Skip to content

FKIP UNRIKA BATAM

  • Home
  • Tentang Kami
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Sejarah
    • Dosen
  • Program Studi
    • Pendidikan Bahasa Inggris
    • Pendidikan Biologi
    • Pendidikan Matematika
    • Pendidikan Sejarah
    • Bimbingan Konseling
    • Pendidikan Profesi Guru (PPG)
  • Akreditasi Prodi
  • Kurikulum
  • News
  • Contact Us
  • Toggle search form

Beranda

KONTRIBUSI SELF ESTEEM DAN PERLAKUAN ORANGTUA TERHADAP KEMATANGAN ARAH PILIHAN KARIER SISWA SMA1
VIRA AFRIYATI Dosen Tetap Prodi Pendidikan Bimbingan dan Konseling FKIP UNRIKA Batam Abstract: This article aims to describe:1) contribution self-esteem
WANITA TUNA SUSILA DALAM “KAMA SUTRA”, (refleksi tentang manusia menurut Hinduisme)
Tri Tarwiyani Dosen Prodi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Riau Kepulauan Batam   Abstract Penelitian ini merupakan sebuah pemnelitian yang
KLONING DALAM PERSPEKTIF DON IHDE
ri Tarwiyani Staff Pengajar Prodi Teknik Industri FT UNRIKA Batam Abstrak Tulisan ini adalah sebuah tulisan yang menggunakan metode studi
EPISTEMOLOGI MELAYU DALAM TINJAUAN HISTORIS
Pheres Sunu Widjayengrono Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam   Abstract This article attempts to show the meaning
PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA INTERAKTIF DAN MOTIVASI TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA SMA NEGERI I GUNUNG TALANG
Desma Yulia Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam   Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Perbedaan
KERANGKA TEORI DALAM PENELITIAN DAN PEMAHAMAN SEJARAH Studi Kasus Sejarah Politik Keruntuhan Kerajaan di Surakarta Pada Masa Kemerdekaan
Pheres Sunu Widjayengrono Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam Abstract This article attempt to show importance of a
« Previous 1 … 20 21 22 23 24 … 35 Next »

Contact Us

KONTRIBUSI SELF ESTEEM DAN PERLAKUAN ORANGTUA TERHADAP KEMATANGAN ARAH PILIHAN KARIER SISWA SMA1

KONTRIBUSI SELF ESTEEM DAN PERLAKUAN ORANGTUA TERHADAP KEMATANGAN ARAH PILIHAN KARIER SISWA SMA1

VIRA AFRIYATI

Dosen Tetap Prodi Pendidikan Bimbingan dan Konseling FKIP UNRIKA Batam

VIRA-AF-204x300Abstract:

This article aims to describe:1) contribution self-esteem to the choice of career maturity of high school students, 2) contribution parents treatment to the choice of career maturityof high school students. 3) contribution of self esteem and parents treatment for the choice of career maturity in high school students.The results of researchare: 1) in general career direction level ofachievement of the students ‘career choices are in middle category, 2) the general level of achievement of self-esteem of students are in high category, 3) in general, parents treatment level of achievement of the fate of the students are in high category, 4 ) there is a contribution to the maturity of the self esteem of students with career choices as big as 6,6%, 5) there is a contribution to the maturation treatment of parents of students toward career options as big as 13,1%, 6) there is a contribution of self-esteem and parental treatment of the maturity of the students’ career choices as big as 18,4%

 

Keywords: self-esteem, parental treatment, career direction

 

PENDAHULUAN

Pekerjaan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia dewasa yang sehat,. Orang akan merasa sangat susah dan gelisah jika tidak memiliki pekerjaan yang jelas, apalagi kalau sampai menjadi pengangguran. Demikian pula banyak orang yang mengalami stres dan frustrasi dalam hidup ini karena masalah pekerjaan. Penelitian Levinson menunjukkan bahwa komponen terpenting dari kehidupan manusia dewasa adalah: (1) keluarga, dan (2) pekerjaan. Dua komponen tersebut sangat menentukan kebahagian hidup manusia, sehingga tidak mengherankan jika masalah pekerjaan dan keluarga praktis menyita seluruh perhatian, energi, dan waktu orangdewasa. (Isaacson, 1985)

 

[1] Diangkat dari hasil penelitian dalam Tesis yang berjudul “Kontribusi Self Esteem dan Perlakuan OrangtuaterhadapKematangan Arah Pilihan Karier Siswa SMA (Studi Deskriptif terhadap siswa SMA Adabiyah  Padang)” Tahun 2012. Pembimbing : Dr. Daharnis, M.Pd., Kons. dan Dr. Syahniar, M.Pd., Kons.

