Contact Us

Contact Us

Paulus Roy Saputra, Rusgianto
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Matematika FKIP UNRIKA Batam
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan keefektifan pembelajaran geometri berbantuan cabri dan pembelajaran geometri berbantuan geogebra ditinjau dari prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy siswa SMP. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu desain pretest-posttest non equivalent group design. Penelitian ini menggunakan dua kelompok eksperimen tanpa kelompok kontrol. Populasi penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas VII SMP Santa Maria Banjarmasin. Sampel dua kelas, yaitu kelas VIIA dan kelas VIIB ditentukan secara acak. Kelas VIIA menggunakan pembelajaran geometri berbantuan cabri dan kelas VIIB menggunakan pembelajaran geometri berbantuan geogebra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditinjau dari prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy siswa: (1) pembelajaran geometri berbantuan cabri efektif, (2) pembelajaran geometri berbantuan geogebra efektif, (3) terdapat perbedaan pembelajaran geometri berbantuan geogebra dan cabri; (4) pembelajaran geometri berbantuan geogebra lebih efektif dari pembelajaran geometri berbantuan cabri.
Kata Kunci : cabri, geogebra, prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy
Pendahuluan
Pemerintah memberikan prioritas yang tinggi pada perkembangan sektor pendidikan, didasarkan pada asumsi bahwa melalui pendidikan pembangunan bangsa Indonesia akan berhasil dengan baik. Didukung dari hasil minyak bumi, gas alam, kekayaan hewani, dan kekayaan hayati tanpa sentuhan tehnologi tentulah tidak dapat dikembangkan secara maksimal. Sentuhan teknologi ini dimulai dari tingkat awal sampai yang tertinggi. Utamanya untuk memiliki kompetensi tehnologi tingkat tinggi diperlukan warga negara yang memiliki pendidikan tinggi pula. Namun dibalik perkembangan itu, warga negara Indonesia tersebut di atas, masih menghadapi permasalahan yang berat, yaitu kualitas sumber daya manusianya sampai saat ini masih di bawah negara-negara tetangga.
Hal yang disebut di atas, bisa dilihat pada salah satu kualitas kemampuan siswa menengah pertama dalam matematika di Indonesia pada skala internasional yang cukup memprihatinkan. Fakta ini bersumber dari Programme for International Student Assessment (PISA, 2009: 135). Penelitian ini tujuannya untuk perbandingan atau benchmarking literasi matematika di berbagai negara di dunia. Menempatkan posisi Indonesia pada ranking 61 dari 65 negara partisipan. Fakta lainnya yang cukup memprihatinkan, bersumber dari hasil riset Global Creativity Index (GCI, 2011:41). Penelitian ini melakukan perbandingan kreatifitas dalam berbagai inovasi dan tehnologi diberbagai negara di dunia. yang menempatkan posisi Indonesia di 81 dari 82 negara yang menjadi partisipan.
Banyak faktor yang diduga sebagai penyebab masih rendahnya kualitas kemampuan matematika siswa sekolah. Salah satunya adalah pembelajaran matematika yang masih dianggap sulit oleh siswa. Contohnya, salah satu materi yang cukup sulit dalam pembelajaran matematika adalah geometri. Hal tersebut terungkap dari Persentase Penguasaan Materi Soal Matematika, ujian Nasional sekolah SMP Santa Maria Banjarmasin. Bisa di lihat pada tabel 1. Daya serap siswa terhadap materi bangun datar :
Tabel 1
Hasil Ujian Nasional Matematika di SMP Santa Maria Banjarmasin
Pada tabel 1 di atas menunjukkan bahwa prestasi belajar pada geometri khususnya materi bangun datar segi empat dan segitiga mulai dari tahun hasil UN 2008-2010 masih berada di bawah standar KKM pada sekolah SMP Santa Maria Banjarmasin yaitu 70.
Berdasarkan hasil wawancara, guru matematika SMP Santa Maria Banjarmasin mengatakan bahwa pembelajaran geometri termasuk pembelajaran yang sulit bagi siswanya. Khususnya pada materi bangun datar (segi empat dan segitiga). Salah satu faktor yang cukup menjadi pertimbangan adalah faktor usia anak yang masih baru saja lulus dari sekolah dasar. Pada usia seperti itu siswa masih tahap pengalaman pictorial/gambar (iconic), yang mana masih sangat membutuhkan visualisasi spasial melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik untuk memahami bentuk geometri secara jelas.
Faktor lainnya, pokok bahasan bangun segitiga dan segi empat merupakan pokok bahasan terakhir pada semester II, sehingga banyak mengaitkan konsep materi sebelumnya yang berkaitan. Selain itu juga, siswa sering terbalik dalam memahami sifat-sifat bangun datar dalam bangun segi empat. Salah satu contohnya, pemahaman sifat-sifat pada persegi dan belah ketupat yang mirip (sisi-sisi yang berdekatan sama panjang) sehingga menyamakan bangun persegi adalah belah ketupat. Dalam proses pembelajaran matematika, guru juga masih menggunakan peralatan seadanya seperti busur, penggaris, dan papan tulis untuk menjelaskan materi, hal ini juga menjadi faktor penting dimana minimnya inisiatif guru menyediakan media belajar/alat bantu dalam mengatasi permasalahan yang terjadi antara kebutuhan visualisasi spasial kepada siswa, faktor umur anak, dan pentingnya penggunaan media belajar yang mampu memberikan pemahaman yang lebih luas kepada anak.
