Contact Us

Contact Us

Sri Sugiharti
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP UNRIKA Batam
Abstract
This study focuses on the apology used by the English Department Students of unrika, Batam. Te sample can be taken 10 %-15%. So, in this study the writer takes 10 % of the total population. So, the number of sample is 16 students as the respondents of this study .The use of “excuse” is most often used in saying when they come late 56,25%, then use of “sorry” is most frequently used when the respondents do not come to campus. The use of sorry is most often used when the respondents do not assigment75 %. So, the use of “sorry” is the most frequently used in saying of apology
A. Introduction
Language is a means of communications. It means that people use language to communicate with each other. With language man can express his idea and wishes to other people through language such as when he needs their help so that close operation among members of the group can be carried out. According to Wardhaugh (1972:3) language is a system of arbitrary vocal symbol used for human communications. People communicate daily more informal than formal, thus in daily conversations, sometimes we realize or do not realize using slang terms. Most of uses have a good idea of what slang is, and then we can recognize slang words or expression in our native language, and we know when it is appropriate to use them.
B. Definition of the Speech Act and Apology
This part can be grouped into two, namely the definition speech acts and the definition of apology. Those will be explained as follows:
B.1 Speech Acts
Linguistics can be broadly broken into three categories or subfields of study: language form, language meaning, and language in context. Therefore, Pragmatic is a branch of the linguistic study. According to Leech (1983: xi) pragmatics can be stated as a study of a language used in certain time and condition. While speech acts is part of pragmatics. According Austin (1962) views conversation in terms of acts, where language is used to perform actions. He breaks this up into two forms of act: the act of saying something which he terms as a locutionary act and the act of doing something or an illocutionary act. The locutionary act is the basic act of an utterance and it is produced as a meaningful linguistic expression. The illocutionary act is performed via the communicative force of an utterance. In other words, we normally form an utterance with some kind of function in mind. Therefore different communicative acts are performed using different types of utterances. According to Austin (1962) there are 3 types of acts in an utterance. First is the locutionary act which refers to the actual utterances made by the speaker which can be described in linguistic terms (grammar, lexical choice and phonology). Second is the illocutionary act which has much to do with the speaker’s intentions in making the utterance. Illocutionary acts are therefore related to such strategies as to elicit, inform, direct, argue, apologize and so forth. Finally perlocution refers to the result or effect that is produced by the utterance in that given context on the listener – whether or not the listener is persuaded by the argument presented by the speaker.
An illocutionary is an act in which the speaker’s primary concern is that the listener understands the intention made through the utterance. A perlocution is an act in which the speaker expects the listener not only to understand the intention but to act upon it. A proposition designates some quality or association of an object, situation, or event. Propositions can be evaluated in terms of their truth value but almost always have to communicate something more than just the truth of a proposition—the proposition is a truth and therefore the listener should do something in relation to that truth.
According to Renkema (1993:22) states that in performance; such as an act is performed by the utterance itself. And, Searle quoted by Renkema (1993: 23) states that in terms of form and function, this means that a form can only acquire a valid function given certain conditions. In addition, Searle (1975) has set up the following classification of illocutionary speech acts:
B.2 The Notion of Apology
According to Dutschmann(2003) the apology strategies can be coded based on its taxonomies. This classification is based on the speakers’ tendency to take on responsibility (explicitly or inexplicitly) or to reject responsibility for the offense (partly or totally). It includes the following strategies and sub-strategies:
Rahmi
Dosen Tetap Pendidikan Biologi FKIP UNRIKA Batam
Abstrak
Penelitian yang menggunakan metode Quasi Eksperimen ini bertujuan untuk perbedaan kemampuan berpikir kritis mahasiswa padapokok bahasan dinamika populasi pada hewan antara kelas PBL (Problem Based Learning) dengan kelas konvensional, dan mengatahui deskripsi indikator dari kemampuan berpikir kritis mahasiswa padapokok bahasan dinamika populasi pada hewan di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMB. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi semester VI pada tahun akademik 2011/2012. Penguasaan kemampuan berpikir kritis diukur dengan menggunakan tes uraian materi dinamika populasi pada hewan sebanyak lima soal, masing-masing mengukur ketercapaian lima indikator kemampuan berpikir kritis.Analisis data menggunaka uji-t.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas PBL berbeda signifikan pada kemampuan berpikir kritis di bandingkan dengan kelas konvensional dan menggunakan uji-t juga penelitian menunjukkan bahwa dari lima indikator kemampuan berpikir kritis pada indikator melakukan deduksi dan induksi dan melakukan evaluasi tersebut berbeda signifikan dibandingkan dengan indikator yang lain. Kemampuan berpikir kritis yang berbeda signifikan pemilikannya pada mahasiswa yang belajar dengan menggunakan model PBL adalah kemampuan melakukan deduksi dan induksi, serta melakukan evaluasi.Model pembelajaran PBLlebih cocok digunakan pada kemampuan berpikir kritis mahasiswa dan model PBL juga cocok digunakan pada matakuliah yang mempunyai karakteristik yang sama denganpokok bahasan dinamika populasi pada hewan.