2 Vira Afriyati (19134), Program Studi Bimbingan dan Konseling. Program Pascasarjana (S2) Universitas Negeri Padang, e-mail: afriyati@gmail.com

 

Pekerjaan memiliki peran yang sangat besar dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, terutama kebutuhan ekonomis, sosial, dan psikologis. Herr dan Cramer (dalam Isaacson, 1985) Secara ekonomis orang yang bekerja akan memperoleh penghasilan yang bisa digunakan untuk membeli barang dan jasa guna mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Secara sosial orang yang memiliki pekerjaan akan lebih dihargai oleh masyarakat daripada orang yang menganggur.

Pekerjaan tidak serta merta merupakan karier. Kata pekerjaan (work, job, employment) menunjuk pada setiap kegiatan yang menghasilkan barang atau jasa (Isaacson, 1985); sedangkan kata karier (career) lebih menunjuk pada pekerjaan atau jabatan yang ditekuni dan diyakini sebagai panggilan hidup, yang meresapi seluruh alam pikiran dan perasaan seseorang, serta mewarnai seluruh gaya hidupnya (Winkel, 1991). Maka dari itu pemilihan karier lebih memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang daripada kalau sekedar mendapat pekerjaan yang sifatnya sementara waktu.

Mengingat betapa pentingnya masalah karier dalam kehidupan manusia, maka sejak dini anak perlu dipersiapkan dan dibantu untuk merencanakan hari depan yang lebih cerah, untuk dapat memilih dan merencanakan karier secara tepat, dibutuhkan kematangan arah pilihan karier. Kematangan arah pilihan karier meliputi pengetahuan akan diri, pengetahuan tentang pekerjaan, kemampuan memilih suatu pekerjaan, dan kemampuan untuk merencanakan langkah-langkah menuju karier yang diharapkan. Kematangan arah pilihan karier diartikan sebagai keberhasilan seseorang menyelesaikan tugas-tugas perkembangan karier yang khas pada tahap perkembangan tertentu. Definisi ini menunjukkan bahwa kematangan arah pilihan karier berkaitan dengan tugas perkembangan karier pada tiap-tiap tahap perkembangan karier.

Dalam perencanaan karier, siswa sering mengalami hambatan, baik yang berasal dari dalam diri sendiri maupun dari luar diri siswa, oleh karena itu diperlukan upaya agar siswa memahami potensi dirinya dan percaya diri merencanakan masa depannya, yaitu dengan membantu siswa untuk memiliki arah pilihan karier yang jelas sebagai bentuk gambaran dari self esteemyang mereka miliki. Self esteem adalah evaluasi yang dibuat oleh individu dan dipertahankan, mengungkapkan suatu persetujuan atau ketidaksetujuan, dan mengindikasikan sejauh mana seorang individu percaya bahwa dirinya mampu, penting, sukses, dan layak. (Branden, 2005:17) Singkatnya, self esteem adalah penilaian pribadi tentang kelayakan yang dinyatakan di dalam sikap individu terhadap dirinya.

WANITA TUNA SUSILA DALAM “KAMA SUTRA”, (refleksi tentang manusia menurut Hinduisme)

WANITA TUNA SUSILA DALAM “KAMA SUTRA”, (refleksi tentang manusia menurut Hinduisme)

Tri Tarwiyani

Dosen Prodi Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Riau Kepulauan Batam

 

triAbstract

Penelitian ini merupakan sebuah pemnelitian yang menggunakan metode studi pustaka. Penelitian ini mengungkap tentang tiga persoalan yang terkait dengan judul di atas, yaitu pertama bagaimana wanita tuna susila di dalam Kama Sutra, ke dua persoalan tentang bagaimana konsep manusia dalam Hinduisme, dan yang terakhir, berdasarkan kedua persolan sebelumnya maka dibuat sebuah refleksi tentang bagaimana Hinduisme memandang wanita tuna susila.