Mengamati proses belajar mengajar di lapangan, guru juga masih menerapkan pembelajaran konvensional, umumnya guru lebih mendominasi proses belajar mengajar sehingga pembelajaran cenderung monoton yang menyebabkan siswa merasa jenuh dan tidak menarik. Hal ini juga berakibat, minimnya pengalaman yang bermakna dibenak siswa untuk bisa memahami konsep bangun segitiga dan segi empat. Selain itu juga guru belum menerapkan pembelajaran yang memacu siswa untuk berpikir kreatif. Alasannya karena guru harus dikejar oleh waktu untuk menyelesaikan kurikulum yang diformalkan, sehingga tidak cukup waktu untuk melaksanakan.
Yulian Sari
Prodi Pendidikan Matematika Universitas Riau Kepulauan
Artikel ini mengkaji solusi atau penyelesaian sistem persamaan differensial linier homogen orde satu
(1)
dimana yaitu agar selalu bernilai nonnegatif. Untuk sistem (1) dengan , jika matriks A adalah eksponensial positif eventual, maka solusi untuk sistem tersebut dinamakan sebagai solusi positif eventual. Sifat-sifat agar matriks adalah matriks eksponensial positif eventual digunakan dalam pembahasan. Artikel ini merupakan kajian kembali tentang syarat cukup dan menambahkan hasil analisis tentang syarat perlu agar solusi adalah solusi positif eventual dengan adalah adalah matriks positif eventual untuk suatu .
Kata Kunci : solusi positif eventual, matrik eksponensial positif eventual, differensial linier homogen orde satu.
Diberikan suatu sistem persamaan diferensial linier homogen orde satu sebagai berikut.
(1)
dimana dan . Dalam literatur [2] dinyatakan bahwa solusi sistem (1) adalah
. (2)
Perlu diperhatikan bahwa solusi (2) dapat bernilai nonnegatif atau negatif. Salah satu cara agar bernilai nonnegatif adalah dan . Dalam situasi tertentu, tidak selalu positif untuk setiap . Matriks yang mempunyai sifat ada sedemikian sehingga disebut sebagai matriks eksponensial positif eventual [2]. Untuk sistem (1) dengan , jika matriks A adalah eksponensial positif eventual, maka solusi untuk sistem tersebut dinamakan sebagai solusi positif eventual [3].
Syarat cukup bagi solusi sistem (1) adalah solusi positif eventual telah dikaji dalam [1]. Tulisan ini memaparkan kembali syarat cukup tersebut dan menambahkan syarat perlu agar solusi sistem (1) adalah solusi positif eventual.
Definisi 1. [1] Untuk sebarang matriks ,
didefinisikan sebagai matriks eksponensial dari A, dimana , dan adalah matriks identitas.
Dahrul Aman Harahap
Dosen Tetap Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau Kepulauan Batam
DAHRUL AMAN HARAHAP. Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Struktur Tumbuhan Kelas VIII di SMP Hang Kasturi Batam Tahun Pelajaran 2013/2014.
Penelitian yang dilakukan di SMP Hang Kasturi Batam dari bulan April sampai Bulan Juni Tahun 2014 bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Team Assisted Individualization (TAI) Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Struktur Tumbuhan Kelas VIII di SMP Hang Kasturi Batam. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen menggunakan populasi seluruh siswa kelas VIII dimana sampel penelitian yaitu kelas VIIIC sebagai kelas kontrol dan kelas VIIB sebagai kelas eksperimen dengan teknik pengambilan sampel acak sederhana (Simple random Sampling)
Data penelitian adalah hasil belajar Siswa kelas VIII yang mengikuti proses pembelajaran sistem dalam kehidupan tumbuhan. Adapun yang menjadi variabel bebas adalah (X) yaitu pemberian model Team Assisted Individualization dan varibel (Y) yaitu hasil belajar siswa. Data penelitian diperoleh menggunakan tes hasil belajar berupa tes objektif pilihan ganda yang dilaksanakan setelah keseluruhan proses pembelajaran berlangsung.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik statistik deskriftif dan teknik statistik inferensial. Analisis deskriptif dilakukan untuk menyajikan data setiap kelompok perlakuan dengan uji t (t-test) pada taraf signifikansi ? = 0.05. maka di dapat thitung 3.299 > ttabel 2.002yang berarti hipotesis yang dikemukakan diterima yaitu model Team Asssted Individualization berpengaruh nyata terhadap hasil belajar biologi siswa kelas VIII SMP Hang Kasturi Batam pada pembelajaran struktur tumbuhan.
Kata kunci : Model Team Assisted Individualization (TAI ) dan Hasil Belajar
BAB I. PENDAHULUAN
Berdasarkan observasi penulis hasil belajar biologi siswa masih rendah. Nilai rata-rata siswa masih jauh dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah. KKM untuk mata pelajaran biologi adalah 65.
