Skip to content

FKIP UNRIKA BATAM

  • Home
  • Tentang Kami
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Sejarah
    • Dosen
  • Program Studi
    • Pendidikan Bahasa Inggris
    • Pendidikan Biologi
    • Pendidikan Matematika
    • Pendidikan Sejarah
    • Bimbingan Konseling
    • Pendidikan Profesi Guru (PPG)
  • Akreditasi Prodi
  • Kurikulum
  • News
  • Contact Us
  • Toggle search form

THE ANALYSIS OF SCIENCE TEACHER QUESTIONING SKILLS IN JUNIOR HIGH SCHOOL IN DELI SERDANG DISTRICT

Posted on 09-05-2014 By Administrator

Nurhaty Purnama Sari

Dosen Tetap Prodi Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam

 

nurhatyABSTACT

A descriptive research that aims to describe: (1) the level of teacher questions based on gender and teaching experience; (2) students’ response to the level of teacher question; (3) teacher’s ability to apply basic and advance questioning skills based on gender and teaching experience has been implemented in Junior High School. About 20 science teachers who teach in 8th grade of Junior High School come from 9 schools have been involved this study. Data were collected through observation and questionnary. The results showed that Junior High School science teacher mostly used low-level cognitive questions (85,8%). A few of other used high-level cognitive questions (14,2%). There was no difference even gender and teaching experience. In level questions, teacher mostly asked about structure (42,80%) and organ (34,20%). A few of other asked about mechanism (18,40%) and desease (18,40%) in circulatory system chapter. Mostly students’ response to the level of teacher questions were simultaneous (93.88%), with scientific answer was very low category (39,80%). In basic skills components, teacher mostly used spread with very low category (10%). In advanced questioning skills components have changed the level of cognitive demand (35%), usage tracking questions with various techniques (15%), and improving the interaction (50%) were very low category. There were no differences basic and advanced asking skills even gender and teaching experience.

Keywords: Science teacher, questioning, skills

1. Pendahuluan

 Mustikasari (2008:5) di SMA Negeri Kota Pontianak kelas X menemukan bahwa sebagian besar guru sudah menyusun persiapan pertanyaan yang ditulis dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), tetapi jenis pertanyaan masih dalam tingkat rendah. Jenis pertanyaan yang disusun oleh guru mata pelajaran Biologi Kelas X di SMA Negeri Kota Pontianak masih digolongkan tingkat rendah didasarkan atas taksonomi Bloom dan teknik bertanya guru mata pelajaran Biologi Kelas X di SMA Negeri Kota Pontianak masih belum benar. Pertanyaan memiliki peranan penting untuk menjalin komunikasi guru dengan murid. Dengan bertanya guru mampu menganalisa seberapa jauh siswa memahami materi yang disampaikan oleh guru. Cunningham (1971:88) menyatakan bahwa pertanyaan guru adalah variabel yang sangat berperan dapat mempengaruhi perolehan pembelajar. Berhasil tidaknya guru memfungsikan pertanyaan dalam proses belajar mengajar akan sangat tergantung pada kualitas keterampilan bertanya. Samwali (2008:20) menyatakan bahwa keterampilan bertanya diperlukan dalam rangka mengumpulkan, menggali, menginformasikan, dan menyimpulkan informasi bagi kepentingan tertentu yang biasanya sudah direncanakan. Penelitian Keterampilan Bertanya Guru IPA SMP Negeri Kabupaten Deliserdang ini bertujuan untuk: (1) mengetahui tingkat pertanyaan dan guru IPA dalam tingkatan Taksonomi Bloom yang disampaikan secara lisan melalui proses pembelajaran mengenai pokok bahasan Sistem Peredaran Darah Manusia yang dikaitkan dengan jenis kelamin dan pengalaman mengajar guru; (2) respon siswa terhadap tingkat pertanyaan di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Deliserdang Tahun Pelajaran 2010/2011; dan (3) mengetahui penggunaan komponen keterampilan bertanya  guru IPA pada pokok bahasan Sistem Peredaran Darah saat kegiatan belajar mengajar berlangsung yang dikaitkan dengan jenis kelamin dan pengalaman mengajar guru di kelas VIII SMP Negeri Kabupaten Deliserdang Tahun Pelajaran 2010/2011.