Kama Sutra merupakan salah satu kitab agama Hindu yang mengajarkan tentang seksualitas manusia. Seksualitas merupakan sebuah hal yang tidak dapat  dipisahkan dari kehidupan manusia karena di dalam eksistensinya terdapat tiga hal yang dituntut dari manusia yaitu Dharma, Artha, dan Kama. Manusia harus dapat menyeimbangkan ketiga hal itu selain itu, manusia dapat mempraktekkan ketiga hal tersebut jika memang diharuskan untuk menjalani kehidupan  ini. Laki-laki lebih dititkberatkan untuk mencari Artha terlebih dahulu sebelum Dharma dan Kama sedangkan perempuan dianjurkan untuk menitikberatkan pada aspek Kama dibandingkan dengan Dharma dan Artha. Wanita tuna susila atau perempuan tuna susila dipandang sebagai golongan yang cukup terhormat di dalam masyarakat India karena mereka mempunyai pendidikan yang cukup tinggi dibandingkan perempuan pada umumnya. Selain itu mereka juga harus menguasai berbagai bidang yang pada waktu itu biasanya hanya dikuasai oleh laki-laki seperti bidang politik, seni, dan bidang-bidang lainnya.Hinduisme memandang bahwa kerja merupakan hakikat dari hidup sehingga tanpa bekerja maka manusia tidak dapat dikatakan ”hidup”. Hinduisme juga memandang bahwa segala sesuatu ada manfaatnya dan termasuk perempuan tuna susila. Perempuan tuna susila pada waktu itu di sukai karena pandangannya yang luas dengan pendidikan yang cukup tinggi. Mereka hanya mau berhubungan dengan laki-laki yang menurut mereka pantas, jadi tidak semua laki-laki dapat berhubungan dengan mereka. Hinduisme berpandangan bahwa hubungan seksual merupakan salah satu sarana untuk mengobati penyakit. Selain dari itu, mereka berpandangan bahwa Tuhan memanifestasikan diri-Nya di dalam segala sesuatu yang ada di dunia. Hinduisme memang merupakan salah satu paham yang beraliran Panteistik. Tuhan memanifestasikan diri-Nya juga dalam sperma atau air mani sehingga dalam hubungan seksual manusia terdapat manifestasi Tuhan. Oleh karena itu terdapat nilai penciptaan di dalam hubungan seksual. Di dalam aspek ini jelas terlihat bagaimana manusia dan Tuhan bekerja sama menciptakan makhluk baru yang diberi nama manusia.

Kata kunci: Kama Sutra, Hinduisme, Filsafat Manusia, Dharma, Artha, Kama.

KLONING DALAM PERSPEKTIF DON IHDE

KLONING DALAM PERSPEKTIF DON IHDE

ri Tarwiyani

Staff Pengajar Prodi Teknik Industri FT UNRIKA Batam

triAbstrak

Tulisan ini adalah sebuah tulisan yang menggunakan metode studi pustaka. Persoalan yang dibahas dalam tulisan ini antara lain apakah yang dimaksud dengan kloning, bagaimana pandangan Don Ihde tentang hubungan kebertubuhan teknologi, serta bagaimana pandangan Don Ihde tentang teknologi yang tertanam (embedded) dalam budaya terkait dengan relevansi kloning di Indonesia?

Don Ihde adalah salah seorang tokoh dalam bidang Filsafat Teknologi, sebuah cabang filsafat khusus yang mempersoalkan antara lain tentang hubungan manusia dengan teknologi. Don Ihde menggambarkan fenomen hubungan yang terjadi antara manusia dengan teknologi yaitu pertama hubungan kebertubuhan di mana pada hubungan kebertubuhan, alat digunakan sebagai perpanjangan dari tubuh manusia, menjadi sebagian dari tubuh manusia dalam relasinya dengan dunia sekitar sehingga dikatakan bahwa manusia “menubuh” dengan alat, kedua hubungan hermeneutis, dimana alat teknologi dibaca sebagai teks yang perlu ditafsirkan, dan ketiga hubungan keberlainan di mana antara manusia dan teknologi dipandang sebagai dua hal yang berbeda dan berdiri sendiri-sendiri. Don Ihde sendiri memiliki konsep bahwa teknologi embedded (tertananm) dalam budaya. Hal ini artinya bahwa sebuah alat teknologi akan dipandang berbeda jika diterapkan pada kebudayaan yang berbeda. Pandangan inilah yang kemudian digunakan untuk melihat teknologi klonase atau teknologi kloning di Indonesia. Teknologi klonase akan dapat diterima di Indonesia tetapi jika teknologi ini dapat mengankat harkat dan martabat manusia. Hal ini juga berarti bahwa kloning yang bertujuan untuk membuat klonase manusia belum dapat diterima di Indonesia apalagi jika melihat dampak negatif dari teknologi ini.

Kata Kunci: Don Ihde, Kloning, Filsafat Teknologi, Embedded.

A. Latar Belakang Masalah

Evolusi manusia merupakan sebuah perjalanan yang panjang. Manusia untuk sampai pada bentuk fisik dan kemampuan yang dimilikinya saat sekarang, menurut kaum Evolusionis, memerlukan waktu yang tidak sebentar. Theilhard de Chardine menyatakan bahwa evolusi tidak maju secara mekanistis, tidak hanya sekedar seleksi dan mutasi tetapi atas dasar kesadaran yang semakin berkembang. Kesadaran yang paling jelas terlihat pada manusia (Dahler, 2000:1001-102). Setelah manusia muncul ke dunia maka evolusi tidak berada pada perubahan fisik lagi tetapi berjalan ditingkat kesadaran atau pikiran sehingga ilmu pengetahuan dan teknologi adalah hasil dari evolusi kesadaran manusia.

