ANALYSIS OF SCIENCE TEACHER QUESTIONING SKILLS IN JUNIOR HIGH SCHOOL IN DELI SERDANG DISTRICT
Nurhaty Purnama Sari Dosen Tetap Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam   ABSTACT A descriptive research that aims to describe:
PROBLEM BASED LEARNING DENGAN KELAS KONVENSIONAL DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMB
Rahmi Dosen Tetap Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam   Abstrak Penelitian yang menggunakan metode Quasi Eksperimen ini bertujuan untuk perbedaan
ANTAGONISME BAKTERI BACILLUS SP DAN PSEUDOMONAS SP TERHADAP BAKTERI VIBRIO PARAHAEMOLITYCUS PATOGEN PADA UDANG WINDU (PENAEUS MONODON FAB).
Ramses Dosen Tetap Prodi Pendidikan Biologi UNRIKA Batam Abstak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antagonism bakteri Bacillus  sp dan Pseudomonas
ANALYSIS OF LEARNING PROCESS ON HEREDITARY TOPICS IN BIOLOGY SUBJECT AT SMP NEGERI 2 LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN.
Destaria Sudirman Dosen Tetap Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam  ABSTACT The learning process can influence the student’s learning achievement that
PELANTIKAN PENGURUS DAERAH, IKATAN SARJANA PENDIDIKAN INDONESIA (PD-ISPI) PROVINSI KEPRI DAN SEMINAR PENDIDIKAN” MENJADI PENDIDIK PROFESIONAl
Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan  secara profesional, lebih terarah, berhasil guna dan berdaya guna, melalui pengembangan dan
« Previous 1 … 21 22 23 24 25 … 35 Next »

Contact Us

STUDI TINGKAT KERUSAKAN VEGETASI MANGROVE DI PERKAMPUNGAN DAPUR ARANG KAMPUNG BAGAN TANJUNG PIAYU KOTA BATAM (The Study of Mangrove Vegetation Damage at Kampung Bagan in Tanjung Piayu)

STUDI TINGKAT KERUSAKAN VEGETASI MANGROVE DI PERKAMPUNGAN DAPUR ARANG KAMPUNG BAGAN TANJUNG PIAYU KOTA BATAM (The Study of Mangrove Vegetation Damage at Kampung Bagan in Tanjung Piayu)

Yarsi Efendi

Dosen Tetap Prodi  Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau Kepulauan

 

yarsiABSTRACT

                Mangrove forest in the township of mangrove charcoal Kampung Bagan, Tanjung Piayu Batam, on the condition quantity and quality degradation . The existence of these ecosystems are increasingly threatened by the presence of a variety of human activities especially trees cutting to be  burn to made charcoal .

The purpose of this study to aim the level of destruction of mangrove ecosystems based on standard criteria and guidelines for the determination of damage to mangroves on the terms of the Decree of the Minister of Environment of the Republic of Indonesia No. . 201/ 2004 .

Field survey methods used to identify mangrove vegetation with using  transects technique with a square plot , placed on 2 station. Station 1 Sungai Bongkok dan Station2 Teraling Island. We also use questioner to get some information from this communities. Selected respomden are consisting of persons who’s activities on mangrove charcoal conventional industry . Data analysis was performed using the method of vegetation analysis ( density , dominance , frequency , and the index of Important value ) .

Composition of vegetation formations in the study site consists of several species , namely:  Avicennia marina , Rhizophora stylosa , Rhizophora apiculata , Avicennia officinalis , Lumnitzera littorea , Ceriops decandra , Bruguera gymnorrhioza , Xylocarpus granatum and Hibiscus tiliaceus . The higher of Indeks Important Value is Rhizophora apiculata on every growth level. Density of trees per hectare in the study site consisting of two stations are 107 trees per hectare in Sungai Bongkok station , and 540 trees in Teraling Island.