Tabel 1. Nilai rata-rata siswa semester ganjil kelas VIII di SMP Hang Kasturi Batam tahun ajaran 2011/2012
| No | Kelas | Jumlah Siswa | Nilai rata-rata UAS Biologi |
| 1 | VIII A | 33 Siswa | 60,36 |
| 2 | VIII B | 30 Siswa | 64,2 |
| 3 | VIII C | 30 Siswa | 59,60 |
Sumber : Guru Biologi Kelas VIII SMP Hang Kasturi Batam
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI merupakan model pembelajaran yang membentuk kelompok kecil yang heterogen dengan latar belakang cara berfikir yang berbeda untuk saling membantu terhadap siswa lain yang membutuhkan bantuan. Dalam model ini, diterapkan bimbingan antar teman yaitu siswa yang pandai bertanggung jawab terhadap siswa yang lemah. TAI (Team Assisted Individualization) dapat diterjemahkan sebagai jenis pembelajaran dengan Bantuan Individual Dalam Kelompok (Bidak).
Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal dalam penyampain materi sistem dalam kehidupan tumbuhan dibutuhkan suatu model pembelajaran yang akan menunjang pencapaian hasil belajar yang kita inginkan. Maka dari itu dalam pembelajaran ini dipilih model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) untuk mendapatkan hasil belajar yang baik. Metode ini sangat efektif bila diaplikasikan dengan kondisi siswa yang memiliki masalah dalam penilaian yang jauh dari standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan sekolah.
Dengan ini penulis melakukan penelitian terhadap “Pengaruh penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan sistem dalam kehidupan tumbuhan kelas VIII di SMP Hang Kasturi Batam Tahun Ajaran 2012/2013”.
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, dapat diidentifikasi beberapa masalah sebagai berikut :
Hasil belajar biologi masih rendah.
Stategi yang digunakan guru biologi belum bervariasi
Kurangnya upaya guru terhadap inovasi pada model pembelajaran
Adapun batasan dalam penelitian ini adalah, sebagai berikut :
“Model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) atau dibandingkan dengan kelas konvensional terhadap hasil belajar siswa pada pokok bahasan Struktur Tumbuhan kelas VIII di SMP Hang Kasturi Batam Tahun Pelajaran 2013/2014”
Berdasarkan dari latar belakang dan batasan masalah diatas,maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah ”Apakah berpengaruh pembelajaran tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan kelas konvensional terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Hang Kasturi Batam”
Berdasarkan dari rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah “untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran tipe Team Assisted Individualization (TAI) dengan kelas konvensional terhadap hasil belajar siswa kelas VIII di SMP Hang Kasturi Batam”
BAB II METODE PENELITIAN
Penelitian ini di laksanakan di SMP Hang Kasturi Batam bertempat di Tanjung Uma RT 04 RW 01 Kelurahan Tanjung Uma Kecamatan Lubuk Baja Kota Batam pada semester genap tahun pelajaran 2013-2014, waktu penelitian dilaksankan mulai bulan April – Juni 2014.
Metode penelitian ini adalah eksperimen semu. Perlakuan yang penulis berikan pada kelas eksperimen adalah menggunakan model pembelajaran Team Assisted Individualization, sedangkan pada kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Rancanagan penelitian yang digunakan adalah Randomized Control Group Posttest Only Design yang terlihat pada tabel 3 dibawah ini.
Tabel 2. : Randomized Control Group Posttest Only Design
| Kelas | Perlakuan | Test |
| Eksperimen | T | |
| Kontrol | T |
Keterangan :
X: penerapan model pembelajaran dengan menggunakan tipe Team Assisted Individualization (TAI )
Y: Hasil belajar siswa pada pokok bahasan sistem dalam kehidupan tumbuhan
T : tes yang diberikan diakhir pokok bahasan (posttest)
Riduwan (2011) mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan dari karakteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi objek penelitian.
Tabel 3. Populasi penelitian siswa kelas VIII di SMP Hang Kasturi Batam tahun Pelajaran 2012/2013.
| No | Kelas | Jumlah siswa |
| 1 | VIII A | 33 |
| 2 | VIII B | 30 |
| 3 | VIII C | 30 |
(sumber : Guru Biologi Kelas VIII SMP Hang Kasturi Batam)
Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Sampel dalam penelitian ini akan diambil dengan menggunakan teknik random sampling yaitu pengambilan sampel dari anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata (tingkatan) dalam anggota populasi tersebut dan didapat kelas VIII B sebagai kelas eskperimen dan kelas VIII C sebagai kelas kontrol.