EPISTEMOLOGI MELAYU DALAM TINJAUAN HISTORIS

EPISTEMOLOGI MELAYU DALAM TINJAUAN HISTORIS

Pheres Sunu Widjayengrono

Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam

 

peresAbstract

This article attempts to show the meaning of Malay in historical perspective with zeitgeist theoretical framework divided in three periods (contemporary, Islamic, and Buddhist periods). It’s study of intellectual history methodology and applies history method with using of related secondary sources. Comparative analysis and cultural approach’s applied to data interpretation so that useful for historical analysis. Each period has characteristic meaning depended on mentality situation and bias of ideas from previous period. This article assumes that each dominantly formal or governing power in each period is primary element and cause for cultural meaning and people’s acceptance of Malay definition.

Keywords: Malay, ethnic, society, cultural, identification.

Pendahuluan

Penggunaan kata atau istilah Melayu di masa kini telah dianggap sebagai suatu hal umum. Melayu dimaknai sebagai suatu identitas berkenaan dengan kelompok etnis serta identik dengan penggunaan unsur-unsur kebudayaan khas dalam wujud bahasa, kebiasaan, tradisi, dan pola hidup yang membedakan dengan suku-suku bangsa di Indonesia atau Asia Tenggara lainnya. Bahkan penggunaan makna Melayu diperluas dimana identitas Melayu tidak hanya dijadikan akar bagi identifikasi suatu komunitas sosio kultural tetapi juga hingga penamaan identifikasi geografis dan negara nasional modern. Dengan kata lain, dalam sudut pandang masyarakat masa kini, identifikasi Melayu dibatasi oleh suatu identitas dalam entitas geografis, sosial, dan kultural tertentu. Akan tetapi apakah makna sesungguhnya dan sejak kapan penggunaan kata Melayu mulai digunakan sebagai suatu identitas sosio kultural tentu menimbulkan tanda tanya besar bagi kita yang berdiam di Provinsi Kepulauan Riau dimana kata atau istilah Melayu merupakan realitas yang dijumpai dalam kehidupan keseharian. Kedudukan dan peran penting etimologi Melayu dalam pemaknaan suatu komunitas juga memiliki kesejajaran dengan proses etimologi identifikasi sosio kultural lainnya di Indonesia. Guna menjawab pertanyaan tersebut tentu harus dilakukan peninjauan historis dan kultural, serta komparasi etimologi dan identifikasi sosio kultural suku bangsa lainnya dengan fenomena dan eksplanasi diakronis.

KOMPARASI ETIMOLOGI CINA DAN SUNDA

                Berbeda dengan etimologi kata Melayu yang masih samar, asal mula penggunaan dan pemaknaan kata atau istilah Cina dan Sunda telah tersedia di dalam catatan kesejarahan. Hal ini dikarenakan proses diferensiasi sosial berkenaan dengan dinamika sosio politik dan historis di kedua etnis ini masih belum lama berselang dan bahkan masih tercatat dalam sumber-sumber tertulis bangsa Eropa. Tinjauan ringkas atas asal mula identifikasi ini berguna sebagai komparasi dalam penelusuran etimologi Melayu.

Fokus komparasi pertama adalah etimologi Cina berkenaan dengan identifikasinya di antara penduduk Nusantara sehingga memunculkan pertanyaan sejak kapan penggunaan identifikasi Cina dimulai dan dikenal oleh penduduk Nusantara. Sebagaimana diketahui, hubungan perdagangan, politik, sosial, dan budaya antara bangsa-bangsa di negeri Nusantara dan bangsa-bangsa di negeri Cina telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, namun ada perbedaan penyebutan identifikasi atas bangsa-bangsa dari negeri Cina. Rupanya, identifikasi sosio kultural berkorelasi dengan kekuasaan politik dan hal serupa juga terjadi dalam penyebutan istilah Cina. Pada masa kekuasaan Dinasti Ming di abad ke-14 hingga 17, bangsa-bangsa dari negeri Cina yang berkunjung ke selatan, atau kawasan Asia Tenggara diidentikan dengan Orang Taibenchu. Catatan kesejarahan tradisional dari kronik kerajaan Thailand, Melayu, Melaka, Jawa, dll. memberi pembuktian atas fakta historis ini. Penyebutan identifikasi sosial melalui penggunaan dan pemaknaan kata Cina justru baru terjadi di masa Dinasti Chin (Bangsa Manchu) yang berkuasa di abad 17-20. Dengan kata lain pemaknaan istilah Orang Cina baru terjadi di abad ke-17 dalam korelasi penduduk dari Negeri Chin atau rakyat Kerajaan Chin. Meskipun konsolidasi dan legitimasi kekuasaan politik rezim Chin masih membutuhkan proses dan waktu hingga seabad kemudian, generalisasi identifikasi sosial oleh bangsa non-Cina melakukan proses simplikasi atas landasan kekuasaan rezim politik Chin. Perubahan pemaknaan terjadi di masa Revolusi Nasional Cina di awal abad ke-20 dengan mengintrodusir kepada penduduk non-Cina atas identitas Tiong Hwa. Akan tetapi upaya membangun identitas baru ini tidak mampu mencapai tujuannya. Ketika bangsa non-Cina di dunia masih terbiasa menggunakan istilah Cina sebagai identifikasi sosial bangsa-bangsa atau ras dari negeri Cina, Revolusi Merah pimpinan Mao Tse Tung di tahun 1949 mengembalikan identitas sosio kultural masyarakatnya sejajar dengan penggunaan nama negaranya yaitu People’s Republic of China atau negeri Cina. (Leo Suryadinata, 1997: 9-11) Hal inilah yang kemudian terjadi di masa kini dimana penduduk Indonesia telah umum mengidentifikasikan suatu kelompok masyarakat atau ras tertentu dengan identitas Orang Cina.