Kata kunci : PBLdan Kritis
1. Pendahuluan
Kemampuan belajar, berpikir kreatif, membuat keputusan, dan memecahkan masalah akan banyak dibutuhkan dalam mencari pekerjaan. Permasalahan yang timbul adalah pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal.Termasuk mata pelajaran biologi. Disisi lain adanya banyak fakta bahwa guru menguasai materi suatu subjek dengan baik tetapi tidak dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan baik. Hal itu terjadi karena kegiatan tersebut tidak didasarkan pada model pembelajaran tertentu sehingga hasil belajar yang diperoleh siswa rendah(Salpeter dalam Anggraeni, 2006).
Menurut Henik (dalam Suryadi, 2011) mengatakan guru selama ini lebih banyak memberikan ceramah dan latihan mengerjakan soal-soal dengan cepat tanpa memahami konsep secara mendalam. Hal ini menyebabkan siswa kurang terlatih untuk mengembangkan daya nalarnya dalam memecahkan permasalahan dan mengaplikasikan konsep-konsep yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang dapat berkembang dengan baik.
Faktor – faktor yang diprediksi mempengaruhi rendahnya prestasi siswa adalah : bahan ajar, media pembelajaran, kemampuan siswa, semangat dan motivasi siswa, kemampuan guru, dan strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru. (Sardjono, dalam Hermelly, 2011)
Studi pendahuluan dilakukan terhadap mata kuliah ekologi hewan menunjukan bahwa nilai rata-rata pada tahun 2011-2012 dari seluruhmahasiswa diperoleh nilai 6,53. Hal ini perlu ditingkatkan menjadi sebaliknya, Adapun faktor yang diduga menjadi penyebabnya adalah 1) pembelajaran lebih ditekankan pada pengumpulan pengetahuan tanpamempertimbangkan keterampilan proses dan pembentukan sikap dalam pembelajaran, 2) kurangnya kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan bernalarnya melalui diskusi kelompok, 3) Sasaran belajar ditentukan oleh dosen sehingga pembelajaran menjadi kurang bermakna bagi mahasiswa (Hasil Evaluasi Semester Ekologi Hewan, 2011/2012).
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membedakankemampuan berpikir kritis mahasiswa yang memperoleh pembelajaran antara PBL dengan kelas konvensional pada pokok bahasan dinamika populasi pada hewan.Selain itu juga membedakan penguasaan indikator kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara PBL dengan konvensional.
3. Metodologi
Metode penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen, karena dalam desain ini mempunyai kelompok kontrol tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Sugiyono, 2008).
Penelitian ini dilaksanakan di Program Studi S-1 Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Semester VI tahun ajar 2011/2012 Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMB, terbagi dalam 5 kelas, VIA, VIB, VIC dan VID.Sampeldalam penelitian ini sebanyak 53 orang mahasiswa yang terdiri dari 29 orang mahasiswa pada kelasPBLdengan 24 orang mahasiswa pada kelas konvensional. Sampel penelitian ini menggunakan dua kelas yaitu kelas semester VIA sebagai kelas PBL dan kelas semester VIE sebagai kelas konvensional.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel bebas adalah model pembelajaran PBL dan diskusi, sedangkan variabel terikat adalah kemampuan berpikir kritis.
Pengumpulan data diperoleh dari hasil tes kemampuan berpikir kritis yang diambil dari pretes maupun postes.Penguasaan kemampuan berpikir kritis diukur dengan menggunakan tes uraian materi dinamika populasi pada hewan lima soal, masing-masing mengukur ketercapaian lima indikator kemampuan berpikir kritis. Indikator kemampuan berpikir kritis yang digunakan untuk mengembangkan intrumen menggunakan modifikasi empat indikator kemampuan berpikir kritis dari Ennis.Pada setiap jawaban pada kemampuan berpikir kritis diberikan kriteria pensekoran 0-4 untuk jawaban sempurna.Analisis data menggunaka uji-t melalui Teknik SPSS-17.0.
