Contact Us

Contact Us

Dalam rangka mempererat tali silaturahmi, Fakultas Keguruan ilmu pendidikan mengadakan acara halal bihalal yang mengundang ustadz Agus Jamaludin Malik dengan Tema “Silaturahmi dan silaturahim” tema tersebut diaggap penting karna dalam membangun sebuah organisasi haruslah dengan kerjasama yang baik dan didukung dari berbagai pihak yang terlibat.
Silatuhrahmi memang tidak asing di dengar tetapi mempunyai arti kata yang Powernya sangat Besar, dan sangat berpengaruh dalam kehidupan guna membangun Kehidupan yang lebih baik. Seseorang tidak dapat dikatakan menjalin hubungan silaturrahmi bila ia berkasih sayang dengan orang lain sementara saudara dan kerabatnya dia jadikan musuh. Silaturahmi yang baik dapat menghasilkan kinerja yang baik dikarenakan Hubungan yang Baik Akan menciptakan kebaikan pula.
Acara yang dilaksanakan pada hari selasa taggal 26 agustus 2014 di kampus unrika. Serta membahas agenda semesteran perkuliahan. Yang di hadiri oleh dekan FKIP ibu Fitri Yanti.,M.Si.,M.Pd beserta wakil dekan I bapak Noto winarto.,M,Si dan Ibu wakil Dekan II Arnesih.,MM dan juga para Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Kepada yang terhormat seluruh Pimpinan, Staf, Dosen Tetap Full Time serta keamanan dan kebersihan UNRIKA Batam.
Bersama ini kami sampaikan dalam Rangka Hari Raya/Lebaran tahun 2014, dapat kami sampaikan sebagai berikut :
Sesuai dengan arahan Ketua Yayasan PTB bahwa apabila Pimpinan dan Staff serta Dosen Tetap Full time, Keamanan, Kebersihan Melanggar aturan pada Point 1 dan 2, maka akan diberikan sanksi tegas.
Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerja samanya kami ucapkan terimakasih.
a/n. Rektor
(Rahman Hasibuan, Se, M.Si)
Wakil Rektor. II
DIBERITAHUKAN KEPADA SELURUH MAHASISWA DAN MAHASISWI FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN (FKIP) PROGRAM STUDY PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS, MATEMATIKA, BIOLOGI, SEJARAH DAN BIMBINGAN KONSELING, TELAH BERAKHIRNYA SEMESTER GENAP T.A 2013/2014, MAKA DIBERITAHUKAN HAL-HAL SEBAGAI BERIKUT :
BAGI MAHASISWA YANG TIDAK MEMENUHI PERSYARATAN TERSEBUT DIATAS, MAKA TIDAK DIPERKENANKAN UNTUK MENGIKUTI PERKULIAHAN SEMESTER GANJIL T.A 2014/2015.
DEMIKIAN TERIMAKASIH
BATAM/27 JUNI 2014
BAAK FKIP
DEDY SYAIFULLAH N.S.T., M. PD
Tamama Rofiqah
Dosen Tetap Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Riau Kepulauan Batam
Problems of students at the school increasingly complex problems with the rapid development of world education. This requires counselor in the school have the skills and abilities in performing services Guidance and Counseling for students in schools. Ability and skill is evident from the competency of counselor. Thus, to achieve the necessary development and improvement of their competence. This study were aims at: (1) current counselor competence, (2) development efforts undertaken with respect to the principal counselor competence, (3) differences in counselor competence based accreditation of schools and (4) differences in counselor competence based on the length of service.This research used descriptive approach. The population of this research was the counselor in Senior High School at Rejang Lebong, amounting to 16 people. All counselor as sample. The instrument that had been used was close quesstionnaire by Likert scale model. Percentage technique was used to analized the first. Narative technique was used to analyzed the second research intended. t-test technique was used to analyzed the third and fourth research intended.The results of research are: (1) the general competence of counselor is currently quite good, (2) construction effort undertaken is of a general nature intended for all teachers in schools, (3) there are differences in counselor competence on school accreditation, although not significant, and (4) there are differences in counselor competence based on length of service, although not significantly. Given the results of this study are expected to carry out the duties counselor professionalism in schools refers to a predetermined standard of competence and to increase the principal’s role in the provision of services on Guidance and Counseling in school.
Key Word : Competence, Counselor
PENDAHULUAN
Kondisi perubahan sosial yang amat cepat dan makin kompleksnya keadaan masyarakat di era globalisasi dewasa ini, telah mengubah kondisi kehidupan sosial, ekonomi, politik dan aspek psikologis manusia. Dampak tersebut sudah pula menembus dunia pendidikan, meliputi segala unsur didalamnya, yakni siswa, guru, manajemen dan masyarakat terkait. Kompleksitas yang diakibatkan oleh perubahan tersebut membawa berbagai implikasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Orang mengharapkan pendidikan kita hendaknya dapat memberikan sesuatu yang sempurna. Berbagai tuntutan kualifikasi personel sekolah, termasuk guru Bimbingan Konseling (selanjutnya disingkat BK) sebagai suatu profesi harus dipenuhi dalam upaya membekali siswa agar mencapai perkembangan diri yang optimal.