Nadzifah Ajeng Daniyati
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Matematika FKIP UNRIKA Batam
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan kemampuan verbal, kemampuan interpersonal, dan minat belajar dengan prestasi belajar matematika siswa SMP. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian expost facto. Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas VIII SMP di Kabupaten Purworejo. Sampel yang berasal dari sembilan sekolah di tiga daerah ditentukan dengan cluster random sampling technique. Pengumpulan data menggunakan tes dan angket. Hasil analisis menunjukkan kemampuan verbal, kemampuan interpersonal, dan minat belajar matematika secara bersama-sama berhubungan dengan prestasi belajar matematika siswa SMP, dimana kontribusi yang diberikan sebesar 38,60% serta persamaan regresi yang diperoleh ialah Y = -1,385 + 0,635X1 + 0,039X2 + 0,085X3. Hubungan antara kemampuan verbal dan prestasi belajar matematika dengan kontribusi sebesar 23,62%; hubungan antara kemampuan interpersonal dan prestasi belajar matematika dengan kontribusi sebesar 1,64% dan hubungan antara minat belajar matematika dan prestasi belajar matematika dengan kontribusi sebesar 6,15%.
Kata Kunci: kemampuan verbal, kemampuan interpersonal, minat belajar matematika, dan prestasi belajar matematika siswa.
Pendahuluan
Matematika telah memberikan kontribusi dalam kehidupan sehari-hari mulai dari hal yang sederhana seperti perhitungan dasar (basic calculation) sampai hal yang kompleks dan abstrak seperti penerapan analisis numerik dalam bidang teknik dan sebagainya. Untuk itu, pemerintah berupaya untuk melakukan perbaikan terhadap pembelajaran matematika, baik dalam hal kurikulum maupun proses pembelajaran. Berbagai sarana dan prasarana disediakan agar dapat mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Hal itu ditujukan untuk meningkatkan penguasaan siswa terhadap matematika. Penguasaan matematika ditunjukkan dengan prestasi belajar matematika siswa. Prestasi belajar dapat dijadikan salah satu tolok ukur keberhasilan pembelajaran. Prestasi belajar yang tinggi, menunjukkan bahwa pembelajaran sudah terlaksana dengan baik. Sebaliknya, rendahnya prestasi belajar menunjukkan bahwa perlu adanya koreksi dan perbaikan terhadap pelaksanaan pembelajaran.
Prestasi belajar yang dicapai tidak sama untuk setiap siswa. Di Kabupaten Purworejo, rata-rata sekolah untuk mata pelajaran matematika yang tertinggi sebesar 9,65 dan terendah sebesar 2,00 (DKHUN SMP/MTS Tahun Pelajaran 2011/2012). Hal itu menunjukkan bahwa terdapat keragaman dalam hal penguasaan matematika siswa di Purworejo. Keragaman tersebut diduga terjadi karena berbagai faktor, antara lain kemampuan siswa dalam matematika. Kemampuan matematika meliputi beberapa kemampuan yaitu: komunikasi matematis, penalaran matematis, pemecahan masalah, koneksi matematis, dan representasi matematis (NCTM, 2000: 7). Salah satu kemampuan matematika yang perlu dikuasai siswa adalah kemampuan komunikasi matematika. Untuk dapat berkomunikasi matematis, siswa perlu menguasai kemampuan verbal.
Kemampuan verbal adalah kemampuan yang menyangkut pengertian terhadap ide-ide yang diekspresikan dalam bentuk kata (Hidayat, 2002: 2). Aspek-aspek kemampuan verbal meliputi analogi kata-kata, perbendaharaan kata, dan hubungan kata-kata (Koyan, 2003: 7). Kemampuan verbal diperlukan dalam setiap mata pelajaran, salah satunya matematika. Dalam pembelajaran matematika, kemampuan yang perlu dikuasai siswa tidak terbatas pada kemampuan berhitung saja, tetapi juga kemampuan verbal. Hal itu dikarenakan di dalam matematika banyak sekali simbol yang digunakan, baik berupa huruf maupun non huruf. Di samping itu, matematika juga tidak bisa dilepaskan dari kegiatan penyelesaian masalah. James (2010) mengemukakan bahwa ada hubungan antara kemampuan pemecahan masalah matematika dan kemampuan verbal siswa. Permasalahan matematika dapat disajikan dalam berbagai bentuk soal, salah satunya soal cerita. Untuk dapat menyelesaikan soal cerita, siswa harus memahami makna yang ada dalam soal. Hasil penelitian Seifi, Haghverdi, & Fatemeh. (2012) menunjukkan bahwa kesulitan siswa kebanyakan muncul dari pemahaman masalah kata, membuat rencana dan mendefinisikan kosakata terkait sehingga siswa menggunakan strategi yang kurang tepat. Sejalan dengan pendapat Elliot et al (2000: 314) “the first and most basic step in problem solving is to represent the information in either symbolic or diagrammatic form”. Apabila siswa salah dalam memahami soal, akan membuat siswa tidak benar dalam menentukan strategi penyelesaiannya sehingga hasil yang diperoleh juga salah.
Kemampuan verbal akan membantu siswa dalam memahami makna dan membuat model matematika untuk menyelesaikan permasalahan matematika tersebut. Apabila kemampuan verbal siswa kurang baik, maka siswa juga akan sulit dalam menyelesaikan soal matematika sehingga secara tidak langsung akan berdampak pada pencapaian prestasi belajar. Oleh karena itu, kemampuan verbal ini sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar. Penelitian Olatoye & Aderogba (2011) mengemukakan siswa untuk mencapai prestasi belajar yang baik, mereka harus memiliki kemampuan verbal dan kemampuan numerik yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Awofala, et al (2010: 15). Dari penelitian tersebut, Awofala, et al menemukan bahwa “students with high verbal ability gained more in mathematical word problems achievement than students with low verbal ability”. Siswa dengan kemampuan verbal yang baik menunjukkan pencapaian prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa dengan kemampuan verbal yang kurang baik.