4. Hasil dan Pembahasan
4.1. Hasil Penelitian
Kemampuan berpikir kritis yang diukur dalam penelitian ini meliputi lima indikator, yakni kemampuan merumuskan masalah, memberikan argumentasi, melakukan deduksidan induksi, melakukan evaluasi, serta mengambil keputusan dan tindakan. Kemampuan berpikir kritis mahasiswa ditinjau dari rata-rata postes, mahasiswa antara kelas PBL dengan konvensional, berturut-turut adalah : 14,69 dan 12,08 dengan standar deviasi berturut-turut 1,56 dan 1,74. Dengan memperhatikan hasil uji data postes, peningkatan rata-rata dan standar deviasi antara kelas PBL dengan kelas konvensional, maka dapat disimpulkan bahwa berbeda kemampuan berpikir kritis mahasiswa antara kelas PBL dengan kelas konvensional.
FITRI YANTI
Dosen Tetap Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Riau Kepulauan
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1). Pengaruh secara bersama-sama budaya organisasi, pengalaman mengajar dan tingkat pendidikan terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan Batam, (2). Pengaruh budaya organisasi terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan Batam, (3). Pengaruh pengalaman mengajar terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan Batam, (3). Pengaruh tingkat pendidikan terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan Batam.
Penelitian ini menggunakan metode survey dengan pendekatan kuantitatif yang dilakukan di Universitas Riau Kepulauan Batam. Populasi dalam penelitian ini adalah dosen tetap Universitas Riau Kepulauan Batam sebanyak 110 orang. Sedangkan sampelnya sebanyak 86 orang yang ditentukan dengan teknik proporsional simple random sampling berpedoman pada penentuan atau pendekatan Formula Taro Yamane. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah angket. Teknik analisis data menggunakan analisis regresi ganda dengan prasyarat uji analisis menggunakan uji normalitas, linieritas dan uji multikolinieritas.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa (1). terdapat pengaruh positif dan signifikan variabel budaya organisasi, pengalaman mengajar dan tingkat pendidikan terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan Batam dengan sumbangan efektif sebesar 62,25% sehingga ada 37,75% yang tidak dapat dijelaskan dalam penelitian ini yang disumbangkan dari faktor lain. (2). Budaya organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan Batam dengan sumbangan sebesar 62,25% artinya budaya organisasi dibangun secara efektif antara dosen dengan dosen, dosen dengan pimpinan serta dosen dengan mahasiswa. (3). Pengalaman mengajar tidak berpengaruh signifikan terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan artinya pengaruh pengalaman mengajar terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan masih relative kecil dengan sumbangan efektifnya sebesar 2,01%. (4). Tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan artinya pengaruh tingkat pendidikan terhadap profesionalisme dosen masih relatif kecil dengan sumbangan efektif sebesar 1,46%.
Kata kunci: budaya organisasi, pengalaman mengajar, tingkat pendidikan, profesionalisme
PENDAHULUAN
Pendidikan yang berkualitas merupakan modal dasar sekaligus menjadi kunci keberhasilan pembangunan nasional. Hal ini telah dibuktikan oleh beberapa negara maju dan negara tetangga seperti Singapura, Thailand dan Korea Selatan. Ketiga Negara tersebut kini telah berkembang menjadi negara industri baru di Asia, bukan karena kekayaan alamnya, tetapi karena mutu tenaga kerjanya. Bila sumberdaya manusia Indonesia dalam jumlah besar seperti saat ini dapat ditingkatkan mutunya, maka diharapkan dalam waktu yang relative singkat, kehidupan masyarakat Indonesia dapat tumbuh secara mantap dan memberikan tingkat pendapatan nasional yang relative tinggi. Oleh karena itu, tantangan utama yang dihadapi sekarang ini dan untuk masa yang akan datang adalah mempersiapkan tenaga-tenaga kerja yang berkualitas terutama pelaksana pendidikan, bukan saja yang mampu dan terampil melakukan pekerjaan, tetapi juga mempunyai inovasi dan kreatifitas tinggi, serta mempunyai daya analisis yang jauh kedepan.