2. Tinjauan Teoritis

Pertanyaan sudah ada sejak jaman Socrates (abad ke-5 sebelum Masehi). Rahman (2010:10-19) menyimpulkan bahwa pemberian pertanyaan dalam pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Guru hendaknya dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan tajam yang mengarahkan siswa dapat memahami konsep. Hal ini dapat berdampak pada tingginya penguasaan konsep pada siswa. Guru harus banyak membuat pertanyaan yang progresif yang dapat dibuat melalui tingkatan-tingkatan taksonomi Bloom, agar guru juga dapat mengevaluasi seberapa efektif kegiatan belajar mengajar di kelas dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Pertanyaan, taksonomi Bloom dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengklasifikasikan pertanyaan. Taksonomi Bloom yang terdiri dari pertanyaan kognisi tingkat rendah (mengingat dan memahami) dan tingkat tinggi (aplikasi, menganalisis, evaluasi, dan kreasi) merupakan salah satu cara  yang dipakai dalam merumuskan tujuan pengajaran (Forehand, 2005:03). Taksonomi ini dapat juga diterapkan untuk mengklasifikasikan pertanyaan yang diajukan guru di kelas.

Dalam memberikan pertanyaan kepada siswa juga diperlukan keterampilan yaitu keterampilan bertanya. Allen et al (1969:72) berpendapat bahwa sebelum dapat memanfaatkan pertanyaan untuk merangsang siswa belajar, seorang guru perlu memiliki kelancaran dalam bertanya (fluency in asking questions). Baru setelah itu dia dapat meningkatkan keterampilan bertanyanya untuk menggali dan melacak, mengajukan pertanyaan tingkat tinggi, dan pertanyaan divergen. Samwali (2008:20) menyatakan bahwa keterampilan bertanya diperlukan dalam rangka mengumpulkan, menggali, menginformasikan, dan menyimpulkan informasi bagi kepentingan tertentu yang biasanya sudah direncanakan.

Turney (1981) menyatakan ada 8 unsur yang perlu diperhatikan dan 4 unsur dalam cara guru bertanya. Delapan unsur tersebut yaitu: (1) pengungkapan secara jelas dan singkat, (2) pemberian acuan; (3) pemusatan; (4) pemberian waktu berpikir; (5) pemindahan giliran; (6) penyebaran; (7) kehangatan dan keantusiasan; dan (8) pemberian tuntunan. Sedangkan 4 unsur yang perlu dihindari adalah: (1) mengulang pertanyaan; (2) mengulang jawaban siswa; (3) menjawab pertanyaan sendiri; dan (4) mengundang jawaban serentak.

Related

Pendidikan Biologi

Post navigation

Previous Post: PROBLEM BASED LEARNING DENGAN KELAS KONVENSIONAL DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMB
Next Post: STUDI TINGKAT KERUSAKAN VEGETASI MANGROVE DI PERKAMPUNGAN DAPUR ARANG KAMPUNG BAGAN TANJUNG PIAYU KOTA BATAM (The Study of Mangrove Vegetation Damage at Kampung Bagan in Tanjung Piayu)

More Related Articles

KAJIAN FORMULASI DAN ISOTERMIK SORPSI AIR BUBUR JAGUNG INSTAN Jurnal Prodi
SUPLEMENTASI FITOBIOTIK PEGAGAN (CENTELLA ASIATICA (L.) URBAN) DALAM PAKAN TERHADAP PERFORMAN AYAM BROILER Jurnal Prodi
PROBLEM BASED LEARNING DENGAN KELAS KONVENSIONAL DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMB Pendidikan Biologi
PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN STRUKTUR TUMBUHAN KELAS VIII DI SMP HANG KASTURI BATAM TAHUN PELAJARAN 2013/2014. Pendidikan Biologi
PERBEDAAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA PADA POKOK BAHASAN DINAMIKA POPULASI PADA HEWAN ANTARA KELAS PBL (PROBLEM BASED LEARNING) DENGAN KELAS KONVENSIONAL DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FKIP UMB Pendidikan Biologi
ANALYSIS OF LEARNING PROCESS ON HEREDITARY TOPICS IN BIOLOGY SUBJECT AT SMP NEGERI 2 LENGAYANG KABUPATEN PESISIR SELATAN. Pendidikan Biologi

Copyright © 2026 FKIP UNRIKA BATAM.

Powered by PressBook Green WordPress theme

 

Loading Comments...
 

You must be logged in to post a comment.