Berbeda dengan identifikasi sosial Cina, dinamika identifikasi nama Sunda memiliki kurun waktu yang relatif terbatas. Hal ini dikarenakan dinamika sosio politik di tanah Sunda dan Indonesia umumnya di periode akhir lebih didominasi oleh penjajah Belanda sehingga berimplikasi terhadap stagnasi dinamika sosio kultural dan identifikasinya. Kini, istilah Orang Sunda  dikenal sebagai suatu suku bangsa sebagai penduduk ‘asli’ atau pertama yang mendiami daerah Provinsi Jawa Barat dan Banten dengan karakteristik bahasa, kebiasaan, dan tradisi berbeda dengan kelompok sosial atau suku bangsa Indonesia lainnya. Akan tetapi apakah identitas Orang Sunda merupakan hal ajeg dan tidak mengalami dinamikanya tersendiri sebagai dampak bias historisnya. Tentu saja hal ini harus ditinjau jauh ke belakang dimana identitas Sunda itu terbentuk. Serupa dengan identitas Cina, identitas Sunda juga memiliki kesejajaran dengan proses kekuasaan, dalam hal ini Kerajaan Sunda. Melemahnya kekuasaan dan kontrol Sriwijaya sejak abad ke-11 atas negeri-negeri taklukannya, menyebabkan berbagai pusat-pusat pemukiman di wilayah Jawa bagian barat mulai mengkonsolidasikan kekuatan sosio politiknya sebagai kesatuan politik atau kerajaan merdeka. Salah satunya ialah pemukiman padat penduduk di daerah hulu sungai Ciliwung, serta menamakan kerajaannya dengan bahasa suci keagamaan di masa tersebut yang berasal dari India yaitu Sunda. Dalam perjalanan sejarahnya di abad 12-16, kerajaan Sunda menjadi kerajaan terbesar dan paling berkuasa di wilayah Pulau Jawa bagian barat dengan menaklukan atau membawahi berbagai kerajaan vasal. Dengan wilayah inti Sungai Ciliwung yang bermuara di Kelapa (kini Jakarta) sebagai pusat, serta berbataskan Sungai Cisadane (kini Kota Tanggerang) di barat dan Sungai Citarum (kini Kabupaten Karawang) di timur, Kerajaan Sunda memiliki berbagai pengaruh politik baik taklukan ataupun di antara kerajaan-kerajaan besar di Jawa bagian barat, khususnya Kerajaan Galuh dimana mendominasi wilayah yang kini menjadi Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, dan Cirebon, serta Kerajaan Banten dimana mendominasi dataran rendah daerah Provinsi Banten kini. Generalisasi identifikasi sosial masyarakat non-Jawa Barat atas penduduk berbahasa rumpun Jawa Barat sebagai Orang Sunda memberi identitas atas penduduk negeri Sunda atau Kerajaan Sunda. (Zahorka Herwig, 2007: 28) Akan tetapi di masa lalu, identitas Sunda tidak serta merta diterima begitu saja oleh penduduk berbahasa rumpun Jawa Barat ini. Penduduk kerajaan Banten yang subordinat dan beroposisi terhadap Kerajaan Sunda terus berupaya menentang kekuasaan Kerajaan Sunda dengan mengindentifikasikan diri sebagai Orang Banten. Hal ini diduga diakibatkan oleh kisah panjang pertentangan kedua wilayah sejak masa kekuasan Tarumanegara dan Bantam di abad ke-5 sebagaimana dilaporkan dalam sumber Cina. (N. Daldjoeni, 1987: 17) Upaya Banten dalam mempertahankan eksistensi identitasnya dan melepaskan diri dari identitas Sunda kian melemah dengan dihapuskannya Kesultanan Banten di awal abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda, dan berkembangnya ilmu pengetahuan barat yang melakukan generalisasi dan kategorisasi terhadap penduduk berbahasa rumpun Jawa bagian barat dengan melekatkan nama Sunda sebagai identitas suatu suku bangsa. Kian menguatnya kedudukan generalisasi etnis Sunda dalam ilmu pengetahuan modern dan pengakuannya oleh Negara Indonesia menyebabkan pengakuan setengah hati masyarakat pesisir Banten kontemporer dengan senantiasa meletakkan unsur diferensiasi dalam kesatuan etnis Sunda. (Robert Hefner, 1997: 58–61)