Sentral pengembangan BK, secara spesifik difokuskan kepada kompetensi guru BK dalam menampilkan kinerja tertinggi yang ditujukan kepada sasaran pelayanan. Kompetensi guru BK tersebut dikembangkan dengan mengacu pada pandangan hakikat manusia. Keterandalan guru BK dalam menampilkan kinerja dapat menumbuhkan kepercayaan publik maupun akuntabilitas, sehingga profesi ini semakin diakui dan dimanfaatkan keberadaannya. Kompetensi itu perlu dibakukan, dicapai sesuai harapan tiap guru BK di sekolah.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Bab IV pasal 28 ayat 3, menyatakan bahwa kompetensi guru sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Pernyataan di atas, dipertegas dalam Undang-undang No.14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat 1 yang menyebutkan bahwa kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.
Oleh karena itu, guru BK seperti juga guru pada umumnya dituntut untuk memiliki keempat kompetensi seperti tersebut di atas, karena untuk mencapai pelayanan yang bermutu dalam mengembangkan siswa secara optimal, dibutuhkan guru BK yang berkompeten dalam memberikan pelayanan melalui kinerja yang berkualitas.
Pada kenyataannya di sekolah, berdasarkan hasil observasi pada bulan Maret-Juni 2012 masih ditemukannya guru BK yang belum optimal dalam menunjukkan kinerjanya. Hal ini ditandai dengan perbandingan rasio guru BK dengan siswa yang belum ideal, masih adanya guru BK yang bingung terhadap kegiatan pelayanan yang harus diberikan setiap minggunya, memberikan pelayanan tanpa program kerja yang jelas dan tanpa assessment.Selain itu, guru BK juga kesulitan dalam membuat satuan layanan, masih adanya guru BK yang mengajar mata pelajaran tertentu, menjaga meja piket, mengecek absen siswa, mengikuti razia sekolah, menghukum siswa yang terlambat, kurang ramah terhadap siswa, tidak menampilkan sosok pendidik yang berwibawa, kurang mampu menjalin kerjasama dengan guru lain dan mengkredit-poinkan kesalahan siswa. Di samping itu, dukungan dari pihak sekolah terutama kepala sekolah juga masih kurang.
Keadaan di atas tentunya tidak dapat dibiarkan terus menerus terjadi di sekolah, hal ini lambat laun akan berdampak kurang baik pada dunia pendidikan khususnya eksistensi BK di sekolah. Karena kinerja yang ditunjukkan oleh guru BK belum sesuai dengan tuntutan profesi BK. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu upaya dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya adalah dengan melakukan peningkatan dan pengembangan kompetensi guru BK melalui berbagai kegiatan pembinaan dan pelatihan.
Ahmad Yanizon
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Bimbingan Konseling FKIP UNRIKA Batam
Low social adjustment of students who can hinder the development of adolescents, including social relationships with peers. Group counseling can be used to improve the social adjustment of students. This study aimed to reveal students’ social adjustment through group counseling services. An experimental pretest and posttest control group design was used to test whether the guidance of a group can better improve the social adjustment of students. Two groups of students selected from a purposive sample of MAN 1 Curup and MAN 1 Kepahiang. Each group consisted of 10 students. Guidance for the experimental group performed in six sessions. Data the social adjustment of pretest-posttest gathered through. The findings of this study were: (1) there are significant differences between pre-test and post test experimental group on social adjustment. (2) there was no difference in pre-and post-test control group students on social adjustment. (3) there are significant differences in social adjustment between the experimental and control groups. Based on these findings, it can be concluded that students’ social adjustment can be enhanced through the guidance of the group.
Kata kunci: Penyesuaian Sosial Siswa, Layanan Bimbingan Kelompok
PENDAHULUAN
Satu hal yang menjadi perhatian para siswa ketika memasuki lingkungan sekolah baru adalah beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Adaptasi ini merupakan cara siswa untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang baru dimasukinya terutama dalam hal penyesuaian sosial dengan teman sebaya. Melalui penyesuaian sosial, para siswa memperoleh pemuasan akan kebutuhan-kebutuhannya.
Masa remaja merupakan masa yang singkat dan sulit dalam perkembangan kehidupan manusia. Menurut Chaplin (2004:12), adolescence adalah periode antara pubertas dan kedewasaan, usia yang diperkirakan 12 sampai 21 tahun bagi anak perempuan yang lebih cepat matang dibandingkan anak laki-laki, dan antara 13 hingga 22 tahun bagi anak laki-laki.