Di samping kemampuan verbal, terdapat kemampuan lain yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Hasil penelitian di Harvard University Amerika Serikat pleh Akbar (Patimah, 2011) menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), salah satunya kemampuan verbal. Akan tetapi juga didukung oleh soft skills yang terdiri dari intrapersonal skills dan interpersonal skills. Intrapersonal skills berkaitan dengan kemampuan dalam memahami diri sendiri sedangkan interpersonal skills merupakan keterampilan untuk bersosialisasi.
Kemampuan berinteraksi sebagai bagian dari soft skill yang dimiliki seseorang akan membantunya dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, terjadi interaksi antara guru dengan siswa atau antara seorang siswa dengan siswa yang lain. Interaksi tersebut dapat membantu perkembangan siswa, salah satunya perkembangan kognitif. Kemampuan individu dalam berinteraksi sosial sangat diperlukan dalam proses belajar. Dengan demikian kemampuan interpersonal seseorang memegang peranan yang cukup penting. Menurut Buhrmester, dkk (Dayakisni dan Hudainah, 2006: 21), aspek kemampuan interpersonal antara lain: (1) kemampuan berinisiatif; (2) kemampuan untuk bersikap terbuka (self-disclosure), (3) kemampuan bersifat asertif; (4) kemampuan memberikan dukungan emosional; dan (5) kemampuan dalam mengatasi konflik.
Jaya Dwi Putra
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Matematika FKIP UNRIKA Batam
Penelitian ini merupakan penelitian dengan desain pretest-posttest experiment group design, yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan accelerated learning terhadap peningkatan komunikasi matematis siswa SMP. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 1 Kecamatan Harau, dan pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan teknik purposive sampling, yaitu dengan memilih siswa kelas VIII sebanyak dua kelas sebagai sampel. Penelitian ini terdiri dari dua kelompok pembelajaran, yaitu pembelajaran accelerated learning dan pembelajaran konvensional. Setiap kelompok terdiri dari 28 siswa yang terbagi berdasarkan kategori Kemampuan Awal Matematis (KAM), yaitu kategori KAM tinggi, sedang dan rendah di kelasnya. Untuk mendapatkan data hasil penelitian digunakan instrumen berupa tes kemampuan komunikasi matematis, angket, observasi dan wawancara. Dalam perhitungan ujicoba instrumen diggunakan program Anates dan perhitungan statistik dengan menggunakan SPSS 17. Perbedaan rataan peningkatan kemampuan penalaran dan komunikasi matematis berdasarkan keseluruhan siswa ditentukan dengan menggunakan uji-t. Perbedaan rataan peningkatan kemampuan penalaran dan komunikasi matematis berdasarkan kategori KAM ditentukan dengan menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian ini adalah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapat pembelajaran accelerated learning lebih baik daripada siswa yang mendapat pembelajaran konvensional ditinjau berdasarkan keseluruhan siswa serta kategori KAM sedang, sedangkan pada kategori KAM tinggi dan rendah tidak terdapat perbedaan yang signifikan.
Kata kunci: pembelajaran Accelerated Learning, kemampuan awal matematis, kemampuan komunikasi matematis.
A. PENDAHULUAN
Menggali dan mengembangkan kemampuan komunikasi matematis siswa perlu mendapat perhatian guru dalam pembelajaran matematika. Siswa mestinya mendapat kesempatan yang banyak untuk menggunakan kemampuan bernalar dan komunikasinya. Untuk dapat mencapai standar-standar pembelajaran itu, seorang guru hendaknya dapat menciptakan suasana belajar yang memungkinkan bagi siswa belajar secara aktif dengan mengkonstruksi, menemukan dan mengembangkan pengetahuannya. Dengan belajar matematika diharapkan siswa mampu menyelesaikan masalah, menemukan dan mengkomunikasikan ide-ide yang muncul dalam pikiran siswa. Untuk itu dalam pembelajaran matematika diharapkan siswa memiliki kemampuan penalaran dan kemampuan komunikasi matematis, yang tentunya diharapkan dapat mencapai hasil yang memuaskan.
Kenyataan menunjukkan bahwa pembelajaran yang dikembangkan guru selama ini kurang mendukung berkembangnya kemampuan komunikasi matematis siswa, pembelajaran bersifat satu arah, siswa tidak terlibat secara aktif dalam menggali konsep-konsep atau ide-ide matematis secara mendalam dan bermakna, sehingga siswa menerima pengetahuan dalam bentuk yang sudah jadi dan lebih bersifat hafalan. Hal ini diperkuat dari hasil penelitian Diani (2010) yang menyatakan bahwa kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa masih tergolong rendah. Selain itu Hutajulu (2010) dan Suhendar (2007) dari hasil penelitian mereka, masing-masing menyatakan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa masih rendah.