 

Keywords : Mangrove forest , level of damage , the composition and structure of vegetation,  degradation

 

 PENDAHULUAN

Perkampungan pesisir Kampung Bagan yang termasuk kedalam kelurahan Tanjung Piayu Kecamatan Sungai Beduk Kota Batam, merupakan salah satu daerah yang ditetapkan sebagai kampung tua  di Kota Batam. Berdasarkan Surat keputusan Walikota Batam, Nomor 105/HK/IV/2004 Dan dari beberapa sumber dikatakan bahwa Kampung Bagan merupakan perkampungan nelayan (perkampungan suku melayu) paling tua di Kota Batam, dimana umumnya masyarakat adalah nelayan yang menggantungkan mata pencaharian dari hasil biota laut, seperti ikan, kepiting, udang, dan lain-lain. Namun sebagian masyarakat ada yang berprofesi sebagai pengrajin arang bakau. (arang karbon yang bahan bakunya dari batang kayu beberapa jenis kayu bakau/ Rhizophora spp).

Industri arang bakau ini tumbuh dan berkembang dengan pesat karena tingginya permintaan terhadap komoditi ini oleh Negara tetangga Singapura dan Malaysia, yang secara geografis berdekatan dengan wilayah kota Batam.

Pesatnya pertumbuhan dan perkemban gan industri konvensional arang bakau di Kampung Bagan di dukung oleh ketersediaan bahan baku (kayu bakau) yang cukup banyak. Karena wilayah ini merupakan habitat alami dari beberapa jenis kayu bakau potensial untuk dijadikan arang karbon, beberapa jenis tersebut antara lain Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Bruguera gymnorrhiza, dan jenis kayu bakau lainnya.

Tegakan jenis-jenis kayu bakau ini merupakan spesies dominan di kampung Bagan, tersebar dari zona terluar muka laut sampai ke zona daratan. Dan merupakan daerah penyangga ekosistem pesisir Kampung Bagan dan sekitarnya.

Seiring dengan pesatnya aktivitas dapur arang yang mengeksploitasi kayu bakau dari ekosistem mangrove di daerah ini, memberikan implikasi terhadap menurunnya kualitas dan kuantitas tegakan vegetasi mangrove di Kampung Bagan dan sekitarnya. Tegakan mangrove yang dahulunya rapat saat ini sudah terlihat jarang, dan banyak ruang terbuka pada lantai tegakan hutan.

Kondisi yang sama terlihat di setiap perkampungan dapur arang yang lainnya di Kota Batam. Dimana di beberapa wilayah perkampungan arang bakau seperti Rempang Cate, Dapur 6, Dapur 12 dan daerah lainnya.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan kondisi vegetasi berdasarkan tingkat kerusakan yang mengacu kepada Kriteria Baku dan Pedoman Penentuan Kerusakan Mangrove Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik yang tertuang dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 201 Tahun 2004 Tanggal : 13 Oktober 2004.

THE ANALYSIS OF SCIENCE TEACHER QUESTIONING SKILLS IN JUNIOR HIGH SCHOOL IN DELI SERDANG DISTRICT

THE ANALYSIS OF SCIENCE TEACHER QUESTIONING SKILLS IN JUNIOR HIGH SCHOOL IN DELI SERDANG DISTRICT

Nurhaty Purnama Sari

Dosen Tetap Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam

 

nurhatyABSTACT

A descriptive research that aims to describe: (1) the level of teacher questions based on gender and teaching experience; (2) students’ response to the level of teacher question; (3) teacher’s ability to apply basic and advance questioning skills based on gender and teaching experience has been implemented in Junior High School. About 20 science teachers who teach in 8th grade of Junior High School come from 9 schools have been involved this study. Data were collected through observation and questionnary. The results showed that Junior High School science teacher mostly used low-level cognitive questions (85,8%). A few of other used high-level cognitive questions (14,2%). There was no difference even gender and teaching experience. In level questions, teacher mostly asked about structure (42,80%) and organ (34,20%). A few of other asked about mechanism (18,40%) and desease (18,40%) in circulatory system chapter. Mostly students’ response to the level of teacher questions were simultaneous (93.88%), with scientific answer was very low category (39,80%). In basic skills components, teacher mostly used spread with very low category (10%). In advanced questioning skills components have changed the level of cognitive demand (35%), usage tracking questions with various techniques (15%), and improving the interaction (50%) were very low category. There were no differences basic and advanced asking skills even gender and teaching experience.