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA INTERAKTIF DAN MOTIVASI TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA SMA NEGERI I GUNUNG TALANG

Desma Yulia

Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam

 

desmaAbstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) Perbedaan kemampuan siswa yang diajar menggunakana media interaktif dengan siswa yang mendapat pembelajaran dengan tanpa media interaktif terhadap hasil belajar sejarah; (2) perbedaan hasil belajar siswa dengan motivasi tinggi yang diajar dengan menggunakan media interaktif dan media noninteraktif; (3) perbedaan hasil belajar siswa dengan motivasi rendah yang diajar dengan menggunakan media interaktif dan noninteraktif; (4) Interaksi antara media pembelajaran dengan motivasi belajar sejarahsiswa pada materi pokok Perkembangan Negara-Negara Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia siswa SMA Negeri I Gunung Talang  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa IPS kelas XI SMA Negeri I Gunung Talang. Pengambilan sampel dilakukan dengan model random kelompok, dan didapatkan kelas XI IPS III sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPS 1 sebagai kelas kontrol. Teknik pengumpulan data menggunakan metode tes untuk variabel hasil belajar sejarah dan angket motivasi untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa. Teknik analisis data menggunakan anova dua arah. Berdasarkan hasil analisis data di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menggunakan media interaktif  efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Sejarah.

Kata kunci: media interaktif, motivasi, hasil belajar, sejarah.

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia pendidikan secara langsung maupun tidak langsung saat ini dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akhir-akhir ini telah bermunculan berbagai produk teknologi yang dapat dipergunakan dalam dunia pendidikan untuk memberikan peluang kepada para pendidik dan praktisi pendidikan untuk berusaha meningkatkan kualitas pendidikan melalui peningkatan proses belajar mengajar serta penemuan metode yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Guru merupakan ujung tombak dan titik sentral untuk mewujudkan kemajuan pendidikan di sekolah. Betapapun baik dan lengkapnya kurikulum, metoda, media atau sumber belajar, sarana dan prasarana lainnya tanpa adanya guru profesional mustahil tujuan pendidikan dapat tercapai dengan baik. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah adalah sejarah. Mata pelajaran sejarah menuntut siswa untuk mampu menguasai konsep dan mampu untuk menganalisisnya. Oleh karena itu, diperlukan media untuk mempermudah siswa menguasai materi pelajaran dengan tujuan menimbulkan minat, motivasi, kreativitas, meningkatkan aktivitas siswa, dan membuat pembelajaran menjadi bermakna yang akhirnya akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Agar pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar, salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemilihan media pembelajaran yang tepat sehingga dapat meningkatkan kompetensi dan kemampuan siswa. Menurut Arsyad (2002: 20) “pemakaian media pembelajaran dalam proses pembelajaran dapat menimbulkan minat yang baru, membangkitkan motivasi/rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik”. Dengan menggunakan media guru dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian siswa sehingga menimbulkan motivasi, dan dapat mengatasi keterbatasan indra, ruang dan waktu, serta dapat memberikan keseragaman pengamatan dan persepsi, juga dapat dijadikan sebagai pengontrol arah dan kecepatan belajar. Di sinilah letak pentingnya media sebagai perantara atau saluran yang membawa informasi atau materi dari sumber belajar pada penerima. Jika media atau saluran itu baik dan tepat sesuai dengan muatan yang dibawa, maka informasi akan diterima baik oleh siswa. Demikian sebaliknya, jika media tidak tepat akan mengalami gangguan, maka informasi yang akan disampaikan tidak dapat diterima dengan baik oleh siswa. Jadi penggunaan media sangat penting dalam proses pembelajaran.

Sesuai dengan kurikulum SMA kelas XI, materi sejarah pada semester I, terdapat beberapa standar kompetensi yang dirasa sulit bagi siswa dan tingkat ketuntasan yang dicapai siswa rata-rata masih dibawah KKM yaitu “Menganalisis Perjalanan Bangsa Indonesia Pada Masa Negara-Negara Tradisional”. Pada Standar Kompetensi ini dibahas mengenai Perkembangan Kehidupan Negara Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia. Disini siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep-konsepnya. Oleh karena itu, peneliti mencarikan solusi untuk mengatasi permasalahan siswa dengan merancang media yang dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Siswa tersebut juga bisa mengulang-ulang kembali pelajaran di rumah dengan mengerjakan latihan-latihan yang disiapkan dalam media interaktif.