Di samping itu, salah satu indikator yang menunjukkan mutu pendidikan di Indonesia cenderung masih rendah adalah hasil penilaian internasional mengenai prestasi belajar siswa. Berdasarkan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) (2011), dapat diketahui bahwa hasil survei TIMSS pada tahun 2003 menunjukkan prestasi belajar siswa kelas VIII (delapan) Indonesia berada di peringkat 34 dari 45 negara. Walaupun rerata skor naik menjadi 411 dibanding 403 pada tahun 1999, Indonesia masih berada di bawah rerata untuk wilayah ASEAN. Prestasi belajar siswa Indonesia pada TIMSS 2007 lebih memprihatinkan lagi, karena rerata skor siswa turun menjadi 397, jauh lebih rendah dibanding rerata skor internasional yaitu 500. Prestasi Indonesia pada TIMSS 2007 berada di peringkat 36 dari 49 negara.
Tidak jauh berbeda dari TIMSS, pada Programme for International Student Assesment (PISA) prestasi belajar anak-anak Indonesia yang berusia sekitar 15 tahun masih rendah. Pada PISA tahun 2003, Indonesia berada di peringkat 38 dari 40 negara, dengan rerata skor 360. Pada tahun 2006 rerata skor siswa naik menjadi 391, yaitu peringkat 50 dari 57 negara, sedangkan pada tahun 2009 Indonesia hanya menempati peringkat 61 dari 65 negara, dengan rerata skor 371, sementara rerata skor internasional adalah 496 (Balitbang, 2011).
Hasil PISA yang rendah tentunya disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah siswa Indonesia pada umumnya kurang terlatih dalam menyelesaikan soal-soal yang menuntut kemampuan penalaran dan komunikasi matematis, karena dua kemampuan tersebut termasuk kemampuan yang diujikan.
Tabel 1 Proporsi Skor Sub-sub Komponen Proses yang Diuji
dalam Studi PISA
| Komponen | Kemampuan yang diujikan | Skor (%) |
| Proses | Mampu merumuskan masalah secara matematis. | 25 |
| Mampu menggunakan konsep, fakta, prosedur dan
penalaran dalam matematika. |
50 | |
| Menafsirkan, menerapkan dan mengevaluasi hasil
dari suatu proses matematika. |
25 |
Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwasannya pada proporsi skor sub-sub komponen yang diuji dalam studi PISA termasuk di dalamnya kemampuan penalaran dan komunikasi matematis. Mampu merumuskan masalah secara matematis berkaitan dengan kemampuan komunikasi matematis. Mampu menggunakan konsep, fakta, prosedur dan penalaran dalam matematika berkaitan dengan kemampuan penalaran matematis. Menafsirkan, menerapkan dan mengevaluasi hasil dari suatu proses matematika juga berkaitan dengan kemampuan penalaran dan komunikasi matematis.
Berdasarkan hasil PISA diketahui, bahwa kemampuan matematis khususnya kemampuan komunikasi siswa di Indonesia masih rendah. Semua kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki oleh siswa tidak serta merta dapat terwujud hanya dengan mengandalkan proses pembelajaran yang selama ini terbiasa ada di sekolah, dengan urutan-urutan langkah seperti, diajarkan teori/definisi/teorema, diberikan contoh-contoh dan diberikan latihan soal. Proses belajar seperti ini tidak membuat anak didik berkembang dan memiliki kemampuan bernalar berdasarkan pemikirannya, tapi justru lebih menerima ilmu secara pasif.
Hal senada diungkapkan oleh Turmudi (2008) yang memandang bahwa pembelajaran matematika selama ini kurang melibatkan siswa secara aktif, sebagaimana dikemukakannya bahwa “pembelajaran matematika selama ini disampaikan kepada siswa secara informatif, artinya siswa hanya memperoleh informasi dari guru saja sehingga derajat “kemelekatannya” juga dapat dikatakan rendah”. Pembelajaran seperti ini mengakibatkan siswa sebagai subjek belajar kurang dilibatkan dalam menemukan konsep-konsep pelajaran yang harus dikuasainya.
Agar kesulitan yang dihadapi siswa dapat diatasi dan kemampuan komunikasi matematis dapat ditingkatkan, dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang mampu memberikan kebermaknaan belajar bagi siswa. Menurut Madnesen dan Sheal (Suherman, 2004) bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cara siswa belajar. Implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. Oleh karena itu guru mesti menghadirkan metode pembelajaran yang dapat mendukung cara belajar siswa secara aktif.
Belajar aktif adalah belajar di mana siswa lebih berpartisipasi aktif sehingga kegiatan siswa belajar jauh lebih dominan daripada kegiatan guru mengajar. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Kilpatrick (Turmudi, 2012) yang menyatakan bahwa “knowledge is actively constructed by cognizing subject and not passively received from the environment” yang artinya pengetahuan dikonstruksi oleh siswa secara aktif dalam mengenali subjek bukan secara pasif menerima dari lingkungan. Siswa dapat aktif dalam mengkonstruksi maupun mengorganisir belajarnya sendiri dengan memanfaatkan bahan ajar yang disediakan oleh guru. Siswa tidak hanya dapat memanfaatkan beragam sumber belajar, melainkan pembelajaran yang dilaluinya akan dirasakan sebagai belajar sambil bermain.