Keywords: Science teacher, questioning, skills

1. Pendahuluan

 Mustikasari (2008:5) di SMA Negeri Kota Pontianak kelas X menemukan bahwa sebagian besar guru sudah menyusun persiapan pertanyaan yang ditulis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tetapi jenis pertanyaan masih dalam tingkat rendah. Jenis pertanyaan yang disusun oleh guru mata pelajaran Biologi Kelas X di SMA Negeri Kota Pontianak masih digolongkan tingkat rendah didasarkan atas taksonomi Bloom dan teknik bertanya guru mata pelajaran Biologi Kelas X di SMA Negeri Kota Pontianak masih belum benar. Pertanyaan memiliki peranan penting untuk menjalin komunikasi guru dengan murid. Dengan bertanya guru mampu menganalisa seberapa jauh siswa memahami materi yang disampaikan oleh guru. Cunningham (1971:88) menyatakan bahwa pertanyaan guru adalah variabel yang sangat berperan dapat mempengaruhi perolehan pembelajar. Berhasil tidaknya guru memfungsikan pertanyaan dalam proses belajar mengajar akan sangat tergantung pada kualitas keterampilan bertanya. Samwali (2008:20) menyatakan bahwa keterampilan bertanya diperlukan dalam rangka mengumpulkan, menggali, menginformasikan, dan menyimpulkan informasi bagi kepentingan tertentu yang biasanya sudah direncanakan. Penelitian Keterampilan Bertanya Guru IPA SMP Negeri Kabupaten Deliserdang ini bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat pertanyaan dan guru IPA dalam tingkatan Taksonomi Bloom yang disampaikan secara lisan melalui proses pembelajaran mengenai pokok bahasan Sistem Peredaran Darah Manusia yang dikaitkan dengan jenis kelamin dan pengalaman mengajar guru; (2) respon siswa terhadap tingkat pertanyaan di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Deliserdang Tahun Pelajaran 2010/2011; dan (3) mengetahui penggunaan komponen keterampilan bertanya  guru IPA pada pokok bahasan Sistem Peredaran Darah saat kegiatan belajar mengajar berlangsung yang dikaitkan dengan jenis kelamin dan pengalaman mengajar guru di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Deliserdang Tahun Pelajaran 2010/2011.

2. Tinjauan Teoritis

Pertanyaan sudah ada sejak jaman Socrates (abad ke-5 sebelum Masehi). Rahman (2010:10-19) menyimpulkan bahwa pemberian pertanyaan dalam pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Guru hendaknya dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan tajam yang mengarahkan siswa dapat memahami konsep. Hal ini dapat berdampak pada tingginya penguasaan konsep pada siswa. Guru harus banyak membuat pertanyaan yang progresif yang dapat dibuat melalui tingkatan-tingkatan taksonomi Bloom, agar guru juga dapat mengevaluasi seberapa efektif kegiatan belajar mengajar di kelas dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Pertanyaan, taksonomi Bloom dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengklasifikasikan pertanyaan. Taksonomi Bloom yang terdiri dari pertanyaan kognisi tingkat rendah (mengingat dan memahami) dan tingkat tinggi (aplikasi, menganalisis, evaluasi, dan kreasi) merupakan salah satu cara  yang dipakai dalam merumuskan tujuan pengajaran (Forehand, 2005:03). Taksonomi ini dapat juga diterapkan untuk mengklasifikasikan pertanyaan yang diajukan guru di kelas.