Salah satu tugas perkembangan remaja yang harus dicapai adalah berkaitan dengan hubungan sosial. Havighurst (dalam Syamsu Yusuf, 2006:74). mengemukakan tugas-tugas perkembangan sosial pada masa remaja yaitu:
Keberhasilan remaja dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan di atas mengantarkannya ke dalam suatu kondisi penyesuaian sosial yang baik sehingga remaja yang bersangkutan dapat merasa bahagia, harmonis dan dapat menjadi orang yang produktif, namun sebaiknya apabila gagal, maka remaja akan mengalami ketidak bahagian atau kesulitan dalam kehidupannya. Sedangkan Hurlock (2004:287) mendefinisikan penyesuaian sosial sebagai keberhasilan seseorang untuk menyesuaikan diri pada orang lain pada umumnya dan terhadap kelompok khususnya. Penyesuaian sosial sebagai proses dari penyesuaian diri berlangsung secara kontinue, di mana dalam kehidupannya, seseorang akan dihadapkan pada dua realitas, yaitu diri dan lingkungan sekitarnya. Hampir sepanjang kehidupannya seseorang selalu membutuhkan orang lain untuk dapat berinteraksi satu sama lain. Menurut Kartono (2000:259) penyesuaian adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungan, sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan emosi negatif lainnya sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis. Istilah penyesuaian mengacu kepada seberapa jauhnya kepribadian seseorang mempunyai manfaat secara baik dan efisien dalam masyarakat.
Proses penyesuaian sosial yang dilakukan remaja berbeda-beda dalam arti bersifat unik. Keunikan tersebut bermula pada hakekat kepribadian itu sendiri yang merupakan pembentukan faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu remaja dan faktor dari luar yaitu lingkungan. Ketidakmampuan remaja dalam melakukan pilihan, yang juga berarti tidak mampu mengambil keputusan, merupakan indikator ketidakmampuan menyesuaikan diri.
Menurut Schneiders (dalam Moh. Ali dan Moh. Asrori, 2005:181), setidaknya ada lima faktor yang dapat mempengaruhi proses penyesuaian sosial individu, yaitu:
Remaja dianggap memiliki penyesuaian sosial yang baik, jika perilaku remaja tersebut mencerminkan keberhasilan dalam proses sosialisasi sehingga cocok dengan tempat mereka menggabungkan diri dan diterima sebagai anggota kelompok maupun anggota masyarakat. Jika dikaitkan dengan lingkungan sekolah, penyesuaian sosial siswa yang efektif akan tercermin dalam sikap atau perilaku saling menghargai dan menerima hubungan interpersonal dengan guru, pembimbing, teman sebaya, mentaati peraturan sekolah dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar dan kegiatan lainnya di sekolah. Penyesuaian sosial siswa yang efektif akan memberikan dampak positif terhadap penerimaan siswa dalam kelompoknya.
Hurlock (1997:287) menyebutkan terdapat empat kriteria dalam menentukan sejauh mana penyesuaian sosial seseorang mencapai ukuran baik, yaitu sebagai berikut:
Perilaku sosial individu sesuai dengan standar kelompok atau memenuhi harapan kelompok maka individu akan diterima sebagai anggota kelompok. Bentuk dari penampilan nyata adalah a) aktualisasi diri yaitu proses menjadi diri sendiri, mengembangkan sifat-sifat dan potensi diri, b) keterampilan menjalin hubungan antar manusia yaitu kemampuan berkomunikasi, kemampuan berorganisasi, dan c) kesediaan untuk terbuka pada orang lain, yang mana sikap terbuka adalah sikap untuk bersedia memberikan dan sikap untuk bersedia menerima pengetahuan atau informasi dari pihak lain.
Individu dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap berbagai kelompok, baik kelompok teman sebaya maupun kelompok orang dewasa. Bentuk dari penyesuaian diri adalah a) kerja sama dengan kelompok yaitu proses beregu (berkelompok) yang mana anggota-anggotanya mendukung dan saling mengandalkan untuk mencapai suatu hasil mufakat, b) tanggung jawab yaitu sesuatu yang harus kita lakukan agar kita menerima sesuatu yang dinamakan hak, dan c) setia kawan yaitu saling berbagi, saling memotivasi dalam kebaikan.
Individu dapat menunjukan sikap yang menyenangkan terhadap orang lain, terhadap partisipasi sosial, serta terhadap perannya dalam kelompok maka individu akan menyesuaikan diri dengan baik secara sosial. Bentuk dari sikap sosial adalah ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial di masyarakat, berempati, dapat menghormati dan menghargai pendapat orang lain.
Individu harus dapat menyesuaikan diri dengan baik secara sosial, anak harus merasa puas terhadap kontak sosialnya dan terhadap peran yang dimainkannya dalam situasi sosial. Bentuk dari kepuasan pribadi adalah kepercayaan diri, disiplin diri dan kehidupan yang bermakna dan terarah.
You must be logged in to post a comment.