Salah satu bentuk pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa adalah Accelerated Learning. Dalam pembelajaran Accelerated Learning siswa dilibatkan secara aktif agar mencapai percepatan dalam mengenal dan menguasai konsep matematika yang diajarkan. Percepatan yang dimaksud diusahakan oleh guru kepada siswa melalui: pemberian tugas di rumah untuk membaca dan memahami materi pelajaran yang akan dipelajari berikutnya, memberi kesempatan untuk bertanya, menjawab pertanyaan, dan menjelaskan setiap jawaban yang diberikan, serta adanya interaksi, diskusi dan kerjasama dengan teman, sehingga kemampuan penalaran dan komunikasi matematis siswa dapat ditingkatkan. Meier (2002) berpendapat bahwa dalam melakukan aktivitas belajar, siswa pada dasarnya melalui empat tahap penting yaitu: Persiapan (preparation), Presentasi (presentation), Latihan (practice), Kinerja (performance).
Proses belajar dimulai dari adanya minat untuk mempelajari sesuatu. Siswa mengembangkan kemampuan bernalarnya dalam melakukan persiapan yang relevan dengan usaha yang diperlukan untuk melakukan aktivitas belajar. Adanya minat untuk mempelajari suatu pengetahuan atau keterampilan diikuti dengan tahap berikutnya yaitu presentasi. Dalam tahap ini siswa mengkomunikasikan ide-ide matematisnya serta mulai berkenalan dengan pengetahuan dan keterampilan yang diminati untuk dipelajari. Tahap selanjutnya adalah tahap latihan. Pada tahap ini siswa mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang dipelejari dengan pengetahuan dan keterapilan yang telah dikuasai sebelumnya. Tahap akhir dari proses belajar adalah tahap saat siswa memperlihatkan kinerja melalui aplikasi pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi yang nyata.
Windi Kartika Sari, Fitrah Amelia, Yulian Sari
Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan(FKIP)
Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) Batam
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 11 Batam. Hasil belajar matematika dirasa masih rendah dengan rata-rata kelas di bawah 70, serta kurangnya motivasi yang diberikan oleh pendidik. Masih banyak pendidik yang menggunakan bahan ajar yang sering digunakan. Perlu adanya bahan ajar yang menarik. Komik merupakan salah satu bahan ajar yang inovatif, variatif, dan menarik. Peran komik memiliki peranan yang sangat penting hal ini komik merupakan media yang tepat untuk proses pembelajaran, karena keterlibatan emosi pembacanya akan sanagt mempengaruhi memori dan daya ingat akan materi pelajaran yang didapatkan. Penelitiaan ini menggunakan metode eksperimen dengan jenis penelitian eksperimen semu. Populasi sasaran adalah kelas VIII7 sebagai kelas eksperimen dengan memberikan perlakuaan berupa pembelajaran menggunakan bahan ajar komik dan kelas VIII6 sebagai kelas kontrol dengan memberikan perlakuan berupa pemberian pelajaran menggunakan bahan ajar yang sering digunakan. Pengambilan sampel pada penelitiaan ini menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Data dianalisis dengan teknik analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial menggunakan uji t satu pihakpada taraf signifikan (? ) 0,05. Berdasarkan perhitungan analisis infrensial hasil belajar dari pengujian hipotesis diperoleh thitung sebesar3,581 sedangkan perhitungan analisis infrensial hasil belajar dari pengujian hipotesis diperoleh thitung sebesar 3,028 dengan nilai ttabel sebesar 1,986. Dengan demikian nilai thitung lebih besar dari ttabel yang berarti hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Dapat disimpulkan bahwa terdapat efektifitas bahan ajar komik terhadap hasil belajar dan motivasi belajar peserta didik kelas VIII materi lingkaran di SMP Negeri 11 Batam Tahun Pelajaran 2013/2014.
Kata kunci: Komik, Hasi Belajar, Motivasi Belajar, Teknik Cluster Random Sampling.
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Persoalan pendidikan merupakan persoalan yang tidak akan pernah ada akhirnya. Hal terpenting dalam pendidikan adalah upaya yang dilakukan agar kualitas pendidikan semakin lama semakin membaik. Pendidikan yang berkualitas memerlukan aspek-aspek yang terkait untuk mendukung perubahan, perbaikan, dan pembaruan yang dapat mempengaruhi keberhasilan pendidikan. Aspek-aspek tersebut meliputi pendidik, peserta didik, kurikulum, serta metode pembelajaran yang digunakan. Karena pendidikan merupakan hak asasi sekaligus hak konstitusional yang dimiliki warga negara dan negara wajib memenuhinya.