Dalam memberikan pertanyaan kepada siswa juga diperlukan keterampilan yaitu keterampilan bertanya. Allen et al (1969:72) berpendapat bahwa sebelum dapat memanfaatkan pertanyaan untuk merangsang siswa belajar, seorang guru perlu memiliki kelancaran dalam bertanya (fluency in asking questions). Baru setelah itu dia dapat meningkatkan keterampilan bertanyanya untuk menggali dan melacak, mengajukan pertanyaan tingkat tinggi, dan pertanyaan divergen. Samwali (2008:20) menyatakan bahwa keterampilan bertanya diperlukan dalam rangka mengumpulkan, menggali, menginformasikan, dan menyimpulkan informasi bagi kepentingan tertentu yang biasanya sudah direncanakan.

Turney (1981) menyatakan ada 8 unsur yang perlu diperhatikan dan 4 unsur dalam cara guru bertanya. Delapan unsur tersebut yaitu: (1) pengungkapan secara jelas dan singkat, (2) pemberian acuan; (3) pemusatan; (4) pemberian waktu berpikir; (5) pemindahan giliran; (6) penyebaran; (7) kehangatan dan keantusiasan; dan (8) pemberian tuntunan. Sedangkan 4 unsur yang perlu dihindari adalah: (1) mengulang pertanyaan; (2) mengulang jawaban siswa; (3) menjawab pertanyaan sendiri; dan (4) mengundang jawaban serentak.

PROBLEM BASED LEARNING DENGAN KELAS KONVENSIONAL DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMB

PROBLEM BASED LEARNING DENGAN KELAS KONVENSIONAL DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMB

Rahmi

Dosen Tetap Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam

 

rahmiAbstrak

Penelitian yang menggunakan metode Quasi Eksperimen ini bertujuan untuk perbedaan kemampuan berpikir kritis mahasiswa padapokok bahasan dinamika populasi pada hewan antara kelas PBL (Problem Based Learning) dengan kelas konvensional, dan mengatahui deskripsi indikator dari kemampuan berpikir kritis mahasiswa padapokok bahasan dinamika populasi pada hewan di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMB. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi semester VI pada tahun akademik 2011/2012. Penguasaan kemampuan berpikir kritis diukur dengan menggunakan tes uraian materi dinamika populasi pada hewan sebanyak lima soal, masing-masing mengukur ketercapaian lima indikator kemampuan berpikir kritis.Analisis data menggunaka uji-t.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas PBL berbeda signifikan pada kemampuan berpikir kritis di bandingkan dengan kelas konvensional dan menggunakan uji-t juga penelitian menunjukkan bahwa dari lima indikator kemampuan berpikir kritis pada indikator melakukan deduksi dan induksi dan melakukan evaluasi tersebut berbeda signifikan dibandingkan dengan indikator yang lain. Kemampuan berpikir kritis yang berbeda signifikan pemilikannya pada mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model PBL adalah kemampuan melakukan deduksi dan induksi, serta melakukan evaluasi.Model pembelajaran PBLlebih cocok digunakan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa dan model PBL juga cocok digunakan pada matakuliah yang mempunyai  karakteristik yang sama denganpokok bahasan dinamika populasi pada hewan.

Kata kunci : PBLdan Kritis

 

  1. 1.                  Pendahuluan

Kemampuan belajar, berpikir kreatif, membuat keputusan, dan memecahkan masalah akan banyak dibutuhkan dalam mencari pekerjaan. Permasalahan yang timbul adalah pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal.Termasuk mata pelajaran biologi. Disisi lain adanya banyak fakta bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa rendah(Salpeter dalam Anggraeni, 2006).

Menurut Henik (dalam Suryadi, 2011) mengatakan guru selama ini lebih banyak memberikan ceramah dan latihan mengerjakan soal-soal dengan cepat tanpa memahami konsep secara mendalam. Hal ini menyebabkan siswa kurang terlatih untuk mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang dapat berkembang dengan baik.