Program pembelajaran media interaktif merupakan paket program yang memberikan informasi atau materi tentang pengenalan, penggunaan, serta penerapan pembelajaran software atau perangkat lunak tertentu menggabungkan unsur audio visual, yang disertai menu-menu pilihan tentang isi materi yang disajikan sehingga menawarkan keunggulan dalam pemanfaatan bidang pembelajaran khususnya mata pelajaran sejarah yang saat ini dirasakan sangat dibutuhkan keberadaannya dalam membantu memperkaya pengetahuan siswa dan mengatasi permasalahan sumber daya manusia pengajar di sekolah.

Dalam kegiatan belajar motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan membentuk  arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar. Di sekolah ada juga siswa yang bermotivasi tinggi  seperti belajar dengan penuh hati-hati, memiliki kemauan yang tinggi, mengerjakan tugas dengan baik, dan siswa yang bermotivasi rendah seperti siswa malas, tidak menyenangkan, suka membolos, jenuh, tidak  respek dan lain-lain. Dalam hal demikian berarti siswa kurang termotivasi dalam belajar.

KERANGKA TEORI DALAM PENELITIAN DAN PEMAHAMAN SEJARAH Studi Kasus Sejarah Politik Keruntuhan Kerajaan di Surakarta Pada Masa Kemerdekaan

KERANGKA TEORI DALAM PENELITIAN DAN PEMAHAMAN SEJARAH Studi Kasus Sejarah Politik Keruntuhan Kerajaan di Surakarta Pada Masa Kemerdekaan

Pheres Sunu Widjayengrono

Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam

peresAbstract

This article attempt to show importance of a theoreticalframework. Surakarta’skingdomdownfall phenomenaand strategic group concept is usedas case study.It applies history method with comparative analysis,political, and descriptive approach. Complexity of political phenomena is determined by temporary and situational purpose which aproriates to individual or strategic group interest.It could be made a point to explain inconsistence and unapproriate of political attitude and behavior in a case of political group in Surakarta’s kingdom downfall. Nevertheles,application of strategic group concept for political history could interpret all political phenomenaas impact of flexibility and elasticity of strategic groups. This concept facilitates researchers or readers to achieve historicalobjective and prevent superficially politicgeneralization.

Keywords: strategic group, kingdom, Surakarta, independence period

PENDAHULUAN

            Pemahaman kerangka teoritis pada suatu penelitian sejarah tidak terlepas dari penggunaan suatu teori sebagai kerangka pikir dan analisa guna membedah fenomena di dalamnya.Hal ini bermaksud agar suatu kerangka teoritis dapat menjadi panduan atau rambu agar  dan pemikiran yang dicurahkan dalam suatu penelitian sejarah politik memiliki tujuan yang jelas dan terarah, serta tidak menyimpang dan melebar ke dalam ranah abstrak dan tidak jelas. Tulisan ini bermaksud untuk menyampaikan pentingnya pemahaman kerangka teoritissertamemberi sumbangan ide guna merefleksikan kerangka teoritis dalam penelitian dan fenomena kesejarahan bagi mahasiswa sejarah atau pembaca pemula.Pemilihan topik politik dikarenakan oleh besarnya minat pembaca terhadap fenomena perpolitikan baik dalam kerangka akademis maupun praktis.Perbedaan di antara keduanya cukup besar, dan artikel ini sendiri berada di dalambidang sejarah politik dalam sudut pandang akademis.Hal ini tentunya memiliki konsekuensi bahwa pemilihan topik sejarah politik disesuaikan dengan kerangka metodologis dan teoritis terkait ilmu politik, meskipun dalam banyak hal bidang perpolitikan itu sendiri tidak terlepas dari fenomena lainnya seperti sosial, ekonomi, dan budaya.

            Kasus yang diangkat dalam makalah ini ialah dinamika sosio politik berkenaan dengan keruntuhan kerajaan tradisional Surakarta di tahun 1946 atau sering disebut sebagai masa kemerdekaan atau revolusi fisik.Kegaduhan politik di masa ini juga diiringi dengan revolusi sosial yang menghancurkan dan membongkar sistem birokrasi tradisional dalam posisi kontra progresif.Semangat nasionalisme, dengan ideologi komunisme dan sosialisme yang populer di kalangan rakyat di masa tersebut, memberi harapan akan terbentuknya tatanan dunia baru. Hal ini pula yang mendorong kejatuhan kerajaan tradisional Surakarta di tengah arus nasionalisme karena Surakarta di masa tersebut Surakarta digunakan sebagai pusat pemerintahan PM(Perdana Menteri) Sutan Syahrir dan tempat dimana komunisme dari berbagai aliran berkompetisiseiring kepentingan politik parlemen dan perebutan sumber dukungan rakyat.[1]