Pendidik dan calon pendidik memiliki tanggung jawab yang besar dan perlu diperhatikan secara serius. Kompetensi–kompetensi inti yang harus dan wajib dimiliki oleh seorang pendidik dan dosen diantaranya adalah mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang dikuasai dan menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik untuk kompetensi pedagogis, serta mengembangkan materi pembelajaran secara kreatif dan dapat memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi guna perkembangan diri untuk kompetensi profesional. Sehingga pendidik diharuskan mampu menyusun bahan ajar yang inovatif guna menciptakan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2008). Kegiatan pembelajaran di sekolah biasanya hanya menekankan pada transformasi informasi faktual dan pengembangan penalaran yaitu pemikiran logis menuju pencapaian satu jawaban benar atau salah. Menurut Winkel (1991) dalam Sutikno, (2013) mengartikan pembelajaran sebagai seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal yang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung di dalam diri peserta didik.
Matematika adalah pengetahuan dasar yang sangat penting untuk menguasai sains dan teknologi yang diperlukan pada era globalisasi saat ini. Kenyataan yang terjadi, dalam kehidupan sehari-hari tidak ada orang yang terlepas dari Matematika. Termasuk proses belajar dan pembelajaran di sekolah. Namun kenyataan menunjukkan banyaknya keluhan dari peserta didik tentang pelajaran Matematika yang sulit, tidak menarik, dan membosankan. Keluhan tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar Matematika yang rendah pada setiap jenjang pendidikan. Meskipun upaya untuk mengatasi hasil belajar Matematika yang rendah telah dilakukan oleh pemerintah, seperti penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku paket, peningkatan pengetahuan pendidik melalui penataran, serta melakukan berbagai penelitian terhadap faktor-faktor yang diduga mempengaruhi hasil belajar Matematika dirasa belum mencapai hasil yang dihrapkan dengan nilai KKM adalah 70. Berdasarkan data yang penulis dapat di SMP Negeri 11 Batam, bahwa hasil belajar Matematika berdasarkan rata-rata nilai uas dirasa masih rendah
Untuk itu pemberian motivasi kepada peserta didik perlu diberikan karena masih banyak pendidik yang menggunakan bahan ajar yang sering digunakan. Bentuk-bentuk bahan ajar yang sering digunakan seperti buku-buku teks (buku paket) jumlah lembar halamannnya banyak terlihat tebal membuat peserta didik malas membaca dan belajar. Peserta didik merasa bosan dan kurang tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi tidak efisien dan tidak efektif yang berakibat belum optimalnya hasil belajar peserta didik. Melihat peran Matematika yang sangat penting, maka perlu adanya perlakuan khusus agar Matematika tidak lagi menjadi pelajaran yang menakutkan, tetapi sebaliknya belajar Matematika adalah suatu hal yang menyenangkan. Peserta didik perlu alat bantu untuk dapat menguasai bahan pelajaran dengan jelas dan sistematis. Bahan ajar yang disampaikan pendidik sering kali tidak berasal dari satu buku, tetapi berasal dari beberapa sumber buku. Terutama bagi peserta didik yang mempunyai kekurangan dalam penerimaan materi secara lisan. Kebiasaan pendidik yang kurang sistematis perlu diimbangi dengan pengelolaan bahan ajar yang dikembangkan sendiri. Pendidik menyadari bahwa pembelajaran yang menarik, efektif, dan efisien membutuhkan bahan ajar yang inovatif. Ketika bahan ajar dibuat oleh pendidik, pembelajaran akan jauh lebih menarik dan mengesankan bagi peserta didik, sehingga kegiatan pembelajaran tidak menjadi membosankan dan tidak menjadi jenuh. Seorang pendidik dan calon pendidik dituntut untuk dapat berfikir kreatif dalam menentukan metode dan cara dalam melaksanakan tugas mengajar peserta didik, agar tercapai dan terpenuhi apa yang menjadi tujuan pembelajaran. Salah satunya adalah dengan menggunakan bahan ajar yang inovatif.
Komik merupakan salah satu bahan ajar yang inovatif, variatif dan menarik dengan memenuhi tingkat kebutuha peserta didik. Peranan komik sebagai bahan ajar mempunyai peranan yang sangat penting yaitu memiliki kemampuan dalam menciptakan minat belajar peserta didik serta mempermudah peserta didik mengingat materi pelajar yang dipelajarinya. Hal ini dipertegas oleh ilmuan saraf, Le Doux (1994), dalam DePorter (2010) yang mengemukakan komik merupakan media yang tepat untuk proses pembelajaran, karena keterlibatan emosi pembacanya akan sangat mempengaruhi memori dan daya ingat akan materi pelajaran yang didapatkan. Dengan menggunakan bahan ajar komik, maka akan tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan tidak membosankan baik bagi pendidik maupun peserta didik. Bahan ajar komik diharapkan dapat mempermudah peserta didik memahami materi yang diberikan demi tercapainya tujuan pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajaran Matematika yang diharapkan.
Tujuan dalam penelitian ini yaitu: Efektivitas bahan ajar komik terhadap hasil belajar peserta didik kelas VIII pada materi lingkaran di SMP Negeri 11 Batam Tahun Pelajaran 2013/2014 dan Efektivitas bahan ajar komik terhadap motivasi belajar peserta didik kelas VIII pada materi lingkaran di SMP Negeri 11 Batam Tahun Pelajaran 2013/2014.
You must be logged in to post a comment.