Faktor – faktor yang diprediksi mempengaruhi rendahnya prestasi siswa adalah : bahan ajar, media pembelajaran, kemampuan siswa, semangat dan motivasi siswa, kemampuan guru, dan strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. (Sardjono, dalam Hermelly, 2011)

Studi pendahuluan dilakukan terhadap mata kuliah ekologi hewan menunjukan bahwa nilai rata-rata pada tahun 2011-2012 dari seluruhmahasiswa  diperoleh nilai 6,53. Hal ini perlu ditingkatkan menjadi sebaliknya, Adapun faktor yang diduga menjadi penyebabnya adalah 1) pembelajaran lebih ditekankan pada pengumpulan pengetahuan tanpamempertimbangkan keterampilan proses dan pembentukan sikap dalam pembelajaran, 2) kurangnya kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan bernalarnya melalui diskusi kelompok, 3) Sasaran belajar ditentukan oleh dosen sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi mahasiswa (Hasil Evaluasi Semester Ekologi Hewan, 2011/2012).

  1. 2.                  Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membedakankemampuan berpikir kritis mahasiswa yang memperoleh pembelajaran antara PBL dengan kelas konvensionalpada pokok bahasan dinamika populasi pada hewan.Selain itu juga membedakan penguasaan indikator kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara PBL dengan konvensional.

ANTAGONISME BAKTERI BACILLUS SP DAN PSEUDOMONAS SP TERHADAP BAKTERI VIBRIO PARAHAEMOLITYCUS PATOGEN PADA UDANG WINDU (PENAEUS MONODON FAB).

ANTAGONISME BAKTERI BACILLUS SP DAN PSEUDOMONAS SP TERHADAP BAKTERI VIBRIO PARAHAEMOLITYCUS PATOGEN PADA UDANG WINDU (PENAEUS MONODON FAB).

Ramses

Dosen Tetap Prodi Pendidikan Biologi UNRIKA Batam

ramsesAbstak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui antagonism bakteri Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp terhadap Vibrio Parahaemolyticus secara in vitro. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Uji antagonism dilakukan dengan dua metode yaitu uji gores silang (streaking method) dan uji dalam mikrokosom.

Bakteri Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp diisolasi dari produk Super NB (produksi Marindo Lab, Surabaya) sedangkan Vibrio Parahaemolyticus diperoleh dalam bentuk isolate murni yang didatangkan dari Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Jepara yang diisolasi dari udang windu yang terserang penyakit vibriosis. Perlakuan yang diberikan dalam mikrokosom adalah Bacillus  sp (kontrol), sedangkan konsentrasi awal V. Parahaemolyticus pada masing-masing perlakuan adalah 104 sel/ml. hal yang sama juga dilakukan pada Pseudomonas  sp.

Hasil uji antagonis Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp pada gores silang tidak memberikan hambatan yang berarti terhadap pertumbuhan V. Parahaemolyticus (tidak terlihat zona hambat yang jelas). Pada antagonism dalam mikrokosom Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp mampu menghambat V. Parahaemolyticus secara nyata. Dari hasil uji signifikan (uji-t) semua perlakuan pada antagonism Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp terhadap V. Parahaemolyticus menunjukkan hasil yang berbeda nyata dengan control. Pada penelitian ini perlakuan Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp 106 sel/ml memberikan daya hambat paling besar terhadap V.parahaemolyticus (berbeda sangat nyata dengan Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp 102 dan 104 sel/ml) pada tingkat kepercayaan 99% (? = 0,01).

 

Kata kunci: Antagonisme, Bakteri, Patogen, Mikrokosom

 1.            Pendahuluan

Penyakit vibriosis pada udang sering menyebabkan mortalitas massal dan kegagalan panen pada pertambangan udang di Indonesia dan negara penghasil udang lainya.