Dunia pendidikan memproduksi tenaga-tenaga yang berkualitas untuk berbagai jenis dan tingkatan keahlian. Dunia pendidikan khususnya pendidikan tinggi menghasilkan sarjana, yaitu tenaga-tenaga terpilih yang siap menjadi dinamisator pembangunan. Gerak dan laju pembangunan banyak ditentukan oleh jumlah mutu, kemampuan dan kesesuaian antara lulusan pendidikan tinggi dan kebutuhan nyata yang akan diserap oleh lapangan pekerjaan. Dunia pendidikan harus mampu mengeluarkan tenaga yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Secara umum disebutkan bahwa program pendidikan disemua tingkat harus direncanakan berdasarkan kebutuhan tenaga kerja yang jelas (educational planning based on manpower requirements). Di pihak lain, dunia pendidikan juga dipengaruhi oleh permintaan masyarakat (social demand), walaupun permintaan masyarakat akan pendidikan tidak selalu sesuai dengan kebutuhannya.
Berbagai permasalahan kemudian timbul sehubungan dengan mutu pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Pada akhir tahun 2004, data pendidikan dunia menunjukkan terjadinya keterpurukan dan kemorosatan pendidikan tinggi di Indonesia. Dari data 500 pendidikan tinggi yang ada di dunia, tidak ada satupun pendidikan tinggi di Indonesia yang menjadi pendidikan tinggi terbaik (Efendi, 2005:43).
Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah tingkat profesionalisme pendidik, kurikulum dan fasilitas sarana dan prasarana. Analisis data terakhir menunjukkan bahwa “pendidik/dosen” merupakan faktor kunci yang paling menentukan karena proses kegiatan belajar mengajar ditentukan oleh pendidik dan peserta didik (Falah Yunus, 2005:3). Hal ini mencerminkan betapa pentingnya peran pendidik (dosen) dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi.
Kota Batam sebagai kota industri juga mempunyai spirit yang kuat untuk mengembangkan pendidikan. Ini terbukti cukup banyak pendidikan tinggi yang eksis di daerah ini salah satunya adalah Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA). Namun berdasarkan pengamatan penulis dosen-dosen di pendidikan tinggi ini sebagai tenaga profesional perlu lebih mengenal profesinya. Tidak sedikit dosen yang datang untuk mengajar tidak melakukan persiapan, bahkan untuk menyerahkan rencana pembelajaran kegiatan persemester (rpkps) ke mahasiswa pada awal perkuliahaan masih ada dosen yang menunda-nunda.. Di lain pihak, ada pula dosen yang hanya memberikan sejumlah bahan ajar dengan tidak mengindahkan apakah bahan itu dapat dipahami mahasiswa/peserta didiknya atau tidak, yang penting bahan ajar selesai diberikan. Ada juga dosen yang hanya mementingkan ilmu pengetahuan yang memberikan ilmunya ke peserta didik dengan tidak memikirkan apakah ilmu itu sesuai untuk diberikan atau tidak. Ada pula dosen yang menganggap dirinya paling pandai serta sebagai sumber kekuasaan sehingga apa yang dikatakannya itu adalah benar dan peserta didik harus mematuhinya. Padahal, dalam kenyataannya ilmu pengetahuan itu berkembang dan sumber informasi pun berkembang sehingga dosen bukan satu-satunya sumber informasi.
Permasalahan lainnya adalah masih rendahnya minat dosen untuk melakukan riset ilmiah karena keterbatasan pengetahuan , dana, serta daya saing. banyak dosen yang menghindarkan diri dari tugas utamanya sebagai pendidik dengan berbagai cara untuk menutupi kekurangannya. Misalnya dengan menerapkan “despotisme ilmiah” karena tidak mampu mengatasi dialog kritis dengan mahasiswa/peserta didik, lari dari topik utama perkuliahan untuk menghabiskan waktu karena tidak menguasai materi, atau memberi penugasan kemudian membiarkan para mahasiswa/peserta didik berdebat sendiri dengan alasan melatih mereka berdiskusi.