            Berdasarkan tema tersebut tulisan ini sendiri hanya merupakan suatu refleksi dimana peninjauan politik dalam sejarah Indonesia harus dilihat secermat mungkin guna menghindari kesalahan interpretasi ataupun ‘pemihakan’ yang tak seharusnya, sebagaimana umum terjadi di kalangan pembaca dan sejarawan jika mengkaji periode ini.Penggunaan suatu kerangka teori akan sangat berpengaruh terhadap analisa dan pemahaman historis berkenaan dengan tema politik, dan makalah ini akan mencoba menggunakan suatu kerangka teori dalam memandang revolusi sosial di Surakarta dari sudut pandang berbeda. Guna mempermudah penelaahan dan analisa data, instrumen penelitian dalam makalah ini didasarkan atas metode penelitian historis melalui pendekatan sosial politik.

 

KELOMPOK STRATEGIS SEBAGAI KONSEP ALTERNATIF SEJARAH SOSIO POLITIK INDONESIAPADA PERIODE KEMERDEKAAN

            Pemahaman atas keruntuhan kerajaan tradisional,umumnya senantiasa dikaitkan dengan konsep revolusi sosial yang diartikan sebagai perubahan radikal dan cepat atas suatu tatanan sosial dari lama menuju baru.Suasana egalitarian dan semangat nasionalisme dalam sumber dan referensi berkenaan dengan masa kemerdekaan justru seringkali membawa pembaca larut dan terpengaruhalur teks.Padahal, teks yang diberikan juga merupakan produk subyektif terutama berkenaan dengan kerangka dan hasil analisis.Seringkali kondisi ini membawa pembaca yang tidak jeliturut larut dan mengamini kerangka pikir yang ditawarkan.

            Akan tetapi jika dikaji lebih lanjut, suatu fenomena politik terkait revolusi sosial memiliki cita rasa berbeda jika dipandang dalam analisa kelompok politik dan justru memperlihatkan sifat tumpang tindih.Sebagaimana umum dikenal,revolusi sosial seringkali ditinjau sebagai sebuah perwujudan konflik kelas antara penguasa dan rakyat.Bagi pemahaman sejarah politik Indonesia kontemporer,konseptualisasi ini membawa konsekuensi pengabaian kelas menengah yang justru di masa pendudukan Jepang merupakan kelas paling berpengaruh serta memiliki mobilitas sosial tertinggi.Kelas menengah merupakan roh penggerak revolusi nasional Indonesia.Pengabaian atas kelas menengah di masa kemerdekaan berarti memunculkanpembatasan pemahaman sejarah sosio politik Indonesia.

            Di dalam analisa kelompok politik juga dapat menunjukan sisi lain dari jalannya ‘alur besar’ revolusi sosial atau fenomena politik lainnya. Pada hakikatnya kompetisi politik diidentikkan dengan kompetisi kekuasaan baik secara kelompok maupun individu dengan berbagai macam alasan dan tujuan.[2]Seringkali tujuan-tujuan tersebut bersifat individual dan sangat bergantung atas kemampuan individu dalam melebur ke dalam kelompok-kelompok politik dalam ikatan longgar.Suatu kelompok politik tidak terbukti memiliki pola statis sehingga dapat menggambarkan realitas sesungguhnya dari dinamika politik yang terjadi.Tentunya hal ini membutuhkan kejelian guna melihat secara diakronis pengelompokan dan individu politik yang terlibat.[3]

            Guna memudahkan analisa tersebut maka makalah ini menawarkan konsep kelompok strategis.Kelompok strategis adalah sebuah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang terikat oleh suatu kepentingan, yakni melindungi atau memperluas hasil yang diambil alih bersama. Hal-hal yang berkenaan dengan perluasan dan pengambilalihan akses tidak hanya berbentuk harta benda tetapi juga berupa kekuasaan, prestise, ilmu pengetahuan dan tujuan keagamaan.[4]Kelompok strategis terbentuk secara khas di daerah terbuka dimana terdapat kesempatan guna perolehan baru. Hal ini dapat terjadi dengan dimasukkannya ideologi baru, teknologi modern, model legitimasi teologis, dll. Konsep tersebut dapat dibedakan menurut metode okupasinyabaik secara individual, kolektif atau kooperatif sehingga mereka giat secara politis dan menggalakkan perbaikan dan perubahan sistem politik yang berlaku.

Copyright © 2026 FKIP UNRIKA BATAM.

Powered by PressBook Green WordPress theme