Penyakit vibriosis yang sering menyerang udang pada stadia larva, pasca larva dan udang muda disebabkan oleh beberapa spesies bakteri Vibrio antara lain: Vibrio parahaemolyticus, V. alginolyticus V. angguillaru, V. vulnivicus dan V. flupialis (LIGHTNER, 1988). Bakteri Vibrio Parahaemolyticus adalah bakteri gram negative yang dikenal sebagai penyakit yang sangat akut dan ganas. Bakteri Vibrio Parahaemolyticus merupakan bakteri laut asli yang dapat diisolasi dari biota laut, rumput laut, air laut dan air payau.

Penerapan teknologi dalam upaya penanggulangan penyakit bacterial telah banyak dilakukan, mulai dari pencegahan sampai tindakan pengobatan dengan menggunakan berbagai antibiotic. Kebiasaan menggunakan antibiotic ini menimbulkan dampak negative, tidak hanya mengakibatkan bakteri pathogen menjadi resisten, tetapi juga berdampak buruk terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Pengendalian secara biologis merupakan teknik alternative untuk mengendalikan serangan penyakit bakteri pada udang. Penggunaan bakteri seperti super NB sebagai pengendalian secara biologis dalam budidaya udang.  Seperti yang telah banyak digunakan pada tambak-tambak pembesaran dengan fungsi lain menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan, dan mengurangi resiko timbulnya penyakit. Disamping itu  bakteri Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp sebagai bakteri yang mempunyai kemampuan untuk menghambat dan memproduksi antibiotik terhadap Vibrio cholera. Adanya sifat antagonisme dari suatu bakteri terhadap bakteri lain dapat dikembangkan menjadi suatu teknologi di dalam penganggulangan penyakit vibriosis pada udang. Dalam penelitian ini, peneliti coba menguji kemampuan Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp menghambat bakteri pathogen khususnya Vibrio Parahaemolyticus secara in vitro.

  1. 2.            Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui adanya respon antagonisme bakteri Bacillus sp dan Pseudomonas  sp terhadap bakteri patogen Vibrio Parahaemolyticus secara in vitro.

 

Hipotesis

Untuk menduga adanya respon antagonisme pada penelitian ini dinyatakan dengan adanya penekanan pertumbuhan Vibrio Parahaemolyticus pada biakan campuran yang diinokulasikan bakteri penghambat (Bacillus sp dan Pseudomonas sp) dibanding dengan control yang dinyatakan dengan hipotesis: tidak adanya efek antagonisme dengan pemanbahan bakteri Bacillus  sp dan Pseudomonas  sp pada konsentrasi 102, 104 dan 106 sel/ml terhadap Vibrio parahaemolyticus.

ANALYSIS OF LEARNING PROCESS ON HEREDITARY TOPICS IN BIOLOGY SUBJECT AT SMP NEGERI 2 LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN.

ANALYSIS OF LEARNING PROCESS ON HEREDITARY TOPICS IN BIOLOGY SUBJECT AT SMP NEGERI 2 LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN.

Destaria Sudirman

Dosen Tetap Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam

desta ABSTACT

The learning process can influence the student’s learning achievement that is the lower of students’ understanding of a subject. The lower of students’ understanding of a subject is a problem that can disturb student’ learning achievement. The lower of students’ understanding can happen in the learning process of the heredity. This research was aimed to analyze the learning process in Biology on Heredity topics at SMP Negeri 2 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan which involved planning, conducting, and evaluating the learning process.

The research which was conducted at SMP Negeri 2 Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan was a descriptive research which used qualitative approach. The sample of this research was class IX A (the third year students in group A) and class IX F (the third year students in group F). The data was gotten through observation, interview, and questionnaires. In collecting the data, the researcher used observation sheet which referred to the Regulation of National Education Ministry Number 41 Year 2007 about the standard process for primary and high educational level. Interview was conducted in order to get the data which could not be gotten through observation. Questionnaire was administered to the students to see their alertness and understanding in learning process, while video recording was used to describe the learning process.