Kemudian dosen kebanyakan merasa sudah puas dengan gelar magister atau master yang didapat ataupun ada yang berkeinginan melanjutkan studi terikat dengan pekerjaan dan kebanyakan dosen telah bekerja di instansi lain sehingga terjadi “ambigu pekerjaan” dan sangat berpengaruh terhadap budaya kerja organisasi di kampus sehingga status dosen di Unrika dikelompokkan menjadi dosen tetap fulltime dan dosen tetap partime serta dosen tidak tetap (dosen luar biasa) sehingga penciptaan organisasi kampus yang baik belum kondusif. Hal inilah yang menjadi latar belakang penelitian tentang pengaruh budaya organisasi, pengalaman mengajar dan tingkat pendidikan, terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan Batam. Tahun ajaran 2012/2013.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama budaya organisasi, pengalaman mengajar dan tingkat pendidikan terhadap profesionalisme dosen Universitas Riau Kepulauan Batam.
Paulus Roy Saputra, Rusgianto
Dosen Tetap Prodi Pendidikan Matematika FKIP UNRIKA Batam
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan keefektifan pembelajaran geometri berbantuan cabri dan pembelajaran geometri berbantuan geogebra ditinjau dari prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy siswa SMP. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu desain pretest-posttest non equivalent group design. Penelitian ini menggunakan dua kelompok eksperimen tanpa kelompok kontrol. Populasi penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas VII SMP Santa Maria Banjarmasin. Sampel dua kelas, yaitu kelas VIIA dan kelas VIIB ditentukan secara acak. Kelas VIIA menggunakan pembelajaran geometri berbantuan cabri dan kelas VIIB menggunakan pembelajaran geometri berbantuan geogebra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditinjau dari prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy siswa: (1) pembelajaran geometri berbantuan cabri efektif, (2) pembelajaran geometri berbantuan geogebra efektif, (3) terdapat perbedaan pembelajaran geometri berbantuan geogebra dan cabri; (4) pembelajaran geometri berbantuan geogebra lebih efektif dari pembelajaran geometri berbantuan cabri.
Kata Kunci : cabri, geogebra, prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy
Pendahuluan
Pemerintah memberikan prioritas yang tinggi pada perkembangan sektor pendidikan, didasarkan pada asumsi bahwa melalui pendidikan pembangunan bangsa Indonesia akan berhasil dengan baik. Didukung dari hasil minyak bumi, gas alam, kekayaan hewani, dan kekayaan hayati tanpa sentuhan tehnologi tentulah tidak dapat dikembangkan secara maksimal. Sentuhan teknologi ini dimulai dari tingkat awal sampai yang tertinggi. Utamanya untuk memiliki kompetensi tehnologi tingkat tinggi diperlukan warga negara yang memiliki pendidikan tinggi pula. Namun dibalik perkembangan itu, warga negara Indonesia tersebut di atas, masih menghadapi permasalahan yang berat, yaitu kualitas sumber daya manusianya sampai saat ini masih di bawah negara-negara tetangga.
Hal yang disebut di atas, bisa dilihat pada salah satu kualitas kemampuan siswa menengah pertama dalam matematika di Indonesia pada skala internasional yang cukup memprihatinkan. Fakta ini bersumber dari Programme for International Student Assessment (PISA, 2009: 135). Penelitian ini tujuannya untuk perbandingan atau benchmarking literasi matematika di berbagai negara di dunia. Menempatkan posisi Indonesia pada ranking 61 dari 65 negara partisipan. Fakta lainnya yang cukup memprihatinkan, bersumber dari hasil riset Global Creativity Index (GCI, 2011:41). Penelitian ini melakukan perbandingan kreatifitas dalam berbagai inovasi dan tehnologi diberbagai negara di dunia. yang menempatkan posisi Indonesia di 81 dari 82 negara yang menjadi partisipan.
Banyak faktor yang diduga sebagai penyebab masih rendahnya kualitas kemampuan matematika siswa sekolah. Salah satunya adalah pembelajaran matematika yang masih dianggap sulit oleh siswa. Contohnya, salah satu materi yang cukup sulit dalam pembelajaran matematika adalah geometri. Hal tersebut terungkap dari Persentase Penguasaan Materi Soal Matematika, ujian Nasional sekolah SMP Santa Maria Banjarmasin. Bisa di lihat pada tabel 1. Daya serap siswa terhadap materi bangun datar :
Tabel 1
Hasil Ujian Nasional Matematika di SMP Santa Maria Banjarmasin
Pada tabel 1 di atas menunjukkan bahwa prestasi belajar pada geometri khususnya materi bangun datar segi empat dan segitiga mulai dari tahun hasil UN 2008-2010 masih berada di bawah standar KKM pada sekolah SMP Santa Maria Banjarmasin yaitu 70.