Based on the result of the research, it was known that (1) lesson plan designed by the teacher had not yet referred to the Regulation of National Education Ministry Number 41 Year 2007, (2) the learning process conducted by the teacher which involved time allocation, learning method, learning model and learning steps had not yet based on the lesson plan designed by the teacher, and (3) the learning evaluation had not yet referred to the Regulation of National Education Ministry Number 41 Year 2007 since the teacher did evaluation only on cognitive aspect.

  1. Pendahuluan

Proses pendidikan di sekolah merupakan proses pembelajaran yang melibatkan berbagai komponen pembelajaran diantaranya tujuan pembelajaran, siswa, guru, bahan pembelajaran, metode, media, dan situasi lingkungan belajar. Agar kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar semua komponen harus berfungsi. Guru sebagai tenaga pendidik merupakan komponen penentu langkah kegiatan proses pembelajaran, yaitu dalam menentukan strategi yang akan dipilih dalam proses pembelajaran. Keberhasilan penerapan strategi pembelajaran tergantung pada keterampilan yang dimiliki guru dalam menggunakan metode, media, dan model pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran.

Guru dalam menyajikan suatu materi pelajaran kepada siswa harus memiliki perencanaan yang matang agar dalam pelaksanaan pembelajaran siswa dapat menyerap apa yang disampaikan oleh guru dan tujuan yang diinginkan guru dapat tercapai. Dalam proses pembelajaran guru juga harus memahami materi pelajaran yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir siswa dan dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar, karena salah satu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya siswa dalam pembelajaran sangat ditentukan oleh kemampuan yang dimiliki guru dalam mengajar. Menurut Ratna (1989: 78), hasil utama yang harus dicapai peserta didik dalam pembelajaran adalah penguasaan terhadap konsep secara baik dan benar.

Hasil belajar yang tinggi adalah sesuatu hal yang diharapkan dalam proses pembelajaran karena hasil belajar yang tinggi merupakan indikasi dari keberhasilan proses pembelajaran. Hasil pembelajaran yang rendah merupakan salah satu indikasi kegagalan dalam proses pembelajaran. Tinggi rendahnya hasil pembelajaran di sekolah ditentukan oleh siswa, guru, kondisi sekolah dan sarana prasarana yang terdapat disekolah itu sendiri. Selain itu hasil pembelajaran juga ditentukan oleh kesiapan guru dalam mengajar serta media pembelajaran (perencanaan), metode dan media pembelajaran yang diberikan guru dalam proses pembelajaran (pelaksanaan) serta evaluasi yang diberikan oleh guru setelah proses pembelajaran.

Untuk mengoptimalkan proses pembelajaran seperti yang diharapkan, maka Pemerintah telah mengamanatkan standar proses yang tertera dalam Permendiknas No 41 tahun 2007. Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, dan pengawasan. Untuk melihat penyebab rendahnya pemahaman siswa dalam proses pembelajaran maka harus ditinjau dari proses pembelajaran yang dilaksanakan guru kemudian dibandingkan dengan Permendiknas No 41 tahun 2007 tentang standar proses untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki proses pembelajaran Biologi pada materi Pewarisan Sifat Kelas IX di SMP Negeri 2 Lengayang kabupaten Pesisir selatan meliputi: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran.

  1. Kajian Teori

Menurut PP No 19 Tahun 2005 Standar Nasional Pendidikan merupakan suatu acuan yang memuat kriteria minimal tentang komponen pendidikan yang memungkinkan setiap jenjang dan jalur pendidikan untuk mengembangkan pendidikan secara optimal sesuai dengan karakteristik dan kekhasan programnya. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar isi dan standar proses merupakan bagian dari Standar Nasional Pendidikan.

Standar proses adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan (Mulyasa, 2006: 28). Standar proses yang dimaksud telah dituangkan dalam bentuk Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mencakup : (1) Perencanaan pembelajaran, (2) pelaksanaan pembelajaran, (3) penilaian hasil belajar, dan (4) tindak lanjut hasil pembelajaran. Keempat standar proses tersebut dimaksudkan untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 20 Tahun 2007 pasal I tentang standar penilaian dinyatakan bahwa penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara nasional. pada Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 ditegaskan bahwa penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyususn laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.

PELANTIKAN PENGURUS DAERAH, IKATAN SARJANA PENDIDIKAN INDONESIA (PD-ISPI) PROVINSI KEPRI DAN SEMINAR PENDIDIKAN” MENJADI PENDIDIK PROFESIONAl

Fitri Yanti

Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan  secara profesional, lebih terarah, berhasil guna dan berdaya guna, melalui pengembangan dan penerapan Ilmu Pendidikan maka para Sarjana Pendidikan merasa terutama yang ada dikepulauan Riau terpanggil dan bertanggung jawab untuk lebih banyak memberikan sumbangan tenaga dan pikirannya melalui sebuah wadah/ organisasi yang diberi nama ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia daerah kepulauan Riau yang diselenggarakan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNRIKA BATAM sekaligus diisi dengan seminar pendidikan dengan tema menjadi pendidik professional yang diadakan sabtu di aula universitas riau kepulauan Pembentukan pengurus ISPI KEPRI berdasarkan mandat yang diberikan pengurus pusat prof.Dr. sunaryo Kartadinata, .M.Pd kepada ibu Fitri Yanti, S.Pd, M.Pd, M.Si sekaligus dekan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan Unrika Batam, bapak Drs.Hardi S Hood, M.Si dan bapak Drs. Zarefrialdi, M.Pd. Proses pelantikan dihadiri oleh wakil gubernur kepri, wakil komisi X bidang pendidikan, Asman Abnur, SE, M.Si, kepala dinas pendidikan kepri yang diwakili bapak Drs. Admadinata, M.Pd, walikota Batam yang diwakili sekretaris dinas pendidikan, Drs. Yahya, rektor Unrika beserta wakir rector dan para dekan dilingkungan unrika.

              Adapun kepengurusan  dan keanggotaan ISPI Kepri terdiri dari alumni sarjana pendidikan baik berprofesi sebagai dosen, guru, tenaga kependidikan, biokrat , swasta dan swasta yang bersedia menyumbangkan pikiran untuk membangun pendiidkan di Kepri. ketua umum dari pengurus ISPI Kepri adalah Drs.Hardi S.Hood, M.Si ,sekretaris umum ibu Fitri Yanti, S.Pd, M.Si dan bendahara umum bapak Drs. Syahir.

             Sesuai AD/ADRT ISPI maka diantara tugas yang akan dijalankan pengurus dan anggota adalah menyelenggarakan pertemuan ilmiah dan penelitian mengenai ilmu, seni, budaya dan teknologi pendidikan, mengadakan kerjasama yang saling menguntungkan dengan lembaga-lembaga pemerintah dan swasta serta lembaga organisasi profesi lainnya, menerbitkan media komunikasi ilmu, seni, budaya dan teknologi pendidikan.Melindungi kepentingan profesional para anggota dan mengembangkan profesi kependidikan, melindungi kepentingan masyarakat dari praktek pendidikan yang merugikan, membangun kerjasama dengan berbagai komunitas profesi pendidikan dan profesi lain baik yang besifat nasional maupun internasional

             Selesai pelantikan diteruskan dengan seminar pendidikan dengan pembicara langsung ketua Ispi Pusat sekaligus rector universitas Indonesia (UPI) Prof. Dr. sunaryo kartadinata, M.Pd dan dan prof, Dr. Ahman, M.Pd dengan jumlah peserta sebanyak 750 orang dimulai dari kepala sekolah, para guru dari SMA, SMP/ sederajat, SD, TK dan paud sekepri. Acara berlansung dengan a lot dan meriah serta ucapan selamat dan penghargaan dari wagub atas sumbangsih dari semjua pendidik di Kepri.

 _DSC0239

Copyright © 2026 FKIP UNRIKA BATAM.

Powered by PressBook Green WordPress theme