Berdasarkan hasil wawancara, guru matematika SMP Santa Maria Banjarmasin mengatakan bahwa pembelajaran geometri termasuk pembelajaran yang sulit bagi siswanya. Khususnya pada materi bangun datar (segi empat dan segitiga). Salah satu faktor yang cukup menjadi pertimbangan adalah faktor usia anak yang masih baru saja lulus dari sekolah dasar. Pada usia seperti itu siswa masih tahap pengalaman pictorial/gambar (iconic), yang mana masih sangat membutuhkan visualisasi spasial melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik untuk memahami bentuk geometri secara jelas.
Faktor lainnya, pokok bahasan bangun segitiga dan segi empat merupakan pokok bahasan terakhir pada semester II, sehingga banyak mengaitkan konsep materi sebelumnya yang berkaitan. Selain itu juga, siswa sering terbalik dalam memahami sifat-sifat bangun datar dalam bangun segi empat. Salah satu contohnya, pemahaman sifat-sifat pada persegi dan belah ketupat yang mirip (sisi-sisi yang berdekatan sama panjang) sehingga menyamakan bangun persegi adalah belah ketupat. Dalam proses pembelajaran matematika, guru juga masih menggunakan peralatan seadanya seperti busur, penggaris, dan papan tulis untuk menjelaskan materi, hal ini juga menjadi faktor penting dimana minimnya inisiatif guru menyediakan media belajar/alat bantu dalam mengatasi permasalahan yang terjadi antara kebutuhan visualisasi spasial kepada siswa, faktor umur anak, dan pentingnya penggunaan media belajar yang mampu memberikan pemahaman yang lebih luas kepada anak.
Mengamati proses belajar mengajar di lapangan, guru juga masih menerapkan pembelajaran konvensional, umumnya guru lebih mendominasi proses belajar mengajar sehingga pembelajaran cenderung monoton yang menyebabkan siswa merasa jenuh dan tidak menarik. Hal ini juga berakibat, minimnya pengalaman yang bermakna dibenak siswa untuk bisa memahami konsep bangun segitiga dan segi empat. Selain itu juga guru belum menerapkan pembelajaran yang memacu siswa untuk berpikir kreatif. Alasannya karena guru harus dikejar oleh waktu untuk menyelesaikan kurikulum yang diformalkan, sehingga tidak cukup waktu untuk melaksanakan.
Yulian Sari
Prodi Pendidikan Matematika Universitas Riau Kepulauan
Artikel ini mengkaji solusi atau penyelesaian sistem persamaan differensial linier homogen orde satu
(1)
dimana yaitu agar selalu bernilai nonnegatif. Untuk sistem (1) dengan , jika matriks A adalah eksponensial positif eventual, maka solusi untuk sistem tersebut dinamakan sebagai solusi positif eventual. Sifat-sifat agar matriks adalah matriks eksponensial positif eventual digunakan dalam pembahasan. Artikel ini merupakan kajian kembali tentang syarat cukup dan menambahkan hasil analisis tentang syarat perlu agar solusi adalah solusi positif eventual dengan adalah adalah matriks positif eventual untuk suatu .
Kata Kunci : solusi positif eventual, matrik eksponensial positif eventual, differensial linier homogen orde satu.
Diberikan suatu sistem persamaan diferensial linier homogen orde satu sebagai berikut.
(1)
dimana dan . Dalam literatur [2] dinyatakan bahwa solusi sistem (1) adalah
. (2)
Perlu diperhatikan bahwa solusi (2) dapat bernilai nonnegatif atau negatif. Salah satu cara agar bernilai nonnegatif adalah dan . Dalam situasi tertentu, tidak selalu positif untuk setiap . Matriks yang mempunyai sifat ada sedemikian sehingga disebut sebagai matriks eksponensial positif eventual [2]. Untuk sistem (1) dengan , jika matriks A adalah eksponensial positif eventual, maka solusi untuk sistem tersebut dinamakan sebagai solusi positif eventual [3].
Syarat cukup bagi solusi sistem (1) adalah solusi positif eventual telah dikaji dalam [1]. Tulisan ini memaparkan kembali syarat cukup tersebut dan menambahkan syarat perlu agar solusi sistem (1) adalah solusi positif eventual.
Definisi 1. [1] Untuk sebarang matriks ,
didefinisikan sebagai matriks eksponensial dari A, dimana , dan adalah matriks identitas.
You must be logged in to post a comment.